Tuesday, September 27, 2005

Entrepreneur | Nazir, dari Bakso ke Rumput Laut

Nazir, dari Bakso ke Rumput Laut

Kompas, Senin, 06 September 2004
Bisnis & Investasi

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/06/ekonomi/1249849.htm

JALAN hidup setiap orang memang sulit ditebak. Bahkan, untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan peningkatan pendapatan, dia harus melewati aneka macam tantangan dan rintangan. Kisah seperti ini juga dialami Mohammad Nazir Daeng Tujuh (36), orang yang melakukan budi daya sekaligus pedagang rumput laut di Dusun Malelaya, Desa Punaga, Kecamatan Mangara Bombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Malelaya termasuk salah satu daerah pesisir yang berjarak sekitar 60 kilometer arah timur Makassar.

Semula, lelaki yang hanya tamat sekolah dasar (SD) ini menjadi penjual bakso di Jalan Petarani, Makassar. Selama dua tahun menekuni profesi tersebut tak juga mampu memberi harapan akan masa depannya yang lebih baik. Mengingat pendapatan bersih dari penjualan bakso yang diperolehnya rata-rata hanya mencapai Rp 15.000 per hari, atau Rp 450.000 per bulan. Sementara itu, biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi keperluan keluarga setiap bulannya terus meningkat, seiring dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Bahkan, seringkali Nazir harus berutang pada teman atau saudaranya hanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan mendadak dari keluarga. "Saat itu saya hampir frustasi menghadapi kenyataan bahwa biaya yang dibutuhkan lebih besar dari pendapatan," kata Nazir.

Berangkat dari keresahan itu, sekitar pertengahan tahun 1994, ayah empat anak itu pulang ke desanya di Punaga. Di sana dia melihat sejumlah warga setempat mulai membudidayakan rumput laut. Aktivitas itu memancing hasratnya untuk ikut melakukan budi daya tersebut. Suami dari Salmawati (25) ini pun akhirnya memutuskan untuk tidak ingin kembali ke Makassar berjualan bakso. Nazir pun mulai banting setir menjadi seorang nelayan budi daya rumput.

Sejak itu mulailah Nazir melakukan budi daya rumput laut. Dua kerbau miliknya seharga Rp 3 juta dijualnya dipakai sebagai modal usaha budi daya rumput laut. Mula- mula dia membudidayakan rumput laut di areal laut berukuran 70 meter x 80 meter. Hasilnya cukup menggembirakan. Sekali panen bisa menghasilkan pendapatan bersih berkisar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta.

Rumput laut tergolong tanaman umur pendek. Hanya dalam kurun waktu 40 hari sampai 45 hari sudah bisa dipanen. Setiap satu ton rumput laut basah (dengan kadar air 98 persen) setelah dijemur selama lima hari dapat menghasilkan kurang lebih 134 kilogram rumput laut kering. Nazir yakin mampu menjual rumput laut yang disyaratkan oleh pabrik atau pedagang pengepul, yakni rumput laut kering dengan kadar air antara 33-35 persen.

Saat ini harga rumput laut di tingkat petani di wilayah Takalar dan sekitarnya terus meningkat. Pada 10 tahun lalu harga rumput laut masih berkisar Rp 1.000-Rp 1.500 per kilogram. Namun, tahun 2000 lalu harganya sudah menjadi Rp 2.000-Rp 2.500 per kilogram. Bahkan, kini harga rumput tersebut berkisar Rp 3.800-Rp 4.000 per kilogram. Harga ini relatif masih rendah karena panjangnya mata rantai pemasaran. Harga pabrik berkisar antara Rp 4.700-Rp 5.000 per kilogram.


SEKALIPUN rumput laut berpeluang mendongkrak kehidupan masyarakat pesisir, namun baru sebagian kecil penduduk di Desa Punaga yang terjun pada usaha pembudidayaan komoditas tersebut. Penyebabnya hanya satu, yakni ketiadaan modal. Berbagai upaya dilakukan masyarakat sekitar, seperti mengajukan kredit kepada perbankan. Namun, hasilnya selalu ditolak, sebab tidak disertai agunan.

Melihat kondisi itu, Nazir pun iba. Dia kemudian menawarkan modal usaha kepada masyarakat setempat yang ingin membudidayakan rumput laut. Modal itu tidak dalam bentuk uang, tetapi bibit, tali rafia, pelampung, dan berbagai fasilitas lain yang dibutuhkan. Syarat yang diberikan Nazir hanya satu, yakni rumput laut yang diproduksi dan sudah dikeringkan harus dijual kepadanya seharga Rp 3.800-Rp 4.000 per kilogram sesuai dengan kualitas. Nazir lalu menjual lagi produk itu kepada eksportir di Makassar seharga Rp 4.700-Rp 5.000 per kilogram.

Dari penjualan itu, penerima kredit modal usaha dari Nazir memperoleh keuntungan bersih Rp 200-Rp 300 per kilogram, karena ongkos produksi setiap kilogram rumput laut rata-rata Rp 3.700 per kilogram.

"Sepintas, pendapatan yang diperoleh para pembudi daya rumput laut sangat kecil, tetapi nyatanya cukup besar. Bibit hanya diberikan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dan November, sebab pada bulan Mei dan Oktober kondisi air laut di sini kurang baik untuk budi daya rumput laut. Sementara itu, dalam setahun mereka bisa memanen empat sampai lima kali. Jadi, keuntungan yang didapat pembudi daya meningkat pada panen kedua dan seterusnya, sebab tak ada lagi beban biaya pengadaan bibit. Bibit yang dipakai diambil dari hasil produksi penanaman pertama," kata Nazir yang tetap berharap diberikan kemudahan kredit dari bank untuk peningkatan usaha para pembudi daya rumput laut.

Kini, Nazir menjadi "bapak angkat" bagi 60 keluarga pembudi daya rumput laut di Dusun Malelaya. Dalam setiap bulan dia selalu mengumpulkan minimal tujuh ton rumput laut kering, lalu dijual ke Makassar. "Setelah dibantu modal dari Nazir, hidup kami menjadi lebih baik. Pendapatan pun meningkat sehingga bisa membeli makanan, memperbaiki rumah, membeli perabotan rumah dan televisi, serta menyekolahkan anak," ujar Ali (35) yang mengaku penghasilan bersih yang diperolehnya bisa mencapai Rp 1 juta per bulan.

Nazir sungguh luar biasa. Pilihannya beralih profesi menggeluti usaha budi daya rumput laut ternyata mampu mendongkrak kehidupan banyak orang. (JANNES EUDES WAWA)

Entrepreneur | Hariyono Purwanta, Kembangkan Kerajinan Tas Batok Kelapa

Hariyono Purwanta, Kembangkan Kerajinan Tas Batok Kelapa

Kompas, Senin, 20 September 2004
Bisnis & Investasi

SAMPAH jadi uang! Batok kelapa yang dibuang begitu saja dalam dua tahun terakhir ini berhasil diolah Hariyono Purwanta (35) untuk dibuat menjadi berbagai model tas. Hasil kerajinan batok kelapanya itu tak hanya menjadi monopoli di pasar lokal, tetapi juga ke pasar ekspor, seperti Malaysia dan Iran.

