Wednesday, March 30, 2005

Rahayu, Memanfaatkan Peluang Bisnis Salon "Door to Door"

Kompas, Senin, 10 Januari 2005
Bisnis & Investasi



Salon tidak selalu sebuah ruangan dengan berbagai poster model rambut, dilengkapi dengan kursi, meja, serta cermin. Salon juga bisa dikemas dalam sebuah tas kecil. Hal inilah yang dilakukan Rahayu S Purnami (27).

Suatu siang, ia berjalan memasuki sebuah permukiman di kawasan Muararejeun, Bandung. Sebuah tas tercangklong di bahu kanannya. Tangannya menjinjing sebuah tas berisi alat rias. Ia baru saja mendapat panggilan untuk merawat seorang ibu yang mengaku malas pergi ke salon. Tas itu berisi alat-alat salon untuk merawat tubuh. Ada perlengkapan facial, lulur, manikur-pedikur, creambath, sampai pijat. Rahayu juga membawa kemben, handuk kecil, panci kecil untuk aroma terapi, dan sebuah kompor listrik. Yang tidak ada hanya perlengkapan memotong rambut karena ia belum memberi layanan itu.

Yayuk, panggilan Rahayu, mencoba mengemas salon menjadi lebih praktis. Ia sudah mempelajari jauh hari sebelum memulai usaha layanan salon ke rumah atau sistem door to door. Di Inggris, tutur Yayuk, usaha ini sudah berkembang sejak lama. Leo Palladino dan John Perry dalam bukunya, Hair Dressing Management, sudah menyebutkan home visiting salon atau layanan salon ke rumah sebagai salah satu jenis salon.

Sebuah salon juga tidak selalu memerlukan alat-alat yang besar. Dengan beberapa teknik tertentu, perawatan tubuh bisa dilakukan dengan alat yang lebih sederhana dan praktis. Untuk mengangkat lemak saat facial atau pembersihan kotoran di wajah, pap-ozone atau alat penghasil uap bisa diganti dengan air mendidih di panci kecil yang ditetesi aroma terapi.

Untuk mengangkat lemak dari tubuh setelah lulur atau pijat, tidak selalu dibutuhkan ruang penguapan yang biasanya terbuat dari terpal. Cukup dengan teknik pemijatan tertentu, lemak ikut terangkat. Setelah itu, tubuh dibersihkan dengan handuk hangat. Cara ini lebih nyaman, bersih, dan praktis. Hal yang sama bisa diterapkan untuk creambath.

"Saya pilih usaha layanan salon ke rumah karena melihat potensi yang cukup besar untuk mengembangkan usaha ini di Bandung," kata Yayuk. Kemacetan yang terjadi di Bandung justru menjadi berkah buatnya.

Berdasarkan pengalamannya mengelola sebuah salon selama tiga tahun, pelanggan kerap mengeluh malas ke salon karena tidak mau terjebak macet, apalagi Kota Bandung sekarang sudah seperti Jakarta yang selalu macet setiap hari. Mereka juga malas antre, terutama pada saat hari libur.

Itu sebabnya Yayuk merasa yakin usaha layanan salon ke rumah akan banyak peminat. Agustus 2004, bisnis ini mulai dijalankan Yayuk. Sebelumnya ia selama tiga tahun menjadi manajer sebuah salon di Bandung. Karena perbedaan visi, lulusan Farmasi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini keluar dari pekerjaannya. Namun, ia sudah memutuskan untuk wirausaha.

Penggemar ilmu manajemen, kepemimpinan, dan kosmetik ini membuka usahanya dengan modal Rp 1 juta. Modal tersebut ia pakai untuk membeli alat- alat salon dan kosmetik. Ia juga memasang iklan di sebuah harian setiap Sabtu dan Minggu.

AGUSTUS 2004, jalannya nasib mulai ditentukan oleh Yayuk sendiri. Hari pertama memasang iklan, telepon selulernya sudah berbunyi. Beberapa orang memintanya datang ke alamat penelepon yang meminta berbagai layanan salon. Dalam empat bulan, Yayuk sudah memiliki 32 pelanggan. Para pelanggan ini rutin memanggilnya setiap minggu, sisanya berlangganan setiap bulan. Setiap Sabtu dan Minggu biasanya ia mendapat pelanggan baru.

Yayuk memasang harga Rp 25.000 hingga ratusan ribu rupiah untuk perawatan lengkap. Selain layanan pijat, manikur-pedikur, lulur, facial, serta creambath, ia juga melayani pewarnaan dan pelurusan rambut. Dalam dua bulan, modalnya sudah kembali, bahkan pengusaha salon "ritel" ini bisa menikmati keuntungan. Biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan hanya Rp 210.000 untuk memasang iklan sebanyak delapan kali dalam sebulan.

Iklan ia ibaratkan sebagai rumah salonnya. Lewat iklan, orang bisa mengetahui di mana salon Yayuk dan bagaimana menghubunginya. "Biaya untuk memasang iklan jauh lebih murah ketimbang menyewa sebuah ruangan untuk dijadikan tempat usaha di Kota Bandung," tutur Yayuk.

Di Kota Bandung, menyewa sebuah ruangan strategis untuk sebuah salon paling murah Rp 23 juta per tahun, sementara dengan memasang iklan ia cukup mengeluarkan Rp 2,5 juta selama setahun. "Kalaupun sudah memiliki rumah salon, belum tentu ada tamu yang datang," ucap Yayuk.

Dengan sistem itu, penghematan juga bisa dilakukan. Jika pemilik rumah salon mutlak harus menyediakan biaya air dan listrik, usaha jasa salon yang dilakukan Yayuk tidak memerlukan hal tersebut karena pelayanan salon dilakukan di rumah konsumen.

Banyak konsumennya yang fanatik dengan berbagai merek kosmetik. Biasanya mereka akan bertanya kosmetik yang digunakan di salonnya. Jika tidak cocok, konsumen biasanya akan menawarkan untuk menggunakan kosmetik pribadinya.

Setelah bisnisnya berjalan beberapa minggu, Yayuk makin yakin peluang bisnis salon door to door ini menjanjikan. Optimisme itu muncul karena beberapa orang kaya di Bandung yang akhirnya menjadi pelanggannya memiliki kamar khusus untuk merawat diri. Kamar itu dilengkapi peralatan salon, begitu juga dengan furniturnya. Rupanya mereka lebih suka memanggil pegawai di salon langganannya untuk merawat tubuh dan wajah mereka di rumah.

"Saya menerima panggilan merawat tubuh dari orang- orang yang tinggal di gang-gang hingga perumahan elite," ujar Yayuk. Konsumen yang memanggil salon ke rumah umumnya sangat memerhatikan kebersihan, terutama untuk lulur dan pijat. Biasanya ruang penguapan di salon kotor dan bau karena sering dipakai dan selalu dalam keadaan lembab.

Selain itu, kenyamanan dengan privasi lebih tinggi juga bisa dirasakan di rumah. Konsumen bisa dirawat sambil menonton televisi sesuai dengan program yang diinginkan dan juga bisa sambil mengobrol dengan keluarga. Ibu yang memiliki anak kecil bisa sambil mengawasi anak-anaknya.

>small 2small 0< yang menjadi pelanggan Yayuk berasal dari berbagai macam usia, mulai dari anak umur 4 tahun hingga 73 tahun. Menghadapi konsumen yang berbeda latar belakang usia, pendidikan, dan ekonomi membuat Yayuk harus terus menambah pengetahuan.

"Saya harus bisa berbicara sesuai minat orang lain," ujar Yayuk yang merasa beruntung karena bisa mempelajari perilaku dan karakter berbagai orang lewat pekerjaannya.

Yayuk tidak menampik bisnis ini sering dikonotasikan kurang baik sebab layanan salon juga identik dengan prostitusi terselubung. Ia sendiri sering menjadi korban. "Malam-malam sering ada lelaki menelepon saya untuk minta layanan pijat, saya tolak," katanya, yang hanya melayani konsumen perempuan. Dia hanya mau mengajari pelanggannya cara melakukan perawatan salon untuk suami atau anak lelakinya.

"Ibu rumah tangga yang punya keterampilan penyalonan juga bisa membuka usaha seperti ini sebab modalnya kecil dan leluasa membagi waktu," ungkap Yayuk yang sering prihatin melihat kaum perempuan yang bekerja di salon mulai dari pagi hingga menjelang malam dengan upah yang tidak mencukupi.

Sebuah ide usaha yang praktis dan menarik. (Y09)

Tuesday, March 29, 2005

Hedi Yamasari, Lukisan Kaca Bisnis Sekaligus Hobi Keluarga

Kompas, Senin, 17 Januari 2005
Bisnis & Investasi



KETERAMPILAN apa yang unik namun bisa diajarkan cepat dan dijual cepat pula? Pertanyaan itu memenuhi benak Hedi Yamasari (32) setahun lalu, tepatnya menjelang Lebaran 2003. Saat itu ia ingin sekali membantu suaminya yang bekerja di sebuah kantor pemerintahan yang ditugasi mempersiapkan parsel Lebaran.

"Masak, dengan uang satu juta rupiah, isi parsel hanya buah-buahan," kata Ny Hedi protes kepada suaminya, Erick M Atthourick (33).

Kekecewaan itulah yang mendorong Hedi terus mencari ide agar bisa membuat parsel yang unik dan lebih berharga, serta bisa dia kembangkan untuk menjadi lahan bisnis yang menarik.

Perempuan lulusan strata-2 bidang hukum Universitas Parahyangan ini mengangankan bisa berwirausaha. "Tadinya saya berencana ingin menjadi dosen," ujarnya. Namun, keinginan itu diurungkan karena ia belum memiliki pembantu di rumah, di sisi lain pada saat itu anak-anak masih sangat membutuhkan keberadaannya.

"Jadi, saya pikir berbisnis di rumah akan lebih baik, selain bisa menambah uang untuk jajan anak-anak juga bisa membunuh rasa jenuh," ucapnya.

Di tengah keinginan menjadikan rumah sebagai kantor, tempat usaha, sekaligus inspirasi bagi idenya yang pas, muncul temannya yang memberikan saran agar Hedi belajar melukis di atas kaca yang mudah sekali cara pengerjaannya. Saran itu pun ia pikirkan. Lalu ia pun berkata dalam hati, ide itu bagus, kenapa tidak dicoba. Hedi pun mengikuti saran tersebut, dan ternyata benar. Hanya dengan empat kali datang untuk belajar, Hedi sudah dapat membuat sebuah karya.

