Bima Gunarta, Produsen dan Penyelenggara Diklat
Kompas, Senin, 11 Oktober 2004
Bisnis & Investasi
BERBAGAI kiat ditempuh pelaku usaha kecil menengah di negeri ini agar bisa bertahan hidup. Agar produk lokal seperti mesin pengolah produk pertanian dan perkebunan tidak tersisih di dalam negeri, bukan hanya mutu barang yang perlu dijaga, tetapi sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pembuatan produk harus terus digenjot.
Untuk kebutuhan itu, sangat penting menambah ilmu pegawai penyuluh lapangan (PPL), pelaku usaha baru, dan konsumen menyangkut seluk-beluk mesin pengolah melalui program pendidikan dan pelatihan (diklat).
Seperti pasangan suami istri MA Bima Gunarta (49) dan Yani Gunarta (44), pemilik UD Reka Yasa yang memproduksi sekitar 200 jenis mesin pengolah produksi pertanian dan perkebunan. Di tempat usaha yang berlokasi di Jalan Kaliurang Kilometer 16,2 Pakem, Sleman, Yogyakarta, ini tersedia penginapan bagi peserta diklat.
"Peserta diklat tidak hanya belajar di ruangan, tetapi praktik langsung dengan pekerja di bengkel untuk membuat berbagai mesin hingga mengolah produk sampingan," kata Bima, yang mengawali usaha tersebut sejak tahun 1987 itu.
Usaha ini, kata Bima, yang didampingi istrinya Yani Gunarta sebagai tenaga pemasaran, awalnya cuma bengkel kecil bermodalkan Rp 500.000. Dengan modal awal sebagai cikal bakal usaha itu, kini omzet setiap bulannya sudah mencapai ratusan juta rupiah, diperoleh dari kucuran kredit Bank Rakyat Indonesia (BRI).
"Saya terus belajar menciptakan mesin pengolah berbagai produksi pertanian dan perkebunan yang berkualitas dengan harga lebih murah dari buatan impor. Niatnya, bagaimana merekayasa sebuah mesin dengan biaya murah sehingga terjangkau oleh petani dan mudah dioperasikan," kata Bima, ayah dari tiga anak itu.
Untuk mendapatkan model mesin pengolah, Bima pun terus melakukan modifikasi dan inovasi. Ia memperkenalkan hasil karya bersama 60 karyawannya melalui berbagai kesempatan pameran. "Sekarang mesin pengolah apa pun yang dipesan, asal ada gambar atau sketsa, bisa dikerjakan di bengkel ini dan semua suku cadang ada karena semua mesin yang bergaransi," ujar Bima.
Dalam memasarkan produk, selain lewat pameran, Yani mendatangi langsung calon pembeli, terutama pelanggan lama, di berbagai daerah. "Saya lebih mantap bertemu dan transaksi langsung di tempat sehingga saya harus ke Medan, Pekan Baru, dan beberapa daerah lain sesuai alamat pemesan. Memang teknologi informasi sudah canggih dan cepat, tetapi lebih pas kalau bicara langsung biar pesanan tidak melenceng," kata Yani.
Mesin pengolah produk pertanian dan perkebunan yang paling lama penggarapannya adalah mesin pengolah minyak sawit mentah (CPO), yakni dua bulan. "Pengolah CPO ini makin banyak pemesannya karena mutu terjamin dan jika ada gangguan, teknisi dari Yogyakarta langsung memperbaiki. Lagi pula mesin dipasang di tempat dan mereka baru kembali ke Yogyakarta kalau mesin benar-benar sudah beroperasi tanpa gangguan," ujar Yani.
MAKIN beragamnya mesin yang dibuat, mendorong pasangan suami istri itu sejak empat tahun lalu menyelenggarakan program diklat. Menggelar diklat di tempat usaha bukan mencari keuntungan bisnis semata, tetapi untuk meningkatkan keterampilan pihak terkait dengan mesin pengolahan.
Instruktur pendidikan dan pelatihan tidak hanya Bima bersama istrinya, tetapi juga mengundang pakar mesin, ahli pengolahan ampas produk untuk diolah kembali. Misalnya, sampah CPO jadi sabun atau produk lain. Biasanya untuk membimbing peserta diklat, Bima mengundang instruktur sesuai bidangnya dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta atau pejabat di perusahaan yang berkaitan dengan industri pengolahan produk pertanian dan perkebunan, termasuk dari instansi pemerintah seperti dinas pertanian dan dinas perindustrian.
Tanpa diklat, kata Bima, sulit bagi pelaku industri pengolahan untuk berkembang karena teknologi mesin makin canggih. Pembuatan mesin pengolah memang digarap dengan cara yang sederhana.
"Meski buatan lokal, kecanggihannya tidak kalah dengan barang impor, bahkan sering konsumen lokal tidak tertarik menggunakan mesin pengolahan buatan luar negeri karena sulit mendapat suku cadang. Sementara kami meski jago kandang, kualitas terjamin karena selain suku cadang selalu tersedia, perawatan after sale- nya lengkap," ujar Bima Gunarta menegaskan.
Pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang masih mengandalkan kredit bank untuk mengembangkan usahanya itu tetap optimistis pasar lokal mesin pengolahan produk pertanian dan perkebunan masih potensial. "Kami tetap mengutamakan pasar lokal, agar petani bisa memiliki mesin pengolah sendiri, bukan tergantung kepada pemilik mesin. Sebab, jika petani mengolah sendiri hasil kebun, nilai produk pasti bertambah," kata Yani.
Bukan seperti sekarang, karena harga mesin pengolah impor relatif mahal, petani menjual hasil produk tanpa melalui pengolahan. Akibatnya adalah harga hasil bumi masih saja tetap rendah. (AGNES SWETTA PANDIA)
No comments:
Post a Comment