Hariyono, yang selama ini menitipkan hasil karyanya kepada rekannya untuk dipamerkan, kini mulai kewalahan memenuhi order, baik dari dalam maupun luar negeri. "Baru-baru ini ada pembeli dari Iran berminat membeli tas berbagai model. Sebagai tahap awal, calon pembeli itu telah memboyong minimal 50 jenis tas dari batok kelapa ke negaranya. Informasinya, tas berbahan baku batok kelapa seperti ini pasarnya di negara itu sangat potensial," kata pelaku usaha kecil yang sudah menggeluti usaha peternakan ayam dan pupuk organik itu.

Sebelum menjadi pengusaha tas, Hariyono telah menjajal bisnis pengolahan pupuk organik tanpa bantuan modal dari perbankan dan keluarga. Bisnis yang digeluti memang tidak jauh dari latar belakang pendidikannya di bidang pertanian, Jurusan Agronomi, yang pernah ditekuni di Universitas HOS Tjokroaminoto, Yogyakarta, meski kandas di tengah jalan.

Sejak terjun ke sektor kerajinan batok kelapa, Hariyono memang agak keteteran menggarap pengolahan pupuk organik sehingga mulai ditinggalkan. Pasalnya, mengerjakan tas batok kelapa bukan pekerjaan mudah. Sebab, untuk membuat tas dari batok kelapa, dibutuhkan ketekunan dan keseriusan. Untuk mendapatkan 500 bulatan kecil seperti kancing, dibutuhkan waktu enam hari bagi seorang pekerja.

Kebutuhan batok kelapa pun terus meningkat karena untuk satu karung besar dengan berat 100 kilogram bisa dikerjakan dalam empat hari. "Bahan baku memang mudah diperoleh karena banyak warga yang sudah datang menjual batok kelapa ke sini. Pokoknya sampah sudah jadi duit," katanya.

TAS yang dibuat Hariyono bersama sekitar 20 perajin diberi merek dagang UD Sumber Makmur. Produk tas batok kelapa ini membuat Hariyono berbeda dengan pengusaha tempurung lainnya di Yogyakarta dan Surabaya, Jawa Timur. Keunggulan buatan Hariyono terletak pada desain produknya yang lebih variatif ketimbang produk serupa yang dibuat oleh pengusaha lain.

Ayah dua anak ini mulai menekuni bisnis tas berbahan baku tempurung sejak dua tahun lalu. Bermodal Rp 16 juta, Hariyono memulai membeli mesin untuk proses produksi. Hariyono, yang sebelumnya juga sudah berbisnis pupuk, mulai belok ke usaha tas berbahan baku tempurung kelapa ini setelah mendengar informasi bahwa peluang pasar produk kerajinan ini di tingkat nasional maupun ekspor cukup kuat. Dengan mesin yang ada, Hariyono bisa menghasilkan produk kerajinan antara lain kalung, gelang, tempat telepon genggam, meja, dan berbagai pernak-pernik yang semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Saat memulai usaha, Hariyono dibantu oleh seorang pekerja. Maklum, karena pada waktu itu mesin untuk berproduksi hanya dua. Seiring dengan perkembangan waktu, order pun terus bertambah dari berbagai kota di Indonesia sehingga mesin produksi pun terus bertambah. Kini sedikitnya Hariyono berhasil membuat usahanya lebih besar sehingga mampu menampung 20 tenaga kerja.

Besarnya jumlah tenaga kerja yang mereka pakai adalah karena pada umumnya proses produksi masih banyak yang manual, kata Hariyono. Proses pembuatan tas dari tempurung secara manual ini menyebabkan proses produksi memakan waktu enam hari, yang dikerjakan oleh satu orang. Prosesnya dimulai dari memotong tempurung berbentuk seperti kancing, dihaluskan, ditempel pada satu media, kemudian dihaluskan lagi pada sisi luar, lalu dijahit dengan tangan. Semuanya dilakukan dengan tangan agar memperoleh hasil yang rapi.

Proses produksi inilah yang membuat produknya bisa laku di pasar karena selain unik, pembuatannya juga halus. Beda jika dilakukan dengan menggunakan mesin, sentuhannya pasti tidak serapi dengan menggunakan tangan, yang biasanya jauh lebih terampil.

Keyakinan untuk banting setir ini ternyata berbuah hasil. Dewi Fortuna mendekatinya ketika untuk pertama kali produknya dipamerkan di Forum Kesenian Yogyakarta VIII Tahun 2003. Di ajang pameran itu produknya mendapat sambutan positif. Di pameran itu dia mulai menerima banyak pesanan dari Jakarta, Surabaya, bahkan orang asing membeli langsung ke tempat usahanya.

Pemasaran dilakukan bersama-sama dengan istrinya, Riyanti Tri Utami. "Saya pernah mendapat order membuat 150 tas. Itu order terbesar yang pernah saya dapat," ujarnya. Kemampuan membuat tas masih sangat minim, yakni 250 tas dengan 55 model per bulan ditambah pernak-pernik lain karena mesin yang dimiliki masih sedikit. Harga tas buatan Hariyono Rp 40.000-Rp 250.000 per buah, sedangkan harga meja kecil yang dibuatnya Rp 400.000.

Padahal, jika ada order 1.000 tas saja setiap bulan, minimal 350 pekerja bisa menggantung hidup pada usaha kerajinan batok kelapa itu. "Saya ingin meningkatkan kapasitas produksi karena pesanan luar biasa banyak. Apalagi beberapa konsumen dari Timur Tengah mulai melakukan order. Cuma, saya sulit memenuhi karena tidak cukup modal untuk membeli mesin yang harganya di atas Rp 10 juta per unit," ujarnya.

Tak jarang ia bersama istrinya harus pontang-panting ke sana-kemari untuk mencari modal awal memenuhi permintaan pembeli karena barang tidak tersedia. "Kalau ada bantuan modal, mesin bisa saya tambah. Otomatis tenaga kerja yang terserap pun akan bertambah, terutama bagi lingkungan sekitar," kata Hariyono yang juga memasarkan produknya melalui beberapa koperasi di Yogyakarta. (AGNES SWETTA PANDIA)

Entrepreneur | Ignatius Sumardi, dari Tungku Kompor hingga Onderdil Motor dan Mobil

Ignatius Sumardi, dari Tungku Kompor hingga Onderdil Motor dan Mobil

Kompas, Senin, 27 September 2004
Bisnis & Investasi



SPESIALISASI! Mimpi ini yang hendak diraih Ignatius Sumardi (48), pelaku usaha kecil menengah (UKM) di sektor komponen otomotif. Memang berbagai jenis dan model onderdil kendaraan bermotor sudah diproduksi sejak tahun 1992, yang diawali dengan pendirian bengkel kecil di rumahnya.

Namun, tanpa ada spesialisasi, terutama dalam hal produk komponen otomotif, secara perlahan tetapi pasti, produk yang dihasilkan akan tersaingi bukan hanya oleh barang serupa dari impor, tetapi juga buatan dalam negeri.

Untuk meraih hasrat memiliki spesialisasi dalam hal produk komponen otomotif, Sumardi pun tidak pernah berhenti belajar. Menggali ilmu tidak hanya dilakukan lulusan Akademi Teknik Mesin Industri di Solo ini dengan membaca berbagai buku ditambah pengalamannya mengikuti pelatihan dan pendidikan ketika bekerja di perusahaan otomotif di negeri ini.