Untuk parsel, Hedi mengembangkan idenya. "Saya terus mencari media yang berbahan kaca, namun mudah dilukis dan bermanfaat bagi penggunanya," ungkapnya.

Mungkin sudah suratan takdir, kata Hedi mengenang bagaimana awalnya ide itu ia implementasikan. Menurut Hedi, siapa sangka ide cemerlang itu datang saat ia tengah mengantar anaknya membeli ikan di sebuah toko ikan hias. Barisan akuarium yang terpajang di sana membuat Hedi tertarik dan ingin menjadikannya sebagai pengganti keranjang untuk meletakkan toples-toples kue, sekaligus vas bunga.

Hedi pun membeli beberapa buah akuarium berbagai bentuk, seperti lingkaran atau elips. Gelas akuarium itu dia lukis. Setelah lukisan selesai dibuat, baru dimasukkan toples-toples kue. Nah, agar gelas akuarium itu menarik, di mulutnya diberikan hiasan pemanis dari bunga-bunga lontar.

Glass art atau seni melukis di atas kaca ada tiga jenis. Fun and fancy merupakan cara melukis di atas kaca dengan cat khusus di mana hasil lukisan akan menjadi lebih berkilau.

Lukisan pun bisa dilepas seperti stiker. Jika bosan dengan media kaca, lukisan bisa dilepaskan dari kaca dan dipindahkan ke media lain seperti porselen dan aluminium.

Jenis lainnya adalah deco-art, yaitu melukis di atas kaca dengan kuas dan lukisan di atas kaca yang hasilnya mirip kaca patri. "Kata guru saya, yang hasilnya seperti kaca patri itulah glass art sesungguhnya," kata Hedi.

Hedi memilih fun and fancy karena pasarnya sangat luas. "Anak-anak taman kanak-kanak sampai ibu-ibu menyukainya," ujarnya.

Hedi yang juga memiliki toko hadiah di rumahnya di kawasan Buahbatu, Bandung, mengisi tokonya dengan beberapa lukisan gelas. Lukisannya diminati berbagai kalangan, dari anak-anak taman kanak-kanak hingga para ibu rumah tangga. Kebetulan, rumah Hedi berseberangan dengan sekolah dasar dan taman kanak-kanak.

"Pada Hari Ibu, lukisan-lukisan kecil banyak dibeli anak- anak. Katanya, akan dijadikan kado untuk ibunya," ujar Hedi.

Setelah berhasil membuat parsel unik, Hedi memperoleh banyak pesanan. Ia mulai membuat lukisan di atas kaca dan diberi bingkai. Ia juga tetap melukis toples-toples, serta menghiasi pinggiran cermin dengan berbagai motif.

Melukis untuk tiga jenis lukisan kaca sebaiknya dilakukan di media datar, tidak vertikal atau cembung, sebab cat yang dituangkan akan cepat meleleh di bidang vertikal atau cembung.

Oleh karena itu, jika Hedi ingin melukis di toples, ia melukisnya di kaca datar terlebih dahulu, baru memindahkannya pada kaca toples setelah lukisan kering dan bisa dipindahtempelkan. Lukisan kaca yang dibingkai merupakan produk yang paling diminati dan harganya variatif tetapi tetap terjangkau. "Saya pasang harga untuk lukisan kaca itu mulai dari Rp 15.000 hingga tak terbatas sesuai pesanan. Lukisan Rp 15.000 berukuran sekitar 10 x 12 sentimeter," tuturnya.

Tampaknya karya seni yang dibuatnya banyak diapresiasi masyarakat. Hal itu terbukti dari pesanan masyarakat yang tak hanya lukisan kaca biasa, tetapi juga kaligrafi berbagai ayat Al Quran yang besarnya bisa beberapa meter. "Untuk ukuran satu meter persegi, saya hargai Rp 700.000, piguranya mahal sih," kata Hedi.

Untuk lukisan berukuran kecil, meskipun dibingkai, lukisan berada di luar kaca pigura tanpa dilapisi kaca lainnya sehingga lukisan bisa diraba. "Karena hasilnya seperti stiker, lukisan ini rentan goresan," kata Hedi. Itu sebabnya untuk lukisan berukuran besar, ia menggunakan pigura dengan kaca ganda agar lukisan tidak tergesek.

Lukisan-lukisan kaca Hedi telah dijual di Bandung, Jakarta, Bali, dan Malaysia. Permintaan cukup banyak karena jarang ada orang menjual lukisan seperti yang ia buat.

HEDI memulai bisnisnya bukan dengan modal yang besar. Hedi justru memulai usaha dengan semangat, selera, dan rasa suka akan pekerjaan itu sendiri. Modalnya ketika memulai usaha ini cuma Rp 300.000. Kini modal itu telah berubah menjadi "aset" berupa akses pasar. Jumlahnya tidak besar, tetapi relatif lumayan. Omzetnya tiap bulan sekitar Rp 4 juta. "Namun, untuk pasar ekspor, seperti Malaysia, harganya lumayanlah," ujarnya.

Menurut Hedi, pasar yang paling hot untuk karya seninya adalah ke Bali. Orang-orang di Bali lebih menyukai lukisan-lukisan kecil dan cermin berhias lukisan, sedangkan orang Malaysia menyukai lukisan kaligrafi dalam bingkai-bingkai kecil. Untuk penjualan di luar Bandung, Hedi menyerahkan kepada seorang temannya.

"Meskipun saya harus memberi komisi 20 persen, bagi saya lebih enak menggunakan tenaga pemasaran. Kalau dikerjakan sendiri malah tak tertangani karena anak-anak belum bisa saya tinggalkan," kata ibu dari Henrico Aria (7) dan Hesqiva Nadia (3) ini.

Dalam sehari, Hedi bisa melukis sekitar 30 lukisan kaca. "Karena mudahnya, saya bisa menyiapkan persediaan barang untuk bulan depan. Jadi, kalau sedang malas, saya bisa berhenti melukis selama sebulan," katanya sambil tertawa.

Hedi juga melayani pelukisan di atas media yang disediakan oleh pemesan. "Mereka bisa bawa toples atau kaca sendiri. Untuk toples kecil, saya bisa beri dia harga Rp 15.000 atau Rp 30.000 sekali melukis. Harga tergantung jenis cat yang digunakan," ujar Hedi.

Hedi menggunakan cat produksi Jerman dan Korea. Cat dari Jerman lebih mahal harganya daripada cat Korea. "Kualitasnya pun beda. Cat produksi Jerman lebih kental dan warnanya lebih pekat," ungkap Hedi yang menamai produk lukisan kacanya dengan nama anak bungsunya, Hesqiva.

"Namanya tak punya arti. Namun, saya pikir, usaha ini bisa menurun pada anak perempuan saya kelak," tuturnya.

Saat ia sedang melukis, biasanya kedua anaknya juga ikut melukis. Menurut dia, gambar- gambar di dalam buku anak- anak sangat sederhana namun menarik. Hedi biasanya memfotokopi dan menjadikan gambar-gambar itu sebagai pola lukisan. Jika sedang libur, dirinya bersama anak-anaknya memburu gambar-gambar lucu di toko buku.

Lukisan kaca tidak hanya memberinya penghasilan, tetapi juga menjadi hobi bersama keluarganya. (Y09)

Hermawan Kartajaya , Strategi Memenangi Persaingan Bisnis


Kompas, Senin, 24 Januari 2005
Bisnis & Investasi


KEHIDUPAN manusia tidak akan bisa dilepaskan dari teknologi. Bahkan, sejak dulu kita selalu memakai bantuannya dalam beragam tingkat kehidupan. Lantas dari sini kemudian muncul pertanyaan, apa inovasi teknologi terbesar yang memengaruhi manusia selama 25 tahun terakhir?

Sejak akhir tahun lalu pertanyaan tersebut tampil sebagai topik pembicaraan hangat karena selalu diulang dalam beragam tayangan CNN. Para pemirsa di seluruh dunia semakin bertambah penasaran sebab CNN dengan sengaja justru telah membocorkan peringkat semua penemuan teknologi termaksud, sejak nomor urut 25 sampai ke nomor 2. Empat besarnya, berturut-turut dari bawah, adalah e-mail, kemudian serat optik, komputer pribadi, dan nomor 2, telepon seluler.

"Mana nomor satunya? Kita boleh saja menebak, tetapi jawaban yang benar baru akan ditayangkan CNN pada hari Minggu 16 Januari pukul delapan malam ET (Eastern Time) dari studio pusatnya," kata Hermawan Kartajaya.

Dengan cepat, orang Surabaya yang kini dijuluki sebagai salah seorang dari 50 guru marketing kelas dunia sekaligus pimpinan puncak MarkPlus & Co ini langsung menambahkan, "Tetapi, apa pun yang minggu depan oleh CNN dinobatkan menjadi penemuan teknologi nomor 1, yang pasti teknologi memang harus bisa dipasarkan agar bermanfaat...."

MarkPlus yang didirikan Hermawan memang sebuah fenomena unik. Desember 1989 dia memutuskan keluar dari posisi mapan dalam jajaran eksekutif produsen rokok Sampoerna.

"Ayah dulu memberi saya nama Tan Tjiu Shiok, artinya selalu mengejar pengetahuan, sebab dia punya obsesi saya harus menjadi guru. Amanat beliau memang saya laksanakan. Selama 20 tahun saya menjadi guru SMA dan karena gaji kecil masih harus merangkap kerja, dari pembuat TV sampai produsen rokok. Tetapi akhirnya saya memutuskan keluar dan kembali menjadi guru," tutur Hermawan.

Memang bukan sekadar guru di lembaga pendidikan formal. Dengan pengalamannya selama bekerja, Hermawan mendirikan MarkPlus, konsultan bisnis dan pemasaran di Surabaya, hanya dibantu dua tenaga staf. Hermawan menjelaskan, "Saya senang naik kapal, maka saya mengibaratkan diri saya sebagai pembangun, kapten kapal sekaligus pemiliknya. Memang kapal sulit sekali bisa langsung ke laut, harus lewat kanal, sungai, teluk, baru nantinya terjun ke laut lepas...."


BERAWAL dari kantor dengan hanya dua tenaga staf, MarkPlus mulai 1994 pindah ke Jakarta tanpa melepaskan kantor di Surabaya. Perpindahan ini dengan tujuan agar bisa menangkap pasar yang lebih luas. Sekarang, sesudah 15 tahun memasyarakat, dengan dukungan sekitar 400 tenaga staf, lembaga konsultan bisnis tersebut semakin berkembang, mencakup juga Semarang, Bandung, dan Medan.

Bahkan, mereka tidak hanya ingin jadi jago kandang sebab tahun lalu telah melebar ke Singapura dan tahun ini akan dilanjutkan dengan membuka cabang di Kuala Lumpur, Malaysia.

Herwaman selalu punya impian besar. "Mulai tahun 2005, MarkPlus punya standar dunia, prespektif regional dan dukungan lokal. Strategi berpikir global dalam langkah lokal jelas sudah tidak memadai untuk pengembangan bisnis masa kini. Semua kawasan berusaha menyatu dalam menemukan peluang, semisal Eropa, Asia Selatan, ASEAN. Maka upaya itu pula yang harus kita gunakan...," tuturnya.

Sebagai orang yang selalu optimistis, nyali Hermawan tidak surut ketika dihadapkan kepada tantangan. Saat krisis ekonomi tahun 1997 merontokkan perekonomian Asia sehingga julukan "macan" berubah menjadi "kucing", dia justru tetap tegar. "Dalam aksara China, krisis gabungan kata wei dan ji, maknanya bahaya dan peluang. Maka saya yakin, krismon (krisis moneter) harus menyadarkan diri untuk menemukan peluang agar bisa tetap berjaya di masa depan. Kuncinya, setelah semua persyaratan terpenuhi, pemasaran harus tetap dilakukan...."

Tahun 1998 Hermawan terpilih sebagai Ketua Federasi Marketing Asia Pasifik, tahun berikutnya ditunjuk menjadi Presiden World Marketing Association. Terobosannya semakin nyata ketika tanpa sengaja dia bertemu Philip Kotler, mahaguru marketing internasional dari Kellogg School of Management, Northwestern University, Chicago, AS.

Kotler terkesan dengan model pemasaran hasil rancangan Hermawan. Mereka berdua langsung sepakat menulis buku, terbit tahun 2000 dengan judul Repositioning Asia: From Bubble to Sustainable Economy. Isinya, beragam langkah strategis agar bisnis kita mampu mengatasi badai krismon di Asia. Selain itu, juga agar sanggup menghadapi datangnya masa ekonomi baru sekaligus persiapan untuk mengatasi terjadinya kemungkinan buruk di masa mendatang.

SESUDAH buku pertama itu terbit, sampai sekarang telah tiga buku mereka tangani bersama, termasuk buku Attracting Investors dengan subjudul A Marketing Approach to Finding Funds for Your Bussiness yang telah diedarkan sejak akhir September tahun lalu. Buku tersebut menunjukkan, business plan hanya merupakan bagian dari business proposal sehingga maknanya, dalam menawarkan proposal bisnisnya, setiap pengusaha wajib melengkapi dengan semua informasi agar memikat kepercayaan investor.

"Maka jelas keliru kalau kita datang ke para calon investor sekadar membagikan rencana dan rancangan bisnis yang seragam. Marketers, para pemasar, harus paham kepada ciri-ciri calon pelanggannya, dalam hal ini calon pemasok modal. Maka mereka harus bisa lebih memfokuskan presentasi berikut rancangan bisnisnya."

Tanggal 22 Desember, persis pada Hari Ibu atau empat hari sebelum badai tsunami mengamuk, Hermawan menyelenggarakan malam dana untuk membantu Unicef, lembaga PBB yang khusus membantu kesejahteraan anak-anak.

"Malam itu terkumpul dana sebesar satu miliar rupiah yang langsung saya serahkan kepada Unicef. Saya rela ngemis demi membantu anak-anak Indonesia agar mereka punya peluang sehingga bisa meraih masa depan lebih baik...," ujar Hermawan. Hermawan sering tersentuh hatinya kepada anak-anak kecil sebab dia sendiri sadar, dulu dia juga berangkat dari keluarga miskin.

Adakah kesulitan yang ditemui Hermawan ketika mulai merintis bisnis dengan menjual konsep pemasaran?

Sambi tergelak dia mengungkapkan, "Waktu itu banyak orang dan rekan saya malah geleng-geleng kepala sambil bertanya, apa sih yang akan kau jual? Tetapi syukurlah, kini situasinya memang sudah berubah. Kompetisi bisnis semakin tajam sehingga mau tak mau para pengusaha memerlukan strategi tersendiri dalam upaya memasarkan produk mereka. Strategi itulah yang saya tawarkan." (Julius Pour)

Gun Gun Runiadi, Pengusaha Sepatu Bermodalkan Nekat

Kompas, Senin, 31 Januari 2005
Bisnis & Investasi


TEKAD Gun Gun Runiadi, mantan mahasiswa bidang Ilmu Metalurgi, Akademi Ilmu Logam-Bandung, untuk menggeluti bisnis sepatu berawal dari kepindahan keluarganya dari Buah Batu ke wilayah Cibaduyut, sekitar tahun 1970-an. Di Cibaduyut, waktu itu sudah banyak orang yang membuka usaha pembuatan sepatu.

Dalam berusaha, laki-laki kelahiran Bandung, 46 tahun lalu, ini selalu berpegang pada petuah ayahnya yang selalu mengatakan agar dirinya jangan menggantungkan pekerjaan dari orang lain.

"Kalau bisa, buka lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain," kata laki-laki yang semula bercita-cita memiliki bengkel logam sendiri ini.

Sebelum menjadi perajin sepatu, Gun Gun sempat mencoba untuk berdagang. Namun, peruntungannya ternyata sama sekali bukan pada usaha dagang, dan ia pun memutuskan untuk berhenti. Gagal di sana, dia akhirnya memutuskan untuk berusaha di bidang sepatu.

Hanya bermodalkan uang Rp 250.000, jumlah yang terbilang cukup lumayan pada saat itu, Gun Gun memberanikan diri untuk memulai membuka usaha pembuatan sepatu.

Beruntung mertuanya meminjamkan salah satu ruangan di rumahnya di wilayah Jalan Cibaduyut Lama untuk dijadikan bengkel sepatu. Ruangan bekas kamar mandi itu kemudian direnovasi pada beberapa bagiannya untuk dijadikan sebagai bengkel sepatu.

Pertama kali membuka bengkel sepatu, Gun Gun mempekerjakan empat tukang. Tenaga tukang itu diperlukan untuk membantunya membuat bagian atas sepatu dan satu lagi untuk mengerjakan finishing.

DENGAN jumlah pekerja yang hanya empat orang, dalam sehari usahanya itu hanya bisa membuat lima hingga enam pasang sepatu. Seluruh produk alas kaki yang dihasilkan, seperti sepatu dan sandal, pada mulanya mengikuti perkembangan mode saat itu.

"Seluruhnya saya jual dengan cara door to door atau dari rumah ke rumah," tuturnya. Gun Gun mengaku tidak begitu menyenangi cara menjual dengan cara menitipkannya di toko-toko. Dia lebih suka menjualnya sendiri, baik ke pembeli perorangan, perusahaan, maupun instansi pemerintah.

Tiga tahun pertama dilaluinya dengan situasi pasar yang tak menentu. Selain masih belajar tentang produksi, manajemen perusahaan juga menjadi salah satu fokus utama yang berusaha diperbaikinya. Baginya, jika mau maju layaknya sebuah perusahaan besar, bengkelnya harus memiliki prosedur operasi standar yang baku. Bermula dari hal tersebut, dirinya mempelajari masalah manajemen, baik mutu maupun organisasi, melalui bahan-bahan bacaan yang didapatnya. Bahkan Gun Gun tidak segan-segan untuk bertanya kepada orang lain yang usahanya telah lebih maju dari dirinya.

Meski lambat, upayanya mulai membuahkan hasil. Pesanan sepatu terus meningkat. Naiknya permintaan ini tak mampu dipenuhinya semua. Hal itu disebabkan kurangnya jumlah perajin, keterbatasan alat dan tempat. Untuk mengatasi itu semua, Gun Gun memindahkan tempat usahanya ke tempat yang lebih luas. Di tempat barunya, Gun Gun menambah jumlah pekerjanya menjadi 15 hingga 20 orang, dan kapasitasnya pun meningkat menjadi sekitar 250 pasang per minggu.

Tahun 1992, setelah enam tahun menggeluti usaha pembuatan sepatu, Gun Gun baru merasa yakin akan prospek usaha tersebut. Kapasitas produksi sepatu yang meningkat mengharuskan Gun Gun mencari pasar baru bagi produksinya. Kali ini Gun Gun mencoba memasarkan sepatu produksinya di toko- toko grosiran sepatu, seperti Matahari. Langkah ini ditempuh untuk memulai memperkenalkan produknya ke masyarakat. Pada awalnya, Gun Gun baru memasukkan ke beberapa toko grosiran sepatu yang ada di Bandung. Namun, setelah beberapa lama, hal itu mulai menunjukkan hasil. Kemudian, dirinya berusaha untuk melebarkan sayapnya dengan mengirimkan sepatu hasil produksinya ke kota lain di Jawa Barat, seperti Bogor dan Cirebon.

Tahun 1996, Gun Gun sempat berpikir untuk mengekspor sepatu ke mancanegara. Namun, akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia, keinginannya untuk mengekspor sepatu tertunda. Akhirnya, keinginan tersebut dialihkan pada upaya membuat sepatu dengan merek sendiri.

Keinginan untuk memperkenalkan sepatu dengan mereknya sendiri dan kualitas yang tidak kalah dengan sepatu hasil produksi luar negeri semakin kuat. Beruntung, pada tahun 1986, pemerintah memberikan paket bantuan untuk industri skala kecil dalam bentuk modul pelatihan peningkatan mutu.