Segala cara juga diupayakan untuk memperjuangkan terwujudnya mimpi memiliki spesialisasi sehingga ada trademark sendiri sebagai keunggulan untuk bersaing di pasar dalam dan luar negeri. Sumardi yang kini memiliki perusahaan bernama PT Galih Ayom Paramesti (GAP), yang berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat Pekopen, Lambang Jaya, Tambun, Bekasi, sudah mempekerjakan 60 orang.

Perusahaan yang dirintis dari bengkel kecil dan penyedia berbagai jasa yang berkaitan dengan mesin otomotif itu kini bisa memproduksi puluhan bahkan ratusan ribu onderdil kendaraan bermotor dengan berbagai jenis setiap bulan.

DENGAN omzet ratusan juta rupiah per bulan, Sumardi kini membutuhkan logam minimal 50 ton per bulan. Sebagai pengusaha, badai krisis moneter yang melanda negeri ini tahun 1998 juga menghantam perusahaan yang ketika itu mulai berkembang dengan tenaga kerja 20 orang.

"Begitu krismon (krisis moneter), order pun sepi hingga tahun 2000 sehingga saya sempat banting setir jualan beras, jadi broker apa saja untuk bisa bertahan. Bahkan pekerjaan mengelas pagar rumah pun digarap untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh," kata suami Bernadetta W (46) ini.

Pabrik tempat memproduksi berbagai macam onderdil otomotif dijadikan gudang beras. "Saya sempat ketakutan ketika pasokan beras dari Pulau Jawa meningkat sehingga ada penumpukan di gudang. Saya khawatir dituduh menimbun beras karena ketika itu negeri in sedang krisis," ujar Sumardi yang mengaku usahanya bisa bangkit ketika krisis berkat order dari perusahaan kompor Rinai, untuk menggarap tungku kompor dari logam.

Setelah badai krisis ekonomi berlalu, secara perlahan, usaha Sumardi pun mulai menggeliat. Sumardi yang memasarkan produknya melalui tiga cara, yakni original equipment manufacturing (OEM), yaitu produk dipasok ke produsen untuk dirangkai menjadi mobil dan sepeda motor buatan produsen tersebut. Ketika itu, dia sempat mengerjakan rotor disc untuk Toyota. Selain itu, ia juga membuat genuine part atau onderdil asli sesuai dengan pesanan produsen mobil dan sepeda motor, dan dijual sebagai suku cadang asli dari merek produsen.

Khusus pemasaran ini, Sumardi bisa memasok ke Astra karena dia merupakan binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang juga menyuntikkan modal kerja melalui Astra Modal Ventura (AMV).

Selain menggarap order dari OEM dan suku cadang asli, ayah dari Dito (16) dan Kalis (14) itu menembus pasar after market, yakni dengan menjual produk onderdil langsung ke pasar bebas. Komponen yang dipasok ke pasar langsung ini tidak menggunakan merek tertentu.

Memang dengan sistem pemasaran langsung ke pasar, segala sesuatu termasuk order dari pemilik toko serba tidak jelas. Misalnya, mendadak permintaan dari pasar datang dalam jumlah besar dan model komponen yang beragam, padahal ketika itu tidak ada persediaan yang cukup. Sementara tidak jarang ketika stok melimpah, permintaan justru sepi.

"Keuntungan memasarkan produk melalui after market, ada uang ada barang. Paling lambat, satu minggu tagihan cair. Artinya, tidak perlu menunggu berbulan-bulan pembayaran cair, bukan seperti kalau memasok ke OEM atau suku cadang asli yang butuh waktu lama," katanya.

Sampai sekarang Sumardi tetap menjalankan tiga pola pemasaran dengan perbandingan 70 : 30, yakni untuk memasok pasar secara langsung dia hanya mengisi 30 persen, sedangkan 70 persen dipasarkan ke OEM dan produsen otomotif.

SEBENARNYA, kata Sumardi, dengan kondisi usaha pembuatan komponen otomotif yang terus berkembang, sudah banyak rekan dan perusahaan lain yang ingin bergabung ke PT GAP untuk mengembangkan usaha tersebut secara bersama- sama. Beberapa tahun lalu ia bersama koleganya membeli mesin pembuatan knalpot, namun karena masih ada beberapa kendala, mesin itu masih menganggur.

"Salah perhitungan sejak awal sehingga mesin itu belum bisa dioperasikan meski sudah dibeli. Ada pemikiran ke depan mungkin saya menspesialisasikan produk knalpot, tetapi masih ada kendala," kata pelaku UKM ini, yang sampai sekarang masih dihantui berbagai pungutan resmi dari pemerintah daerah setempat dengan bermacam-macam alasan.

Sumardi tampaknya sangat hati-hati menjalin kerja sama dengan pihak lain untuk mengembangkan usahanya meski ada kebutuhan modal kerja, terutama untuk membeli mesin. Alasannya, dia khawatir usaha yang dirintis dengan susah payah itu justru terombang-ambing setelah menjalin kerja sama dengan pihak lain.

"Saya berencana mengajukan tambahan modal ke YDBA melalui AMV untuk meningkatkan kapasitas produksi. Bukan bermitra dengan orang per orangan untuk mengamankan perusahaan yang saya rintis dengan menggunakan modal sendiri," ujar Sumardi yang telah mulai menerapkan lingkungan hijau di kompleks pabrik meski secara kecil-kecilan.

Sambil terus meningkatkan kualitas produk, Sumardi pun tak henti berinovasi agar memiliki spesialisasi dalam membuat komponen otomotif yang berkualitas sehingga hasil karyanya tidak tergilas di era perdagangan global.

Demi mewujudkan mimpinya, Sumardi pun tengah mengincar lahan bekas pabrik milik tetangganya seluas 1.300 meter persegi. Sebab, jika hanya mengandalkan lahan pabrik yang dimiliki seluas 1.000 meter persegi, sulit mengembangkan bisnis yang sangat prospek tersebut.

Mengembangkan usaha di bidang komponen otomotif berarti menambah fasilitas mesin, jadi perlu lahan luas. Hanya saja, karena keterbatasan dana, Sumardi memilih mengontrak lahan karena prinsip utama dia adalah bagaimana produk onderdil yang dibuatnya tidak kalah bersaing di pasar lokal. (AGNES SWETTA PANDIA)

Irwan Hidayat, Membangun Kepercayaan terhadap Jamu

Irwan Hidayat, Membangun Kepercayaan terhadap Jamu

Kompas, Senin, 04 Oktober 2004
Bisnis & Investasi


KEPERCAYAAN. Kata yang kini menjadi acuan setiap rencana dan langkah yang diambil oleh Irwan Hidayat (57), Direktur Utama PT Sido Muncul. Membangun kepercayaan itulah yang kini menjadi motivasinya dalam mengembangkan industri jamu yang telah dirintis oleh neneknya, Ny Rakhmat Sulitio, sejak tahun 1951.

Sebagai generasi ketiga yang dipercaya untuk melanjutkan bisnis keluarga, Irwan tidak bisa hanya melanjutkan begitu saja tradisi yang telah terbangun di perusahaan. Situasi dan kondisi zaman yang dihadapi telah jauh berbeda, begitu pula tuntutan konsumen terhadap produk yang dihasilkan. Keadaan itu yang memacunya mencari terobosan-terobosan baru untuk mengangkat "gengsi" jamu agar dapat setara dengan obat, atau setidaknya menjadi pengobatan alternatif yang teruji keabsahan dan keilmiahannya.