Menurut Gun Gun, yang diajarkan dalam modul itu adalah memberikan pendidikan mental, alur, dan langkah-langkah produksi sepatu, termasuk di dalamnya adalah peningkatan kualitas hasil produksi. Alur kerja yang ada dalam modul tersebut hampir sama dengan manajemen ISO saat ini. Namun, dalam modul tersebut hanya ada 11 langkah. "Lebih singkat dibandingkan dengan mendapatkan sertifikat ISO," katanya.

TAHUN 1998, Gun Gun mulai berupaya mewujudkan mimpinya untuk bisa membuat dan memasarkan sepatu dengan mereknya sendiri. Namun, ia mengaku sempat ragu untuk memulai usahanya tersebut. "Setiap kebijakan yang diambil pasti ada risikonya," katanya.

Yang diperhitungkan oleh Gun Gun adalah risiko kehilangan potensi keuangan dari 1.000 pasang sepatu yang dibuatnya dengan sistem maklun atau menerima order mereka sepatu lain. Untuk itu, Gun Gun harus meyakinkan istrinya bahwa harus ada risiko yang diambil dari rencana ini. Akhirnya, istrinya pun yakin terhadap langkah yang akan dilakukannya.

Secara perlahan produksi sepatu untuk industri lain mulai dikurangi. Jika sebelum dimulai persentase antara produksi sistem maklun dengan menggunakan merek sendiri 80:20, secara perlahan angka itu bergeser dan menjadi berbalik. Gun Gun sendiri menargetkan untuk mempertinggi persentase produksi sendiri menjadi 90 persen dari kapasitas terpasang dan 10 persen untuk sistem maklun pada tahun 2000.

"Merek yang pertama kali diperkenalkan adalah Batant," kata Gun Gun. Batant sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun 1987, saat dirinya baru memulai berusaha di bidang sepatu.

Gun Gun mengkhususkan diri untuk memproduksi jenis sepatu fungsi, seperti untuk tracking, adventure, rugged-work, dan safety, serta segala jenis kegiatan yang dilakukan di luar ruangan (outdoor activities). Sebab, menurut Gun Gun, model sepatu fungsi tidak hanya untuk setahun atau dua tahun saja, namun bertahun-tahun. Berbeda dengan sepatu untuk fashion atau style yang hanya bertahan pada musim tertentu saja.

Tahun 2001, dirinya juga meluncurkan merek baru sepatu produksinya, Inland. Ide pemunculan ini berawal dari keinginan anak laki-lakinya untuk bergabung dalam perkumpulan pencinta alam. Dari hal tersebut, Gun Gun berpikir, mengapa dirinya tidak membuat sepatu atau perlengkapan lainnya untuk pencinta alam.

Tahun 2001, Gun Gun mematenkan tiga merek sepatunya, Batant, Inland, dan Faliq Patent, ke Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Sepatu tersebut dijual ke pasaran dengan kisaran harga Rp 120.000 hingga Rp 245.000 per pasang. Saat ini pun Gun Gun sedang melakukan riset dan pengembangan untuk membuat sol serta upper sepatu. (j11)

Moch. Hanan, merajut Industri Pakan Ternak dari Jualan Ayam Potong

Kompas, Senin, 7 Februari 2005
Bisnis & Investasi


BISNIS tidak hanya terkait dengan usaha yang ulet dan keras. Faktor "garis tangan" atau nasib juga menentukan. Bahkan menjadi luar biasa jika seseorang dengan tingkat pendidikan kelas lima sekolah dasar mampu mendirikan pabrik pakan ternak.

Pengusaha ternak ayam Moch Hanan (42) merupakan salah satu contohnya. Pengusaha jebolan SD di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ini mampu menjadi pengusaha ternak ayam pedaging dan petelur. Produksi ternaknya kini mencapai 350.000 ekor per bulan.

Bahkan, kini Hanan tengah merintis pabrik pakan ternak dengan kapasitas lima ton per jam. Upaya ini bukan datang begitu saja, tetapi dilakoninya selama 20 tahun. "Tahun 1982, saya cuma menjual ayam potong lima sampai 10 ekor per hari di pasar tradisional di Kabupaten Kuningan," katanya.

Usaha untuk berdagang bukan dirintisnya ketika dewasa, tetapi saat masih di SD dengan berjualan rokok. Kemudian ia meningkat menjadi pedagang barang-barang kelontong.

"Saya memang senang berjualan karena dapat duit. Kalau terus sekolah, enggak dapat duit, sedangkan keluarga butuh bantuan. Pilihannya akhirnya ya dagang," kata Hanan.

Setelah menekuni menjual ayam potong tahun 1982, lambat laut ia dipercaya oleh pengusaha peternak ayam (poeltry shop) untuk memasarkan ayam pedaging maupun petelur di wilayah Cirebon. Sebagai tenaga pemasaran, ia mampu menjual sebanyak 500 ayam potong per hari. Sejak saat itu karier bisnisnya terus meningkat. Ia pun kemudian dikenal sebagai salah satu pemasok ayam perorangan yang besar di wilayah Cirebon.

Tahun 1993 Hanan mulai mengembangkan peternakan ayam potong dan petelur dengan sistem plasma, dengan jumlah binaan setidaknya 250 peternak. Produksi ayam potongnya mencapai 350.000 ekor per bulan. Harga ayam potong atau pedaging sekarang Rp 8.500 per kg. Ayam potong itu dipasarkan di berbagai wilayah di Jawa Barat, seperti Bandung dan Cikampek.

Hanan juga mengembangkan usaha peternakan ayam petelur dengan jumlah 100.000 ekor.

BERHASIL mengembangkan bisnis peternakan ayam pedaging dan petelur, Hanan mulai masuk ke bisnis pakan ternak, dengan membuat pabrik. Alasannya, karena selama ini pakan ternak yang dipasok dari perusahaan pakan ternak memang terlalu mahal. Harga pakan ternak dari perusahaan pemasok mencapai Rp 2.550 per kg. Sementara itu, ia mampu menjual harga pakan ternak sebesar Rp 2.400 per kg dengan kualitas yang tidak rendah.

Selain itu, juga karena kondisi petani jagung yang ada di Kuningan memprihatinkan karena harga panen di tangan tengkulak cuma sebesar Rp 1.000-Rp 1.100 per kg. Hanan pun memanfaatkan jagung petani sebagai bahan baku produksi pakannya.

Untuk itu, ia pun bekerja sama dengan perkumpulan petani dan koperasi dalam mengembangkan lahan tandus menjadi perkebunan jagung. Tahap awal dilakukan di kebun percobaan seluas 100 hektar, dari 500 hektar tanaman jagung yang diprioritaskan. Hasilnya ketika dipanen bisa dijual dengan harga Rp 1.250 per kg, lebih tinggi Rp 150 per kg dari harga pembelian tengkulak.

Kebutuhan pakan ternak di empat kabupaten, Kuningan, Cirebon, Indramayu, dan Majalengka, mencapai 5.000 ton per bulan. Dengan asumsi komponen bahan baku jagung pada pakan ternak sebesar 50 persen, berarti konsumsi jagung untuk pakan ternak di empat wilayah itu sekitar 2.500 ton. Masih ada keuntungan tambahan bagi petani di empat wilayah sebesar 375 juta per bulan.

Melalui investasi pabrik pakan ternak senilai Rp 5 miliar, pakan ternak itu dijual kepada petani plasma dengan harga lebih rendah dengan kualitas yang baik. "Harga pakan ternak yang saya pasok lebih rendah, Rp 100-150 per kg," kata Hanan.

Meski pasokannya baru mencapai sekitar 1.200 ton per bulan, itu sudah cukup menolong peternak. "Produksi pabrik belum karena mesinnya baru. Tidak bisa digenjot optimal, takut jebol. Kata industrinya, tunggu dua sampai tiga bulan," ujarnya.

KINI dari ayam potong, Hanan mampu membuat peternakan dengan sistem plasma dan membuat pabrik pakan ternak sendiri. Dia pun berharap peternak lain mampu melakukan hal serupa sehingga dirinya sendiri dan peternak di sekitarnya tidak terlalu menggantungkan pasokan pakan ternak dari industri besar saja.

Meskipun mampu membuat pakan ternak sendiri, Hanan masih mengandalkan beberapa bahan baku pakan ternak impor, seperti bungkil kedelai, tepung ikan, dan tepung tulang daging. "Hambatan saya, masih ada bahan baku pakan ternak yang diimpor. Akibatnya, harga bisa lebih mahal karena dipermainkan pedagang atau importir," katanya.

Untuk saat ini, Hanan mengaku membeli bahan baku pakan ternak impor dari importir di Jakarta. Ketergantungan beberapa bahan baku pakan ternak impor itulah yang membuat pabriknya rentan, terutama terhadap gejolak harga akibat perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Oleh karena itu, ia sekarang sedang menjajaki untuk mengimpor bahan baku pakan ternak itu sendiri, tak lagi bergantung Jakarta. Harga bisa lebih rendah dan menutup kemungkinan dipermainkan oleh importir atau pedagang.

Bagaimana pun, Hanan telah merintis suatu jenis usaha yang cukup memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain, seperti peternak plasma, petani jagung, dan pedagang ayam potong dan petelur di pasar. Pemerintah pun sebaiknya perlu membina peternak-peternak lokal seperti itu.

Jika industri peternakan ayam bisa terintegrasi, pendek kata, tidak ada yang terbuang dalam berbisnis ayam. Kotoran ayam pun bisa dimanfaatkan untuk pupuk dan bulu ayam untuk industri kerajinan, seperti pembersih dari bulu atau alat olahraga bulu tangkis. (FER)

Bagus Sudibya: Tidak Cukup Hanya Menggerutu

Kompas, Senin, 14 Februari 2005
Bisnis & Investasi


BALI kini punya sederetan nama warganya yang masuk kategori pengusaha sukses. Sebagai daerah tujuan wisata dunia, maka para pengusaha sukses ini adalah mereka yang bergerak di sektor pariwisata. Seorang di antaranya adalah Bagus Sudibya.

Putra kelahiran Karangasem, Bali, 22 Agustus 1952, itu saat ini menguasai setidaknya 11 perusahaan. Ditambah harta lainnya, aset milik Bagus Sudibya diperkirakan senilai 20 juta dollar AS atau Rp 180 miliar. Kelompok usaha di bawah Bagus Discovery, semuanya di lingkungan pariwisata, berupa hotel, vila dan spa, biro perjalanan, usaha agrowisata, dan kapal pesiar. Salah satu hotel miliknya berlokasi di Baliem, Jayawijaya, Papua, bernama The Baliem Valley Resort.

"Saya merasa memperoleh kehormatan disebut masuk kelompok pengusaha sukses di Bali. Padahal, saya sadari apa yang saya geluti belum ada apa-apanya dibanding sejumlah pengusaha sukses lainnya," tutur Bagus Sudibya, yang sejak awal Desember lalu terpilih sebagai Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Bali.

Bagus Jati Health & Wellbeing Retreat di Tegalalang, Kabupaten Gianyar, adalah salah satu usaha milik Bagus Sudibya. Bagus Jati yang berlokasi pada ketinggian 685 meter dari permukaan laut dan sekitar 45 kilometer utara Denpasar itu dirancang khusus untuk bermeditasi, yoga, atau beristirahat.

Khusus di Bali, sejumlah hotel atau vila dan usaha lain milik ayah empat anak itu tidak hanya terkonsentrasi di Denpasar. Usahanya tersebar di Bali bagian selatan, timur, dan utara. Misalnya, Puri Bagus Villa Resort Candidasa berlokasi di Kabupaten Karangasem, bagian timur Bali.

Tentang hotel tua ini, suami dari Djaya Wardani itu mengakui vila tersebut adalah warisan orangtuanya. "Vila itu sebenarnya mau saya serahkan saja untuk adik-adik," ujar alumnus Harnack Schule di Berlin, Jerman (1975-1976), The Oxford Academy of English di Inggris (1976-1977), dan Institute of Tourism and Hotel Management di Salzburg, Austria (1977-1980) itu.

Hotel lain miliknya adalah Puri Bagus Villa Resort Lovina di Buleleng (pesisir utara) dan Puri Bagus Villa Resort Manggis. Bagus Sudibya juga pemilik perusahaan biro perjalanan bernama Nusa Dua Bali Tours & Travel, yang beroperasi sejak tahun 1985. Lainnya, perusahaan agrowisata bernama Ponjok Batu Agro & Restaurant di Buleleng dan Bagus Agro Pelaga di Desa Pelaga (Badung). Masih ada lagi dua perusahaan bernama Baruna Marine Sport dan Seruni Tourist Transport.

BALI selama lebih dari dua dasawarsa terakhir ini hampir total bergantung pada pariwisata. Namun, sukses yang diraih ternyata tidak hanya untuk Bali sendiri. Menurut catatan, pariwisata Indonesia menyumbang sekitar 5 miliar dollar AS per tahun. Dari jumlah tersebut, Bali menyumbang 2 hingga 3 miliar dollar AS.

Diakui, pariwisata Bali sempat keok akibat tragedi bom 12 Oktober 2002. Namun, secara perlahan, pariwisata Bali mulai pulih. Meski demikian, tetap saja ada sekelompok orang Bali yang terus menggerutu. Alasannya, hanya sebagian kecil dari kue pariwisata yang dinikmati orang Bali. "Ada benarnya, atas hitungan sekitar 85 persen dari keuntungan pariwisata Bali justru menjadi keuntungan orang luar Bali," ujar Bagus.

Atas reaksi orang Bali itu, Bagus justru melukiskannya sebagai reaksi emosional. Menurut dia, orang Bali tidak cukup hanya menggerutu. Yang harus dilakukan adalah mencari solusi terbaik.

Bagus Sudibya menawarkan salah satu solusinya adalah dukungan politik pemerintah bersama DPRD merumuskan sebuah peraturan daerah (perda) khusus tentang pola pengelolaan berbagai bentuk perusahaan di Bali. Isinya antara lain dalam tenggang waktu tertentu-katakan setelah sepuluh tahun operasional-perusahaan tersebut harus go public. Sahamnya dijual kepada masyarakat sehingga masyarakat setempat pun merasa memiliki.

Soal kebijakan visa on arrival (VoA/pemberlakuan visa saat kedatangan) yang diterapkan 1 Februari lalu, Bagus mengesankan adanya diskriminasi atas negara-negara tertentu yang tidak mendapatkan fasilitas VoA, seperti Belanda, Austria, dan Spanyol. Padahal, negara-negara itu potensial mengirimkan wisatawan ke Bali.

VoA juga dinilai mengurangi semangat promosi bersama di ASEAN. Alasannya, sebagian besar negara ASEAN tidak mengenakan visa. Sebagai misal, ada wisatawan yang ingin mengunjungi beberapa negara di ASEAN dalam satu kali perjalanan merasa sulit masuk ke Indonesia karena harus mengurus visa.

Sementara itu, Bagus juga melihat VoA menurunkan pendapatan devisa. Katanya, dulu sebelum VoA, banyak wisatawan dari negara-negara yang mendapatkan fasilitas bebas visa kunjungan singkat (BVKS) dengan waktu tinggal di Indonesia selama 60 hari. Dengan tenggang waktu tersebut, wisatawan bisa melakukan perjalanan overland, dari satu pulau ke pulau lain. Biasanya wisatawan dari Eropa.

Saat ini sulit melakukan hal itu akibat keterbatasan waktu kunjungan, hanya 30 hari. Ini mengakibatkan lama tinggal wisatawan kian pendek pula.

Sementara itu, wisatawan yang berkunjung saat ini kebanyakan berasal dari Asia, seperti Hongkong, Taiwan, dan Korea Selatan, yang lama tinggalnya hanya 3-4 hari. Dengan demikian, jumlah pengeluarannya pun terbatas. Rata-rata pengeluaran tiap wisatawan Asia hanya 60 dollar AS per hari. Hanya separuh dari pengeluaran tiap wisatawan Eropa yang 120 dollar AS per hari.

"Kebijakan VoA perlu ditinjau kembali, bahkan dihapus saja," saran Bagus.

BAGAIMANA pariwisata Bali ke depan? Bagus Sudibya menegaskan, nasib pariwisata pulau ini ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan pengelolaan penerbangan dalam negeri. Berbagai pihak terkait, terutama di Bali, haruslah secara serius berpikir tentang maskapai penerbangan yang khusus mendukung pariwisata.

Menurut catatannya, sejumlah negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, pariwisatanya maju karena maskapai penerbangan mereka memang fokus mendukung pariwisata.

Maka, saatnya Bali memikirkan maskapai penerbangan sendiri yang khusus mendukung pariwisatanya. Oleh karena itu, Bagus Sudibya mendukung langkah terobosan yang dilakukan rekannya, Kadek Wiranata, pemilik perusahaan penerbangan Air Paradise di Bali. Didukung empat unit pesawat, maskapai ini melakukan penerbangan ke Australia tiga kali sehari. Menyusul tiga kali seminggu ke Osaka, Jepang, dan sejak Mei ke Bangkok tiga kali seminggu.

Langkah terobosan Kadek Wiranata pantas didukung. Alasannya, pariwisata Bali ke depan sangat ditentukan oleh keberadaan maskapai penerbangan yang khusus mendukung pariwisata. (ANS)

Paulus Indra, Waroeng Podjok dan Waralaba

Kompas, Senin, 28 Februari 2005
Bisnis & Investasi


PAULUS Indra (61) tertawa lepas tatkala ditanya mengapa ia mematok harga yang tinggi untuk hampir semua jenis makanan di Waroeng Podjok. Harga yang tinggi itu tampak jika dikomparasi dengan harga makanan di restoran-restoran menengah ke atas, termasuk dari franchise asing di sejumlah pusat perbelanjaan.

Indra menyebutkan, dari aspek harga memang benar ia mematok angka relatif tinggi. Namun, ia mengingatkan, ada aspek lain yang mestinya menjadi tema, yakni betapa sebuah gagasan bernas yang ditopang oleh kerja keras bisa melahirkan profit yang melegakan.

Ia menuturkan, tatkala hendak melahirkan Waroeng Podjok, hampir sepuluh tahun silam, ia berangkat dari pemikiran sederhana. Mengapa negara adidaya Amerika Serikat mampu melahirkan banyak franchise atau waralaba yang kemudian mendunia. Amerika melepas resto ayam goreng sampai ke makanan dengan penekanan pada daging bakar. Dan, rata-rata resto seperti itu mendapat sambutan hangat pasar.

Mengilapnya bisnis franchise Amerika tak lepas dari image building yang bagus, reputasi, manajemen yang hebat, serta mutu yang terjaga. "Sejumlah restoran berlabel franchise dari Hongkong, Singapura, dan Republik Rakyat China juga sukses melebarkan sayap usahanya ke berbagai negara, termasuk Indonesia," ujar Indra, Sabtu (26/2).

Indra berpikir, Indonesia juga punya banyak jenis masakan yang lezat dan cocok untuk lidah antarbangsa, sebutlah sop, soto, nasi goreng, dan sate (dengan beberapa variannya). Masih banyak makanan khas yang menjadi tipikal Indonesia, misalnya ikan bakar (dengan sambel khasnya), gado-gado, dan beberapa jenis sayuran. Makanan-makanan dan minuman ringan juga amat variatif.

Dari pemahaman ini Indra mendapat gagasan membuka warung dengan menjual makanan yang menjadi tipikal Indonesia. Tetapi, ia tidak mau membuka warung di rumah, ruko, atau bahkan di kaki lima karena tidak banyak memberi nilai tambah. Ia kemudian membuka Waroeng Podjok di Plaza Senayan delapan tahun silam. Dan, agar muncul impresi Indonesia yang pekat, interior warung ia desain sedemikian rupa sehingga benar-benar bersuasana Indonesia tempo doeloe. Kursi, meja, serta perangkat makan ia beli pada siapa saja yang punya agar warungnya benar-benar mewujud dalam suasana masa silam.

Aksesori ruang warung ia beri perhatian lebih sehingga muncul iklan-iklan abad ke-19, perangkat radio, terompet, suling tahun 1900, setrika (menggunakan arang), stoples tahun 1920, sepeda, dan alat masak. Bentuk majalah dan koran zaman dulu juga ia tampilkan di sana. Misalnya, gambar iklan susu tahun 1919, iklan bir tahun 1930, dan sejumlah iklan rokok yang terkenal tahun 1946.

"Untuk mendapatkan itu semua, saya kerja keras. Berbulan-bulan saya datang ke rumah-rumah warga. Saya cari orang-orang yang menyimpan barang-barang antik, koran, dan majalah tempo doeloe. Syukur banyak warga membantu saya," tutur Indra.