"Semua dimiliki oleh jamu, ribuan spesies tanaman obat ada di Indonesia, ahli pembuat jamu banyak. Yang tidak dimiliki industri jamu adalah kepercayaan. Kepercayaan konsumen itu yang harus kita bangun," kata Irwan, yang pernah bekerja di perusahaan farmasi sebelum menggeluti industri jamu.

Jika pabrik farmasi punya dokter sebagai partner, obat-obatan dari China punya sinshe sebagai pengobat, namun tidak demikian dengan jamu. Tidak ada pengobat yang dapat menjadi partner bagi industri jamu untuk "memasarkan" produknya. Ketiadaan pengobat ini yang harus diatasi oleh industri jamu, yaitu dengan membangun kepercayaan publik bahwa jamu juga punya kredibilitas dalam hal kebersihan, uji toksisitas (tingkat peracunan-Red), dan syarat-syarat lain yang harus dipenuhi oleh obat.

Untuk itu, terobosan harus dilakukan. Tahun 1997 saat banyak industri terseok-seok menghadapi badai krisis yang melanda Indonesia, PT Sido Muncul justru mencanangkan pembangunan pabrik dengan sertifikasi industri farmasi, dan laboratorium yang terstandardisasi sebagai laboratorium farmasi.

Di areal seluas 32 hektar, dibangun laboratorium seluas 3.000 meter persegi dengan biaya Rp 2,5 miliar, dan pabrik seluas tujuh hektar, termasuk pabrik mi. Kini di areal itu juga dikembangkan sarana agrowisata seluas 1,5 hektar. "Modalnya nekat. Ketidaktahuan justru menyelamatkan saya. Saat itu saya tidak punya utang dollar AS. Tetapi, karena tidak tahu, dari Rp 15 miliar yang dianggarkan, biaya pembangunan pabrik membengkak sampai Rp 30 miliar," kata Irwan.

Kenekatan itu kini membuahkan hasil. Tahun 2000 Departemen Kesehatan memberikan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) kepada PT SidoMuncul, selama ini industri jamu hanya mendapatkan sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). "Kini kami siap menghadapi persaingan global," tekad Irwan.

DISADARI, pasar jamu di Indonesia sangat kecil, hanya sekitar Rp 2 triliun per tahun yang diisi oleh 650 pabrik jamu. Untuk itu, harus ada upaya mengembangkan pasar, baik di dalam negeri maupun menjangkau pasar luar negeri. Irwan berkeras hati untuk bisa masuk ke pasar China, meski diakui hal itu tidak mudah karena Pemerintah China sangat melindungi industri obat-obatan tradisionalnya.

"Kami sudah masuk ke pasar Hongkong, kami akan berusaha agar bisa menembus China. Kita harus buktikan kalau produk kita lebih baik dari yang mereka punya. Itu tidak hanya akan mempermudah kita masuk ke negara- negara lain, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pasar di dalam negeri," kata Irwan yang meyakini hanya yang bisa melakukan terobosan yang akan dapat bertahan dan berkembang.

Sementara untuk memperluas pasar di dalam negeri dilakukan diversivikasi produk, yaitu dengan mengembangkan produk "brand", yaitu minuman kesehatan dalam bentuk serbuk. Potensi di pasar minuman kesehatan ini masih terbuka luas, dan pemainnya masih terbatas, tidak sehiruk-pikuk jamu. Di sisi lain pabrik yang dibangunnya adalah pabrik farmasi yang memiliki standar CPOB. Produk lain yang kini juga dikembangkan, karena yakin potensi pasarnya masih besar, yaitu mi instan, permen kesehatan, dan minuman kesehatan dalam bentuk cair.

Selain itu, dilakukan langkah-langkah untuk membangun pasar secara vertikal. Jika selama ini jamu sering kali diidentikkan dengan kalangan masyarakat di lapisan menengah bawah, kini dibangun citra bahwa jamu juga milik kelompok masyarakat menengah atas. Pencitraan itu dilakukan dengan mengubah konsep iklan, yaitu menampilkan tokoh-tokoh yang menjadi "wakil" kelas menengah atas, yaitu pengusaha Setiawan Djodi, pakar pemasaran Rhenald Kasali, dan kelompok musik "Dewa". Usaha meningkatkan citra ini mendapat penghargaan Anugerah Cakram tahun 2002 untuk pengiklan terbaik.

Berbagai penghargaan pun diraih antara lain Kehati Award tahun 2001, Bung Hatta Award tahun 2002 sebagai Perusahaan teladan, Produk Terbaik dari ASEAN Food Conference ke-8, Penghargaan Merek Dagang Indonesia tahun 2003, dan penghargaan dari Departemen Perhubungan dan Departemen Tenaga Kerja sebagai pelaku bisnis peduli lingkungan, karena telah menyelenggarakan program mudik Lebaran gratis buat para pedagang jamu yang telah dilakukan sejak tahun 1995.

Tidak hanya itu, tekadnya memperluas pasar dalam negeri membuat Irwan dengan kemeja promosinya tidak segan-segan untuk terjun langsung ke pasar menjumpai distributor, agen, bahkan pedagang jamu gendong atau pemilik kios jamu untuk memasarkan produknya. Dalam satu bulan terakhir ini, tidak kurang 7.000 orang telah ditemuinya untuk memasarkan produknya, dan hasilnya tidak sia-sia. Dalam tiga bulan sejak produk minuman kesehatannya diluncurkan, telah terjual 16 juta bungkus, atau sekitar seperenam dari pasar minuman kesehatan yang dikuasai oleh minuman sejenis yang telah lebih dahulu masuk ke pasar dan memimpin pasar.

KINI ada 60 distributor tersebar di setiap kabupaten di Pulau Jawa menjadi mitranya. Ditunjang oleh sekitar 150.000 pedagang jamu yang menjadi jaringannya, terdiri dari sekitar 120.000 pedagang jamu gendong dan 30.000 depot jamu. "Kita itu butuh membangun networking. Itu tidak bisa dilakukan kalau kita hanya duduk di dalam kantor, turun ke bawah itu akan lebih menyentuh dan membuat ikatan lebih kuat," katanya.

Meski belum sepenuhnya sesuai dengan harapan, Irwan mensyukuri kondisi perusahaan yang dipimpinnya bersama lima saudaranya jauh lebih baik dari saat awal diwariskan kepada dirinya tahun 1972. Perusahaan keluarga ini dilimpahkan kepada dirinya dalam keadaan menanggung utang dan hampir tanpa aset yang berarti.

"Utang bahan baku kalau dihitung itu sekitar 30 bulan omzetnya, pabrik hanya 600 meter persegi, dan pekerjanya 100 orang tanpa punya mesin satu pun," tuturnya tanpa bersedia merinci berapa omzetnya sekarang. "Tidak terlalu besar, tetapi lumayanlah bisa punya pabrik yang cukup modern, laboratorium yang bagus, dan karyawan sudah 2.000 orang," ujarnya.

Sampai dengan tahun 1993, kondisi perusahaan belum menunjukkan titik terang. Tetapi Irwan mencoba, dan terus mencoba. Tidak pernah ada kata menyerah karena keyakinan bahwa setiap orang punya kesempatan. "Matahari memang cuma satu, tetapi yang bercahaya kan tidak cuma matahari, jadi lilin pun bisa bercahaya," katanya.