Ujar Indra, jangan meremehkan barang tua itu. Harga selembar iklan rokok, sebutlah misalnya Roko Prijaji, ia beli Rp 3 juta. Ketika ia hendak beli lagi iklan yang sama, setahun kemudian, harganya sudah melonjak menjadi Rp 17 juta per lembar. Iklan Amstel Bier yang dulu hanya Rp 2 juta per lembar, kini menjadi Rp 13 juta per lembar.

Langkah berikutnya, ia menghimpun segenap jago masak berbagai masakan Indonesia untuk berlabuh di warungnya. Warung pertama di Plaza Senayan amat sukses sehingga ia kemudian membuka beberapa warung dengan tema yang sama di beberapa plaza lainnya. Indra kemudian lebih dikenal sebagai usahawan yang dapat membawa makanan khas Indonesia, atau beberapa jenis makanan rumahan ke plaza dengan harga yang benar-benar plaza.

INDRA sendiri kemudian bisa menerima mengapa publik lebih mengenal dia sebagai usahawan warung makanan Indonesia di plaza. Padahal selain Waroeng Podjok, ia mempunyai sejumlah kafe yang juga tidak kalah atraktifnya. Ia, misalnya, membuka Cafe Wien di beberapa plaza yang bersuasana Austria. Ia mempunyai Cafe Tator yang lebih menekankan pada "warung kopi" di plaza. Timebreak dan Patio Cafe yang lebih dekat ke anak muda, dan Mario’s Cafe yang lebih pas untuk masyarakat kelas ekonomi ke atas, juga ia hadirkan.

Selain berbisnis kafe, pria kelahiran Bengkulu 14 Oktober 1944 ini juga adalah Direktur Utama Puri Tur, sebuah perusahaan operator tur dan pelayanan travel yang cukup dikenal dalam 30 tahun terakhir.

Setelah bisnis kafe dan travel-nya berjalan baik, Indra ingin melebarkan sayap usahanya dengan menekuni bisnis waralaba di dalam dan luar negeri. Untuk tahap pertama, Cafe Tator, Cafe Wien, dan Waroeng Podjok, ia lepas ke pasar. Para investor ternyata berminat sehingga sudah ada sejumlah orang yang menggunakan nama-nama warung dan kafe tersebut dalam konteks waralaba. Di antara peminat tersebut, ada yang membuka tiga kafe waralaba di Grand Indonesia (Hotel Indonesia, yang kini tengah dibangun).

"Sambutan publik cukup baik, dan saya berharap dalam waktu dekat investor di luar negeri, misalnya Hongkong, Singapura, Kuala Lumpur, negara-negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat menyambut bola yang saya lepas," tutur Indra. Ia pun menaruh asa, tahun ini investor luar negeri sudah mulai menaruh minat terhadap franchise-nya dan kelak, ia dapat meraih hasil yang optimal.

Jika waralaba ini sukses, menurut Indra, bukan saja ia akan mendapat nama, melainkan Indonesia juga mendapat kredit sebab minuman dan makananmakanannya yang lezat jadi lebih dikenal publik luar negeri.

Istrinya, Lucy, dan tiga anaknya (Mario, Marco, dan Maria) yang sudah berangkat dewasa menjadi tulang punggung bisnis Indra. "Saya happy, mereka sudah mandiri dan enak diajak diskusi," ujar Indra. Di sela-sela kesibukannya, Indra suka menyempatkan diri berolahraga dan menekuni hobinya di bidang otomotif. (Abun Sanda)

Tries dan Botol Lukis Motif China ala Wonosobo

Kompas, Senin, 7 Maret 2005
Bisnis & Investasi


Produk keramik identik dengan China. Khususnya selama setahun belakangan ini, produk keramik maupun mebel asal Negeri Tirai Bambu itu membanjiri pasaran dunia, tak terkecuali Indonesia. Keunikan desain keramik China memang banyak diminati warga di negeri ini. Bahkan, sebagian kelompok masyarakat rela mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk sebuah keramik China yang dipamerkan di pusat-pusat perbelanjaan.

Bayangan akan harga keramik China yang mahal dan hanya bisa dimiliki kalangan atas di negeri ini segera sirna bila Anda berkunjung ke daerah Sambek, Wonosobo. Di sebuah ruangan berukuran sekitar 3 x 4 meter, berderet dengan cantik dan manis keramik China dalam rak pajangan.

Dalam ruangan itu, seorang pria bercelana pendek dan berkaus oblong dengan teliti dan cermat menghias sebuah jambangan kaca transparan hijau. Tangan kanannya memegang sebuah kuas berukuran kecil. Dengan tekun dan cermat, Tries Ponowady (64), pria itu, menggambar hiasan daun teratai di kaca jambangan tersebut.

"Saya dari dulu tertarik dengan seni lukis. Kerajinan lukis botol ini pun saya rintis secara tidak sengaja. Sebagai lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), dunia lukisan sudah tak asing lagi bagi saya," ujar Tries, yang ditemui di kediaman sekaligus bengkel kerjanya, akhir tahun lalu.

Bisnis lukis botol keramik China yang didalami Tries terbilang cukup unik. Ide menyulap botol layaknya keramik China bermula dari usaha cuci cetak foto hitam putih yang ditekuninya setamat ASRI Yogyakarta, tahun 1964. Usaha cuci cetak Tries pada masa itu cukup sukses, namun lama-kelamaan perkembangan teknologi cetak foto yang kian berkembang mulai berimbas pada usahanya.

Pada saat mengamati sejumlah botol cairan kimia di tempat usahanya, tebersit ide Tries untuk menyemprotkan cat putih ke botol tersebut. Keinginannya itu bukan tanpa alasan.

"Waktu itu saya membayangkan sepertinya botol berwarna putih itu akan menarik bila dilukis dengan motif keramik China. Saya melihat media botol bercat putih itu seperti keramik China yang belum dihias. Akhirnya, saya lukis lima botol bercat putih itu dengan motif keramik China, seperti ikan koi, bunga teratai, dan ayam," tutur Tries.

Keisengannya itu tak sia-sia. Pada tahun 1992, ketika Kabupaten Wonosobo mendapat tugas menunggui pameran kerajinan Indonesia di Madrid, Spanyol, Tries diminta ikut memamerkan hasil karyanya. Mendapat pesanan semacam itu, Tries membuat sekitar 45 botol keramik China dan di luar dugaan kerajinan botol lukisnya tersebut direspons positif. Semua botol lukis yang ikut pameran habis terjual.

Tries mengaku cukup terkejut. Sejak itulah ia memutuskan menekuni secara serius bisnis botol lukisnya.

"Saya berpikir usaha ini bisa mendatangkan pemasukan tetap dan bekerjanya tidak terikat aturan apa pun. Berbeda dengan menjadi pegawai negeri sipil yang terikat aturan dan gajinya tidak seberapa," kata Tries, yang juga pernah ikut pameran kerajinan di Belanda pada tahun 1996.

Setia menekuni motif hiasan China juga didasari alasan dan pandangannya yang cukup kuat. Tries memilih motif keramik China karena dari sisi selera pasar secara umum, orang sudah telanjur menyukai motif-motif keramik China daripada motif hiasan Jawa maupun motif hiasan berunsur kedaerahan Indonesia lainnya.

Bila dilihat sepintas, pengerjaan lukisan botol ini tidak sulit dan tidak rumit bagi mereka yang gemar melukis. Namun, bila dicermati lebih jauh, melukis pada media botol seperti yang dilakukan Tries memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi.

Dengan menggunakan cat mobil yang cepat kering, seorang pelukis botol dituntut untuk teliti dan sabar. Kesalahan membubuhkan cat karena tidak sabar bisa menyebabkan cat yang dibubuhkan tidak sesuai dengan garis pola desain.

"Kebanyakan murid yang saya ajari mengaku cukup sulit mempelajari seni botol lukis ini. Kesulitan yang kerap mereka temukan adalah mengikuti pola motif hiasan China, selain sifat cat mobil yang cepat kering," ujarnya.

Tries mengaku botol-botol yang dilukisnya sebagian besar dari botol minuman keras. Bahkan, sejumlah botol dengan bentuk unik didapatkan dari sejumlah pabrik rokok di Jawa Tengah.

Botol-botol bekas minuman keras ini diperolehnya dari sebuah pengumpul botol di kawasan pecinan Semarang. Harga botol bekas ini pun relatif murah. Sebuah botol besar dengan tinggi 40 sentimeter dan diameter 30 sentimeter dibeli seharga Rp 50.000. Botol ukuran besar yang sudah selesai dilukis nantinya dijual dengan harga Rp 400.000.

Meski usaha kerajinan botol lukis milik Tries ini sudah tersohor di kalangan pejabat pemerintahan, sejumlah kendala masih dihadapi Tries. Salah satunya ada pada persoalan pemasaran ke luar Wonosobo. Hingga kini Tries belum memiliki kendaraan niaga. Selama ini untuk pemasaran dan pengiriman pesanan dari luar kota Wonosobo, Tries masih memanfaatkan jasa travel.

"Sampai saat ini saya hanya menitipkan di Hotel Kresna Gallery (hotel bintang empat) dan di pusat penjualan oleh-oleh Dendeng TV Wonosobo. Kalau stok botol yang dipajang di sana habis, baru kami membuatnya lagi," ujar Tries.

Penuturan Tries ini bukan menunjukkan ia tidak mau berusaha keras memperluas jaringan bisnis botol lukisnya. Bagi kakek bercucu empat orang ini, hidup itu mengalir dan dinikmati. Tries termasuk tipe pekerja yang tidak melulu mengejar uang.

"Kalau lagi ingin melukis, ya melukis dari pagi hingga jam dua dini hari. Kalau jenuh, ya memancing," ujarnya tersenyum. (Ni Komang Arianti)

Uke Kurniawan, Memopulerkan Batik Banten


Kompas, Senin, 21 Maret 2005
Bisnis & Investasi



NAMA batik Banten rasanya masih asing di telinga. Namun, pembudidayaannya saat ini sedang menggeliat. Adalah Surat Keputusan Gubernur Banten pada Oktober 2003 tentang pembentukan panitia peneliti batik Banten yang memicu batik ini untuk dibudidayakan.