Diakui, banyak kesalahan-kesalahan yang tidak perlu terjadi dilakukannya hanya karena ketidaktahuannya. "Saya masih banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Tahun 1993 itulah saya mendapat pelajaran yang berarti justru dari orang-orang yang tak terduga, yaitu dari orang gila yang dengan terus terang mengatakan jamu saya pahit, tidak enak, yang akhirnya membuat saya berpikir keras bagaimana membuat jamu yang disukai. Biro iklan yang menolak saya mengajarkan bahwa bisnis itu harus dengan hati nurani, dan tukang bajaj mengajarkan kepada saya bahwa kita ini punya tanggung jawab sosial, beribalah dengan hati, bukan sekadar kewajiban," katanya.

Pelajaran-pelajaran itu yang kemudian menjadi pedoman Irwan dalam menjalankan perusahaannya. Berbisnis dengan hati nurani diwujudkannya dengan selalu membina hubungan baik dengan supplier-nya, memberikan upah yang layak kepada karyawannya, dan dalam mengembangkan networking (jaringan kerja).

"Saya tidak setuju dengan upah minimum, saya lebih suka kalau kita menetapkan upah yang layak. Karena dengan upah yang layak, kita bisa meningkatkan produktivitas, dan itu akan banyak menghemat biaya, daripada kita membayar dengan upah minimum, Tetapi produktivitas rendah. Dan, yang terpenting adalah kepercayaan, baik di internal maupun di eksternal. Kalau itu bisa kita jaga semuanya akan lebih mudah," katanya.

Kini yang menjadi cita-cita Irwan adalah mengembangkan industri jamu sebagai bagian dari pembangunan sistem kesehatan nasional. Untuk itu, dia sedang merintis langkah untuk mendidik para pengobat, seperti halnya China mengembangkan pengobatan tradisionalnya dengan mendidik para sinshe.

"Saya punya cita-cita ada pendidikan naturopath di Indonesia, sebenarnya Departemen Kesehatan bisa membantu ke arah sana, toh naturopath ini bukan hal baru, sudah diakui keberadaannya, dan kita punya potensi bagus di bidang ini," ujarnya.(Elly Roosita)

Bima Gunarta, Produsen dan Penyelenggara Diklat

Bima Gunarta, Produsen dan Penyelenggara Diklat

Kompas, Senin, 11 Oktober 2004
Bisnis & Investasi


BERBAGAI kiat ditempuh pelaku usaha kecil menengah di negeri ini agar bisa bertahan hidup. Agar produk lokal seperti mesin pengolah produk pertanian dan perkebunan tidak tersisih di dalam negeri, bukan hanya mutu barang yang perlu dijaga, tetapi sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pembuatan produk harus terus digenjot.

Untuk kebutuhan itu, sangat penting menambah ilmu pegawai penyuluh lapangan (PPL), pelaku usaha baru, dan konsumen menyangkut seluk-beluk mesin pengolah melalui program pendidikan dan pelatihan (diklat).

Seperti pasangan suami istri MA Bima Gunarta (49) dan Yani Gunarta (44), pemilik UD Reka Yasa yang memproduksi sekitar 200 jenis mesin pengolah produksi pertanian dan perkebunan. Di tempat usaha yang berlokasi di Jalan Kaliurang Kilometer 16,2 Pakem, Sleman, Yogyakarta, ini tersedia penginapan bagi peserta diklat.

"Peserta diklat tidak hanya belajar di ruangan, tetapi praktik langsung dengan pekerja di bengkel untuk membuat berbagai mesin hingga mengolah produk sampingan," kata Bima, yang mengawali usaha tersebut sejak tahun 1987 itu.

Usaha ini, kata Bima, yang didampingi istrinya Yani Gunarta sebagai tenaga pemasaran, awalnya cuma bengkel kecil bermodalkan Rp 500.000. Dengan modal awal sebagai cikal bakal usaha itu, kini omzet setiap bulannya sudah mencapai ratusan juta rupiah, diperoleh dari kucuran kredit Bank Rakyat Indonesia (BRI).

"Saya terus belajar menciptakan mesin pengolah berbagai produksi pertanian dan perkebunan yang berkualitas dengan harga lebih murah dari buatan impor. Niatnya, bagaimana merekayasa sebuah mesin dengan biaya murah sehingga terjangkau oleh petani dan mudah dioperasikan," kata Bima, ayah dari tiga anak itu.

Untuk mendapatkan model mesin pengolah, Bima pun terus melakukan modifikasi dan inovasi. Ia memperkenalkan hasil karya bersama 60 karyawannya melalui berbagai kesempatan pameran. "Sekarang mesin pengolah apa pun yang dipesan, asal ada gambar atau sketsa, bisa dikerjakan di bengkel ini dan semua suku cadang ada karena semua mesin yang bergaransi," ujar Bima.

Dalam memasarkan produk, selain lewat pameran, Yani mendatangi langsung calon pembeli, terutama pelanggan lama, di berbagai daerah. "Saya lebih mantap bertemu dan transaksi langsung di tempat sehingga saya harus ke Medan, Pekan Baru, dan beberapa daerah lain sesuai alamat pemesan. Memang teknologi informasi sudah canggih dan cepat, tetapi lebih pas kalau bicara langsung biar pesanan tidak melenceng," kata Yani.

Mesin pengolah produk pertanian dan perkebunan yang paling lama penggarapannya adalah mesin pengolah minyak sawit mentah (CPO), yakni dua bulan. "Pengolah CPO ini makin banyak pemesannya karena mutu terjamin dan jika ada gangguan, teknisi dari Yogyakarta langsung memperbaiki. Lagi pula mesin dipasang di tempat dan mereka baru kembali ke Yogyakarta kalau mesin benar-benar sudah beroperasi tanpa gangguan," ujar Yani.

MAKIN beragamnya mesin yang dibuat, mendorong pasangan suami istri itu sejak empat tahun lalu menyelenggarakan program diklat. Menggelar diklat di tempat usaha bukan mencari keuntungan bisnis semata, tetapi untuk meningkatkan keterampilan pihak terkait dengan mesin pengolahan.

Instruktur pendidikan dan pelatihan tidak hanya Bima bersama istrinya, tetapi juga mengundang pakar mesin, ahli pengolahan ampas produk untuk diolah kembali. Misalnya, sampah CPO jadi sabun atau produk lain. Biasanya untuk membimbing peserta diklat, Bima mengundang instruktur sesuai bidangnya dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta atau pejabat di perusahaan yang berkaitan dengan industri pengolahan produk pertanian dan perkebunan, termasuk dari instansi pemerintah seperti dinas pertanian dan dinas perindustrian.

Tanpa diklat, kata Bima, sulit bagi pelaku industri pengolahan untuk berkembang karena teknologi mesin makin canggih. Pembuatan mesin pengolah memang digarap dengan cara yang sederhana.

"Meski buatan lokal, kecanggihannya tidak kalah dengan barang impor, bahkan sering konsumen lokal tidak tertarik menggunakan mesin pengolahan buatan luar negeri karena sulit mendapat suku cadang. Sementara kami meski jago kandang, kualitas terjamin karena selain suku cadang selalu tersedia, perawatan after sale- nya lengkap," ujar Bima Gunarta menegaskan.

Pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang masih mengandalkan kredit bank untuk mengembangkan usahanya itu tetap optimistis pasar lokal mesin pengolahan produk pertanian dan perkebunan masih potensial. "Kami tetap mengutamakan pasar lokal, agar petani bisa memiliki mesin pengolah sendiri, bukan tergantung kepada pemilik mesin. Sebab, jika petani mengolah sendiri hasil kebun, nilai produk pasti bertambah," kata Yani.

Bukan seperti sekarang, karena harga mesin pengolah impor relatif mahal, petani menjual hasil produk tanpa melalui pengolahan. Akibatnya adalah harga hasil bumi masih saja tetap rendah. (AGNES SWETTA PANDIA)

Juwandi, Pak Tua "Jagoan" Andong

Juwandi, Pak Tua "Jagoan" Andong

Kompas, Senin, 18 Oktober 2004
Bisnis & Investasi


DI antara serakan kerangka andong, roda berjeruji kayu, dan meriam tua, berseliweran seorang lelaki berambut putih. Pergerakan pelan dilakukan untuk memantau berbagai kegiatan para pekerjanya. Ucapan singkat dalam bahasa Jawa dan pandangan matanya yang masih tajam kerap kali mengoreksi pekerjaan para pekerjanya yang salah.

Lelaki tua itu, Juwandi (67), seorang perajin andong asli Sukoharjo. Dialah sesosok empu andong yang tersisa di zaman "kuda besi" merajai aspal hingga pelosok desa, di Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, maupun Kabupaten Boyolali.

Bak kontrasnya hitam-putih, demikian pula keberadaan besalen Juwandi di Desa Sraten, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Betapa tidak, serakan alat-alat tua itu hanya berjarak tiga meter dari hotmix Kartasura-Yogyakarta-urat nadi peradaban modern, di mana hampir tiap bulan mobil/motor baru melintas.

Dulu, besalen Juwandi berukuran jauh lebih besar, tetapi pelebaran demi pelebaran jalan mengikis besalen ini perlahan demi perlahan, meter demi meter. Bila dahulu jalan raya Kartasura-Yogyakarta hanya selebar dua lajur, kini telah menjadi empat lajur.

Berseberangan dengan besalen, terdapat pom bensin. Properti modern itu pun seolah mempertegas perlawanan terhadap keberadaan moda transportasi andong yang dibentuk tangan terampil Juwandi. Juwandi dan pekerja tidak peduli. Sebab, Juwandi dengan sembilan pekerjanya tetap asyik bekerja tanpa terganggu.

Sejak clash dengan Belanda di medio 1948-1949, Juwandi telah berdikari membuat andong, setelah sebelumnya berguru pada sang ayah, Asmorejo. Seumpama berjalan dengan kacamata kuda, sedari kecil hingga detik ini hanya pekerjaan membuat andong yang dilakoninya. "Syukurilah karunia yang diberikan Allah, apa pun wujudnya. Dengan demikian, saya tetap menjalani profesi perajin andong karena itulah satu-satunya keahlian."

Pekerjaan mulai dari memilih kayu jati dengan urat kayu tertentu, menempa, dan membentuk logam kerangka kereta dipelajari sejak kecil, yang hingga kini dipraktikannya langsung. Aksesori seperti ornamen kuningan dan peralatan kulit sedikit banyak disumbang berbagai sentra industri kerajinan lain sehingga dia hanya tinggal memesan dan memasangkannya.

Tumpukan kayu berikut alat penggergajian, pengampelasan, dan alat kikir kayu mendominasi besalen ini. Tidak luput, ruang khusus penempaan logam di sisi utara besalen, yang selalu mengepulkan asap dari arang jati yang membara. Kini berkat keahliannya, Juwandi banyak menyelesaikan pembuatan andong pesanan luar negeri. Penikmat moda transportasi darat klasik dari Italia, Amerika, dan Spanyol silih berganti mendatangi, berbekal gambar andong model Eropa, meminta Juwandi membuat andong, dengan harga Rp 7,5-Rp 15 juta.

Dengan didampingi penerjemah, Juwandi akan menemui calon pemesan. Biasanya mereka telah berbekal foto atau sekadar sketsa kereta kuda sesuai kekhasan daerah atau negara masing-masing. Juwandi dan para pekerja kemudian akan menerka ukuran dan bahan baku untuk pembuatan kereta tersebut.

Tiap tahun, Juwandi dapat mengerjakan 5-6 andong. Konstruksi lain, seperti bendi dan penyangga meriam (seperti pesanan Pangkalan Udara Adisumarmo), dapat dikerjakannya dengan lebih cepat sekitar 1-2 bulan tiap buah. Permintaan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran untuk memperbaiki kereta kencana kerap pula dilakoninya. Lazimnya, Juwandi dan para pekerja akan datang ke istal keraton untuk memperbaikinya.

Berkat andong-dengan harga maksimal Rp 25 juta-dia menghidupi pekerja, berupah harian berkisar Rp 20.000- Rp 40.000. Dia pun dapat hidup layak meski tidak berlebih. Dia pun selalu menekankan kepada para pekerja untuk tekun melakoni pekerjaan mereka. Saat ini, di usianya yang uzur, sang adik, Juwarno, dan sang keponakan, Sutrisno, merupakan nama yang kerap disebut untuk menggantikan dirinya. "Saya lega bila telah ada yang menggantikan saya menjadi pembuat andong," ujarnya menandaskan.

Di tengah deru kendaraan bermotor, Juwandi optimistis pekerjaan membuat andong dapat bertahan. "Tiap kali lewat menggunakan andong, anak-anak pun berlarian ingin menaikinya," ujarnya. Di Jawa pun, andong masih merupakan transportasi andalan para penduduk desa.

Homo ludens, manusia makhluk dengan sifat bermain. Ketika manusia masih gemar menaiki andong sebagai sarana hiburan, "pak tua" seperti Juwandi, kiranya takkan beristirahat walau makin hari kegemilangan profesinya membuat alat transportasi semakin meredup. (RYO)

Endang Sutisna, Juragan Ubi Cilembu

Endang Sutisna, Juragan Ubi Cilembu

Kompas, Senin, 01 November 2004
Bisnis & Investasi



HARI itu waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, tetapi Endang Sutisna (52) sudah harus keluar dari rumah panggungnya yang berdinding anyaman bambu. Dua buah carangka atau wadah dari anyaman bambu berkapasitas 50 kilogram dipikul di bahunya.

Pada masing-masing carangka, ia mengisi 25 kilogram ubi mentah. Ubi yang dijualnya dikenal dengan ubi cilembu. Dari rumahnya di Desa Cilembu, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, ia berjalan menuju Cicalengka, Kabupaten Bandung. Jalan yang harus ditempuhnya menurun dan menanjak.

Perjalanan subuh itu dilakukan untuk menjual ubi yang sebagian ia tanam di sawahnya. Sebagian lagi ia ambil dari para petani lain di desanya yang memiliki persediaan ubi untuk dijual. Di Cicalengka, ia sudah memiliki pelanggan tetap. Beberapa belas kilogram ubi bisa habis di sana dalam sehari. Pelanggan lainnya juga sudah ia miliki di beberapa daerah di Sumedang. Rute perdagangan ubinya adalah Tanjungsari-Cicalengka-Kota Sumedang-Tanjungsari.