Uke Kurniawan, sebagai wakil ketua dari panitia penelitian batik Banten menuturkan, dimulai sejak adanya SK Gubernur Banten tadi telah dilakukan pengkajian motif. Pada dasarnya pengkajian itu telah dilakukan sejak tahun 2002. Hasil dari pengkajian motif tersebut kemudian dipresentasikan di depan para arkeolog nasional, budayawan, dan pemerintah Banten pada September 2004.

"Sumber daya arkeologi yang memiliki seni hias Banten belum banyak terungkap. Hal ini yang menjadi bahan pemikiran bersama. Di antara sumber daya arkeologi yang telah terungkap secara sistematik antara lain pada Artefak Terwengkal, hasil penggalian Pusat Penelitian Arkeologi Universitas Indonesia tahun 1976," kata Uke.

Transformasi motif dari Terwengkal ke suatu kain batik Banten merupakan upaya-upaya menghidupkan kembali seni hias Banten yang telah hilang sejak abad ke-17.

Penyelamatan dan pelestarian potensi kekayaan intelektual masyarakat Banten yang telah hidup ratusan tahun itu telah diwujudkan ke dalam berbagai wahana, baik pada seni hias ornamental bangunan maupun pada seni hias kain yaitu batik.

Rekonstruksi seni hias yang dimunculkan melalui wahana keramik, gelasir, dan nongelasir telah diwujudkan oleh Yayasan Baluwarti pada tahun 1994. Tahun 2002 telah dimunculkan melalui ornamental bangunan- bangunan di kawasan Banten lama. Pada tahun 2004 seni hias Banten telah dimunculkan melalui wahana kain batik oleh PT Uthana Group yang Direktur Utamanya adalah Uke.

"Ragam hias lokal genius yang berkesinambungan dari masa prasejarah hingga ke masa Islam adalah ragam hias berbentuk tumpal atau pucuk rebung, yang berubah interpretasi pemaknaannya. Pada masa Islam diisi dengan makna Mukernas yang artinya perukunan," kata Uke.

Setelah dibentuk panitia penelitian pada Oktober 2003, mulai dilakukan studi banding ke Pekalongan dan Solo. Hal ini terutama untuk melihat desain dan warna yang digunakan pada batik kedua daerah tersebut. "Setelah studi banding tersebut, kita mulai membuat contoh batik yang akan di produksi. Pada bulan Januari, produk batik tersebut kita patenkan di HAKI Tangerang," jelas Uke.

Satu minggu setelah dipatenkan, Uke menerima undangan untuk mengikuti pertemuan para arkeologi dari 52 negara. Pertemuan dilangsungkan di Malaysia akhir Januari 2005. "Dari Indonesia kita membawa hasil kajian mengenai batik Banten dan memperoleh predikat terbaik. Hingga motif datulaya mendapat tanda tangan dari Menteri Dalam Negeri Malaysia," kata Uke.

Menurut Uke, berdasarkan penelitian mereka sebetulnya ditemukan 75 ragam hias fragmen kreweng Banten yang berbentuk tumpal dan belah ketupat sebagai motif batik. Namun, pada tahap sekarang dari 75 ragam itu hanya 12 motif yang akan diproduksi, yaitu datulaya, pamaranggen, pasulaman, kapurban, pancaniti, mandalikan, pasepen, surasowan, kawangsan, srimanganti, sabakingking, dan pejantren.

Menurut Uke, dari Malaysia, pengkajian terhadap motif batik Banten terus dilakukan. "Batik Banten malah menjadi konsultan di beberapa daerah. Kami melakukan pameran di Singapura, Bandung, Bali, dan Palembang. Keunikan dari motif batik Banten ini, misalnya seperti di Bali motif mandalikan digunakan secara sakral untuk upacara sakral agama Hindu. Nah, dari keajaiban ini kita terus meneliti dan memproduksi batik Banten," papar Uke.

>small 2small 0< yang menjadi ciri khas utama batik Banten adalah motif datulaya. Motif ini memiliki dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan, motif dasar berwarna biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu, pada dasar kain berwarna kuning. "Nama datulaya ini diambil dari tempat tinggal pangeran. Datu itu artinya pangeran, laya artinya tempat tinggal," jelas Uke.

Uke memulai usahanya di tahun 2004 dengan modal Rp 100 juta. "Kemudian PT Uthana mendapat dana pendampingan dari PT Jamsostek (Persero) sekitar Rp 100 juta serta dari PT Krakatau Steel Rp 200 juta," kata Uke.

Awalnya Uke hanya memiliki puluhan karyawan. Sekarang berjumlah ratusan. "Awalnya memang masyarakat kurang antusias, tapi seiring perkembangannya, masyarakat mulai tertarik untuk belajar membuat batik banten," katanya.

Setiap bulan Uke memproduksi sekitar 600 kodi batik, baik yang dicap, printing, maupun tulis. "Untuk batik tulis memakan waktu yang cukup lama. Dalam waktu dua minggu hanya dapat diproduksi satu batik. Tenaga yang mengerjakan hanya 10 orang," katanya.

Harga batik Banten tersebut berkisar Rp 75.000 hingga jutaan rupiah. Omzet per bulan sekitar Rp 100 juta. "Meski usaha ini masih seumur jagung, namun kami sudah mengekspor ke Malaysia, Finlandia, serta Korea," kata Uke.

Uke menceritakan, usahanya untuk membudayakan batik Banten tidak hanya sampai di situ. Pada 22 Desember 2004 saat dilangsungkan konvensi batik se-Indonesia Uke mengajukan saran kepada Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja untuk mengimbau instansi di setiap daerah agar menggunakan batik produknya sekali dalam seminggu.

Pada 31 Januari 2005 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 34/M/I/ 2005 mengenai imbauan penggunaan produk tenun tradisional, batik khas daerah.

"Dengan imbauan tersebut, semangat para pengrajin batik bangkit. Maka budaya Indonesia dapat terus bertahan dan berkesinambungan," kata Uke.

Menurut Uke, tantangan ke depan adalah memproduksi bahan baku dari Banten sendiri. Sampai kini bahan baku masih diambil dari Solo dan Pekalongan. Dia juga berharap usahanya ini bisa jadi badan usaha milik daerah. "Kan namanya batik Banten bukan batik Uke atau batik Uthana," ujarnya.

Membuat batik Banten dikenal di dalam dan luar negeri adalah mimpi Uke. "Selama ini suvenir dari Banten hanya golok. Kesannya terlalu kasar. Dengan batik Banten saya harap masyarakat Banten bisa dikenal sebagai masyarakat yang lembut dan berbudaya tinggi," tandasnya. Semoga mimpi Pak Uke Bisa tercapai....

(Tiur Santi Oktavia)

K Fuzy Agus, Buat Kompor Minyak Tanah Tanpa Sumbu

Kompas, Senin, 14 Maret 2005
Bisnis & Investasi

DI saat masyarakat sekarang mengeluhkan mahalnya harga elpiji yang saat ini Rp 53.000-Rp 55.000 per tabung, barangkali kompor minyak tanah tanpa sumbu bisa dijadikan salah satu alternatif untuk alat memasak. Kompor ini dibuat tahun 2003 oleh seorang pengusaha kecil dan menengah di Bandung, K Fuzy Agus (39). Saat ini kompor Gasmit sudah dipasarkan di daerah Bandung dan sekitarnya, Jakarta, Tangerang, Cianjur, Purwakarta, bahkan sampai Biak (Papua).

Fuzy menamakan produk buatannya Kompor Gasmit, kependekan dari kompor gas energi minyak tanah. Jika hendak memasak selama empat jam dengan kompor Gasmit, cukup membeli satu liter minyak tanah yang di eceran seharga Rp 1.300-Rp 1.500 per liter.

Menurut Fuzy, yang ditemui pabriknya di daerah Bandung, Minggu (13/3), nyala api dari kompor Gasmit berwarna biru sama seperti elpiji. Oleh karena itu, kompor Gasmit tidak menimbulkan asap hitam, tidak bau minyak tanah, dan tidak perih di mata.

Hal itu dibuktikan langsung oleh Fuzy. Pengganti sumbu dalam kompor Gasmit adalah pelat baja (burner). "Kompor ini dapat digunakan terus-menerus selama 24 jam dengan aman dan tanpa menimbulkan bahaya atau tidak meledak," ujar Fuzy setengah berpromosi.

PENAMBAHAN atau pengisian minyak tanah dapat dilakukan pada saat kompor menyala. Pada intinya, mekanisme kerja produk ini mengubah energi minyak tanah yang bersifat cair menjadi gas dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi. Untuk itu, tabung minyak tanah yang terbuat dari plastik keras harus disimpan lebih tinggi (1,5-2 meter) dari kompor Gasmit.

Dengan begitu, minyak tanah dan oksigen di dalamnya mengalir ke bawah melalui gaya gravitasi. Kemudian masuk ke dalam instalasi pipa panas (ruang) sehingga terjadi proses kabut atau proses perubahan minyak tanah yang bersifat cair menjadi gas. Proses perubahan awal minyak tanah menjadi gas itu dipanaskan dengan spiritus.

"Lalu burner bagian bawah menyala dan memanaskan instalasi pipa sehingga akhirnya burner bagian atas menghasilkan nyala api biru," ujar Fuzy Agus, pengusaha yang sudah berkecimpung dalam dunia manufaktur sejak tahun 1984.

Komponen kompor Gasmit terdiri dari rangka dan tungku yang mampu menahan beban 75 kg hingga 100 kg, pelat pelindung kompor, burner (sumbu yang terbuat dari pelat baja), spuyer penyalur minyak tanah, instalasi pipa besi tahan panas, mangkuk spiritus, keran on/off dan keran pembuangan, tabung minyak tanah, selang plastik (sekitar dua meter), botol penampungan, dan ring.

Cara kerja kompor Gasmit hampir sama dengan lampu petromaks, yang juga menggunakan burner dan spuyer serta spiritus. Bedanya, proses bekerja lampu petromaks harus dipompa dulu.

Harga kompor Gasmit di tingkat distributor Rp 175.000 per buah. Kalau kita berhitung, tentu saja menggunakan kompor Gasmit lebih efisien dibandingkan kompor gas. Setidaknya diperlukan uang sekitar Rp 600.000 untuk membeli kompor gas yang sudah dilengkapi dengan tabung dan isinya, serta selang gas dan regulator.