Dalam sehari, rata-rata ia bisa menjual 50 kg. "Tapi kadang juga pulang tidak bawa uang," ujar Endang. Yang terbawa hanya lecet di telapak kaki karena menginjak tanah yang panas di siang hari, atau pusing kepala karena terlampau lama berjemur sambil memikul ubi yang jumlahnya tetap utuh dalam carangka. Perjalanan subuh diakhiri Endang setiap pukul 12.00. Setelah dzuhur, dipastikan Endang sudah berada lagi di rumah panggungnya. Namun, ini cerita kehidupan getir Endang 14 tahun lalu. Kini Endang tidak lagi berkeliling di tengah terik matahari sambil memikul 50 kilogram ubi.

Yang dilakukannya sekarang adalah mengatur keluar masuknya ubi dari rumahnya yang berlantai dua. Bukan rumah panggung yang dulu, rumah itu sudah berubah wajah.

Endang tidak lagi mengurusi dua carangka, tetapi puluhan ton ubi mentah dalam seminggu yang ia kemas dalam carangka. Carangka ditempatkan di tiga gudang miliknya yang berada di sekitar rumah, yakni sebuah gudang berkapasitas 30 ton.

Ubi-ubi tersebut siap diangkut oleh sebuah perusahaan agrobisnis di Lembang, Kabupaten Bandung, sebanyak lima ton dalam seminggu. "Katanya ubi-ubi mentah itu dijual oleh perusahaan itu ke Carrefour yang ada di Jakarta." Setiap minggu Endang memasok satu ton di sebuah kios di Bandung. Tadinya dia juga memasok untuk sebuah perusahaan di Surabaya sebanyak tiga ton per dua minggu. "Tetapi karena pembayarannya kurang lancar, jadi saya stop dulu," kata Endang di rumahnya di Desa Cilembu, Kamis (21/10).

Dalam seminggu Endang mengirim beberapa ton ubi. Jadi penghasilan seminggu cukup lumayan juga. Padahal, ketika berjualan berkeliling ia biasanya pulang hanya mengantongi uang sekitar Rp 50.000 per hari atau sekitar Rp 350.000 seminggu.

Ubi dikumpulkan Endang dari tiga bandar ubi. Sebagian kecil ubi ada juga yang dihasilkan dari lahan pertaniannya sendiri. Para pembeli biasanya akan datang ke gudangnya. "Jadi saya tidak mengurusi pengirimannya," ucap Endang.

Endang mempekerjakan tiga orang karyawan. Mereka bertugas menyortir dan mengemas ubi dalam carangka, lalu menyusunnya di gudang. Dalam sehari seorang karyawan yang bekerja di gudang diberi upah Rp 12.500 per hari ditambah dengan makan siang.

Endang lebih banyak berbisnis ubi mentah. "Ubi yang dioven paling saya jual sekitar 10 kilogram sehari. Dikerjakan anak dan istri saja," kata Endang. Padahal, Endang melesat justru karena ubi ovennya itu.

TITIK perubahan hidup Endang dimulai tahun 1995. Saat itu, kelompok mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata melakukan uji coba pengolahan ubi agar lebih lezat dan awet. Mereka memperkenalkan cara mengolah ubi dengan pengovenan. Endang pun lalu mencobanya, ternyata ubi lebih lezat. Ubi cilembu yang berkulit gading, berurat, dan panjang itu memiliki rasa manis, sedangkan getahnya akan meleleh seperti madu ketika dipanggang. "Rasa ubi cilembu itu aneh. Manisnya tak bisa ditandingi ubi lain."

Begitu lezatnya, Endang pun mulai merasa percaya diri, lalu ubi-ubi itu dibawanya ke kantor-kantor. "Saya memasarkannya ke kantor-kantor. Harga sekilonya Rp 1.500. Sehari saya menjual 50 kilogram," tutur Endang.

Sekitar tahun 1996 banyak orang datang menemuinya di rumah panggung. Mereka memesan ubi untuk didagangkan kembali ke beberapa kota. Endang pun menyetujuinnya. Awalnya ia hanya mendapat order satu atau dua kuintal ubi. Namun, lama kelamaan jumlahnya pun terus berkembang karena ubi cilembu semakin digemari.

Untuk pembelinya, Endang berusaha memberi ubi yang terbaik dengan lebih ketat menyortir ubi. Ini dilakukan karena ubi yang tidak baik atau terkena hama mudah sekali menular pada ubi lainnya. Dua pelanggan tetapnya sekarang termasuk dalam generasi pertama pembeli ubi Endang.

"Dulu perusahaan di Lembang hanya minta lima kuintal seminggu. Kios di Bandung hanya minta dua kuintal seminggu," ujar Endang mengenang. Oleh karena semakin meningkatnya jumlah permintaan, Endang tidak lagi dapat berjualan keliling kampung. Setiap hari ia duduk di atas carangka-carangka ubi untuk menyortir dan mengatur keluar masuk ubi. "Tetapi justru sekarang kaki saya sering sakit," ujar Endang yang tampak berjalan berjinjit-jinjit. Mungkin karena kurang bergerak.

Sekarang ini dari ubi, Endang tak hanya bisa mengubah penampilan rumahnya, tetapi juga berhasil menyekolahkan empat anaknya. "Yang pertama jadi tentara, yang kedua jadi polisi, yang ketiga punya kios ubi di dekat rumah saya. Yang keempat masih kuliah," ujarnya.

Endang tak pernah membayangkan hidupnya bakal seperti sekarang, pedagang ubi keliling menjadi juragan. "Mungkin ini sudah suratan nasib dalam kehidupan saya," kata Endang Sutisna. (Y09)

Lili Yuliani, Niatnya Memang untuk Ekspor

Lili Yuliani, Niatnya Memang untuk Ekspor

Kompas, Senin, 22 November 2004
Bisnis & Investasi


EKSPOR. Hanya itu yang sejak awal diniatkan oleh Lili Yuliani (43) ketika memantapkan diri memasuki dunia wirausaha. "Latar belakang pemikirannya sederhana saja. Kalau pasar dalam negeri untuk barang-barang yang ingin saya produksi, biasanya cepat jenuh. Selain itu, pasar dalam negeri sarat dengan penjiplakan. Barang baru kita lempar ke pasar beberapa hari saja sudah ada yang dijiplak. Itu bikin sakit hati, apalagi kalau kualitas barangnya buruk," ujar Lili.

Padahal, persoalan kualitas menjadi unsur utama untuk produk kerajinan, selain desain dan harga. Tiga unsur itu yang menjadi pegangan Lili dalam memproduksi kerajinan keramik dan rotannya. Prinsip itu yang membuat Lili tidak buru- buru masuk pasar.

Dua tahun sebelum memberanikan diri masuk ke pasar, Lili berkutat dalam pengembangan produk. Mulai dari mengembangkan desain yang spesifik, meningkatkan kualitas, serta mencari alternatif-alternatif terbaik agar produk yang dihasilkan punya daya saing tinggi berhadapan dengan produk sejenis dari negara lain. "Mulai tahun 1987 saya mendevelop produk khusus. Waktu itu saya belum punya apa-apa, saya cari perajin yang sudah jadi, bersama mereka saya mendevelop produk," tutur Lili yang memilih kerajinan keramik sebagai bidang usahanya karena sudah dikenalnya semasa kanak-kanaknya di Jawa Barat.