MENURUT Fuzy, saat ini produksi kompor ini masih 500 unit per bulan. Namun, ke depan akan ditingkatkan menjadi 750 hingga 1.000 unit per bulan. Ditanya keluhan dari konsumen, Fuzy Agus menyebutkan sejauh ini belum ada.

"Keluhan mereka karena soal kebiasaan saja. Kalau menggunakan kompor elpiji, api bisa langsung nyala begitu kompor dihidupkan. Namun, dengan menggunakan kompor Gasmit, harus menunggu 3-4 menit sampai api benar-benar menyala," ujarnya lagi.

Untuk membuat produk ini, Fuzy mengeluarkan investasi sebesar Rp 100 juta. Apabila penjualan sudah 5.000 unit, mungkin sudah bisa mencapai titik impas (break event point/BEP). Sampai sekarang total penjualan kompor Gasmit baru sekitar 3.000 unit.

Sebenarnya di era tahun 1960-an telah dilakukan pembuatan kompor yang menggunakan bahan bakar minyak tanah tanpa sumbu. Namun, pembuatan kompor itu terhenti dan banyak masalah dalam pembuatan sehingga tidak berlanjut. "Saya mulai ngulik (menekuni) kompor Gasmit sejak tahun 2000 dengan cara trial and error," ujar Fuzy Agus.

Sebelum diproduksi secara massal seperti sekarang, dia melakukan tiga tahap uji coba terhadap kompor Gasmit agar benar-benar memenuhi standar. Bagian penting yang diuji coba adalah instalasi pipa, spuyer, dan keran. "Proses pengujian tersebut memerlukan waktu sekitar 6-7 bulan," ujar Fuzy.

Saat wawancara, Fuzy juga mendapat pesanan kompor Gasmit melalui telepon dari Cianjur dan Biak. Menurut dia, sebenarnya tanpa bantuan pemerintah pun para pengusaha usaha kecil dan menengah (UKM) sudah bisa jalan sendiri. "Asal kita tidak direcoki (instansi pemerintah) saja sudah senang," ungkap Fuzy menceritakan tentang nasib UKM yang sering dijadikan obyek kepentingan dari elite birokrasi dan elite politik di negeri ini.

MENGENAI kompor Gasmit yang diciptakannya itu, Fuzy lebih suka disebut sebagai pengembang dibandingkan sebagai penemu kompor minyak tanah tanpa sumbu ini. Untuk memantapkan hasil karyanya, dia sebenarnya ingin mematenkan kompor Gasmit. "Namun, saya agak kurang bersemangat karena ngurusnya sulitnya minta ampun," ujarnya.

Sebagai salah seorang pengusaha UKM, kini Fuzy sibuk keliling daerah di Jawa Barat. Bukan untuk memasarkan kompor Gasmit, tetapi membantu Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyeleksi para pengusaha UKM yang dianggap layak untuk diberdayakan.

"Saat ini jumlah pengusaha UKM di Jawa Barat sekitar 5.000. Nanti akan diseleksi jadi 500 pengusaha," ujarnya.

Fuzy sebenarnya berharap produk teknologi tepat guna seperti kompor Gasmit ini bisa disosialisasikan dan "dijual" oleh instansi pemerintah yang terkait, meski dia sendiri yang harus membuat. Namun sampai sekarang tak ada yang tertarik.

"Mungkin produk seperti ini bukan termasuk dalam kategori proyek yang bisa mendatangkan uang dalam jumlah besar," ucapnya. (TJAHJA GUNAWAN)

Edhi Setiawan dan Usaha Ukir Khas Madura

Kompas, Senin, 28 Maret 2005
Bisnis & Investasi



MEBEL. Komoditas ini tengah menjadi sorotan akibat banyaknya persoalan yang dihadapi, semisal kelangkaan dan tingginya harga bahan baku. Di Madura, sentra industri mebel Karduluk tak luput dari masalah itu.

Kebangkitan mebel ukir khas Madura tak lepas dari peran Edhi Setiawan (59). Budayawan peraih Upakarti, penghargaan Presiden Republik Indonesia untuk Jasa Pengabdian dalam Usaha Pengembangan Industri Kecil dan Kerajinan, tahun 1993 ini yang tetap meyakini bahwa selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kerajinan seni ukir khas Madura juga dapat dijadikan sebagai pilihan bidang usaha.

Selain membuka rumah makan, Edhi juga melayani pesanan mebel khas Madura. Selain pasar lokal, pembeli mebel juga datang dari luar daerah, semisal Jakarta dan Bandung. Dalam satu bulan, rata-rata dia melayani pesanan satu hingga tiga set mebel.

Dia merancang sendiri desain mebelnya. Lalu untuk pengerjaan, mulai dari bahan baku hingga produk setengah jadi, diserahkan kepada para pengukir. Proses di tahap akhir produk, Edhi mempekerjakan lima pengecat di kediamannya di Jalan Jenderal Sudirman 34, Sumenep, Madura.

Dia tidak dapat menyebutkan secara pasti berapa omzetnya per bulan. Alasan Edhi, pendapatan itu sangat tergantung pada banyak sedikitnya pesanan. "Omzetnya bisa cuma jutaan rupiah, bisa pula di atas Rp 10 jutaan. Tidak tentulah, tergantung pesanan," katanya.

Sebagai gambaran, harga meja kursi berukir motif Madura bikinan baru harganya berkisar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per set, tempat tidur sekitar Rp 7 juta per unit, dan peti bervariasi mulai Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per buah.

Harga mebel kuno minimal empat kali lipat ketimbang buatan baru. Bahkan untuk barang antik berkelas, harga jualnya bisa puluhan kali lipat, tergantung kualitas, kerumitan ukiran, dan eksklusivitasnya.

LELAKI kelahiran Sumenep tanggal 13 Januari 1946 ini mulai mencintai mebel antik Madura sekitar tahun 1970. "Pengalaman saya di bidang barang antik mengukuhkan pendapat saya bahwa dulu Madura dipenuhi pengukir tangguh dalam menghasilkan karya bernilai tinggi," tutur suami dari Trisna Dewi ini.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang tahun 1974 ini pada tahun 1980-an mulai membina sekitar 15 perajin, yang terutama terkonsentrasi di Karduluk. Saat ini Karduluk dikenal sebagai sentra mebel ukir khas Madura. Karena keeksotikan mebelnya, ada yang menyebut Karduluk sebagai Jepara-nya Madura.

Edhi tidak hanya memberi dukungan modal kepada perajin binaannya, tetapi juga menampung dan memasarkan produk mebel para perajin. Pada masa-masa awal, barang berkualitas kurang baik pun tetap dia tampung. Sebagian dia jual rugi, bahkan ada juga yang diberikan cuma-cuma kepada orang lain.

"Ini kiat bagi mereka yang ingin membina perajin. Jangan hanya memberi dukungan modal dan teknik produksi, tetapi beri juga mereka kepastian pasar," kata Edhi. Jaminan bahwa karyanya laku akan membuat perajin bersemangat dalam memproduksi barang.

Keberadaan rumah makan dan Art Shop 17 Agustus miliknya yang ramai dikunjungi pengunjung menjadi wahana promosi efektif bagi pemasaran produk mebel dari para perajin binaannya. Edhi juga menggunakan ajang pameran untuk mengenalkan dan memasarkan produk ukir khas Madura.

"Beberapa kali saya ikut pameran di Jakarta dan Surabaya, seperti di Taman Mini Indonesia Indah dan hotel-hotel," katanya.

Produk mebel ukirnya pun sering dipinjam oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumenep untuk diikutkan dalam pameran produk di berbagai daerah.

Selaku budayawan yang aktif dalam beragam kegiatan seni budaya, banyak koleganya kemudian mengenal produk ukir Madura tersebut dan mengenalkan kepada orang lain. Melalui promosi gethok tular (dari mulut ke mulut) semacam itulah Edhi mengenalkan produknya ke pasar.

Pengenalan motif klasik kepada para perajin binaan setempat melalui foto-foto dokumentasi ataupun barang antik yang dikoleksi Edhi ikut mengubah kondisi permebelan di Madura. Ukiran Madura dibedakan dengan daerah lain dalam hal kekayaan ragam ukir. Warna ukiran Madura lebih mencolok dan goresan pahatannya lebih ekspresif dibandingkan dengan ukiran Jawa. Di era tahun 50-an hingga tahun 80-an, tidak banyak ukiran khas Madura yang dipahatkan pada mebel buatan Karduluk. Selepas tahun 1985, mulai bermunculan penggunaan motif ukir klasik di mebel buatan para perajin setempat.

TERKAIT melambungnya harga bahan baku yang dialami perajin beberapa sentra produksi mebel di Jawa, Edhi menuturkan, kondisi yang sama juga terjadi di Madura. Sebagai gambaran, kayu jati yang digunakan para perajin mebel di Madura berasal dari Bojonegoro, Pulau Kangean, dan dari kayu jati rakyat yang ditanam di Sumenep.

Berdasarkan hasil konfirmasi kepada perajin di Karduluk, harga kayu jati berkualitas bagus pada pertengahan Desember 2004-Februari 2005 masih berkisar Rp 4,5 juta-Rp 5 juta per gelondong. Namun, pascakenaikan harga BBM, harga kayu jati menembus Rp 6 juta per gelondong.

Untuk membantu perajin binaannya, Edhi menaikkan harga beli produk perajin sekitar 10 persen. Akibatnya, margin keuntungan yang diperolehnya menipis karena sulit baginya untuk menaikkan harga jual ke konsumen.

"Untuk menaikkan harga jual mebel kepada konsumen masih pikir-pikir sebab harus melihat kondisi pasar," kata Edhi menjelaskan.

"Dari sisi usaha, jika diukur nominalnya, upaya saya mungkin tidak begitu berarti. Namun, minimal apa yang saya lakukan sejak tahun 1985 menjadikan ukiran Madura tumbuh lagi sehingga orang lain dapat mengembangkannya," katanya merendah.

Satu hal yang jelas, kepedulian Edhi Setiawan dalam melestarikan kerajinan ukir khas Madura mengantarnya sebagai penerima Upakarti. (C ANTO SAPTOWALYONO)