Tahun 1989 Lili mulai melangkah memasuki pasar dengan mengikuti berbagai pameran antara lain Pameran Produk Ekspor. "Waktu itu ada buyer (pembeli) dari Jepang yang langsung memesan satu kontainer. Dia menjadi buyer setia saya sampai hari ini," kata Lili, yang produknya sangat beragam, mulai dari barang suvenir, pot-pot keramik, furniture kecil, aksesori, sampai keranjang rotan.

Pengetahuannya tentang seluk-beluk ekspor pun dipelajari sambil "berjalan". Bahkan untuk packaging (pengemasan), pembelinya yang mengajarkannya. Apa pun yang diminta buyer sebisanya dipenuhi. Menjalin ikatan yang kuat dengan pembeli menjadi syarat mutlak di tengah ketatnya persaingan karena produk kerajinan adalah produk yang sangat dinamis.

"Kami harus memuaskan mereka. Biar untungnya sedikit, buat saya yang penting repeat order, jangan sampai buyer kapok. Mereka punya posisi kuat karena banyak pesaing kita dari negara lain yang andal, yang berani menawarkan dengan harga sangat rendah," ujar Lili, yang mendapat dukungan besar dari suaminya, Erwin Elias.

Kepercayaan pembeli itulah yang menjadi kunci sukses Lili. Kesungguhannya memenuhi komitmen terhadap pembeli telah membuat pembeli setianya, yang memiliki tujuh department store di Jepang, memberinya tantangan untuk mengembangkan usahanya tidak hanya kerajinan keramik, tetapi juga masuk ke pasar kerajinan rotan dan kayu. "Tidak jarang mereka yang memberi desainnya, saya tinggal mengerjakan dengan kualitas yang terbaik karena mereka yang tahu persis bagaimana selera pasar di negaranya. Di Jepang saja, selera pasar di Tokyo, Fukuoka, dan Osaka beda," kata ibu satu putra, Mohammad Reza Pradana, ini.

Selera pasar inilah yang harus selalu diantisipasi. Membaca selera pasar dan tren adalah salah satu kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil untuk menembus pasar ekspor. "Karena tidak mungkin bagi pengusaha kecil untuk melakukan riset pasar, terlalu mahal. Di sisi ini sebenarnya pemerintah bisa membantu dengan mengaktifkan atase perdagangan atau perwakilan kita di luar negeri. Mereka yang menjadi market inteligent," tutur Lili, yang mengembangkan usahanya melalui PT Cipta Nusa Perdana.

MODAL bukanlah segalanya. Ini dibuktikan Lili, dari modal Rp 15 juta, kini dibantu 30 perajin dan puluhan tenaga harian lepas, produknya telah menjangkau Jepang, Perancis, Norwegia, Australia, dan Selandia Baru. Bahkan, sebelum jaringan ritel Carrefour masuk ke Indonesia, Lili menjadi pemasok kerajinan keramik untuk Carrefour Argentina, yang menjadi pintu masuk untuk jaringan Carrefour di Amerika.

"Usaha saya belum besar, ekspor saya masih sekitar enam sampai tujuh kontainer per tahun, dan marjin keuntungannya sangat kecil hanya 10 sampai 15 persen," kata Lili.

Tingginya biaya produksi, terutama untuk pengemasan dan biaya ekspedisi muatan kapal laut (EMKL), menjadi penyebab minimnya marjin keuntungan. Apalagi, saat ini bahan baku rotan dan kayu sangat sulit didapat. Harga rotan tahun 1998 sekitar Rp 3.000 per kilogram, saat ini mencapai Rp 17.000 kilogram. "Itu pun susah didapat. Padahal, saat di Taiwan saya ditunjukkan rotan yang sangat bagus dan katanya dari Indonesia. Adanya praktik ilegal inilah yang membuat bahan baku itu menghilang."

Persoalan tak hanya berhenti sampai di situ. Ekonomi biaya tinggi menjadi momok yang menakutkan. Otonomi daerah telah membuat beban baru buat pengusaha. "Aturan pemda macam-macam sekarang ini. Pemda seolah melihat pengusaha itu sumber keuntungan sehingga banyak sekali beban yang diberikan kepada pengusaha. Mereka tidak tahu kita ini jungkir balik untuk bisa bertahan dan tetap hidup. Sekarang kita juga sedang bingung dengan pemisahan antara Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan," ujar Lili.

Namun, Lili mengakui masa- masa paling sulit adalah tahun 1997-1999, ketika kepercayaan pembeli berada pada titik nadir. Tahun 1998, misalnya, untuk pengusaha yang akan ekspor kesulitan mendapatkan kontainer karena tidak ada barang yang dikirim ke Indonesia. Banyak kontainer bertumpuk di Singapura. Apabila pengusaha membutuhkan, harus menyewanya dari Singapura dengan menanggung biaya dari Singapura ke Indonesia.

"Kalaupun ada kontainer, L/C (letter of credit) kita tidak berlaku, perbankan tak dipercaya. "Saat itu saya ceritakan kondisinya pada buyer, dan mereka memahaminya," katanya.

Sekarang, kepercayaan itu telah pulih, tetapi kita masih dihantui high cost economic, sementara kompetitor kita didukung pemerintahnya dan telah melaju cukup pesat. "Kita harapkan pemerintah itu pro bisnis. Kita mau KKN, tetapi ingin pemerintah tahu bagaimana membuat kebijakan yang memang dibutuhkan," ujar Lili Yuliani, yang jebolan Universitas Terbuka dan American World University di bidang ekonomi.

USAHA kecil tidak akan dapat menghadapi persaingan global yang semakin deras menerpa bila berjalan sendiri-sendiri. Menyadari hal itu, Lili berhimpun dalam asosiasi usaha kecil yang berorientasi ekspor, yakni Himpunan Usaha Kecil Ekspor Indonesia ( HUKEI). Lili kini bahkan menjadi Presiden HUKEI, yang beranggotakan sekitar 130 pengusaha, yang tersebar di Sulawesi Selatan, NTB, Jawa Barat, dan Jakarta.

"Kami saling bagi-bagi rezeki, saling bantu. Kami bisa melakukan promosi bersama sehingga biayanya bisa ditanggung bersama. Kami sering sharing container, bisa sama-sama memecahkan masalah karena masalah eksportir kecil biasanya sama," ujarnya.

Tidak hanya itu, menurut Lili, sering dia mendapatkan pesanan untuk pasar menengah bawah. Padahal, dia telah menetapkan hanya bergerak di produk untuk kelas menengah atas. "Sering kali buyer saya perlu untuk pasar menengah bawah dan hanya mau bila barang itu dari saya. Sementara saya tidak mau menurunkan standar kualitas karena kalau itu dilakukan akan sulit bagi saya mengangkat kembali standar kualitas perajin saya.

Jalan keluarnya, pesanan itu saya subkontrakkan pada pengusaha yang memang bermain di pasar itu. Berbagi order itu salah satu yang memperkuat kami, pengusaha kecil. Tidak hanya itu, pada dasarnya antara pengusaha kecil ada saling ketergantungan. Saya tidak mungkin memesan kardus kemasan pada usaha besar karena pasti tidak mau menanganinya, tetapi kalau di perusahaan kemasan skala kecil pasti mau," katanya.

Kini, setelah 15 tahun menapak di pasar internasional, Lili masih bertekad untuk terus melangkah memasuki pasar- pasar di belahan dunia lain yang selama ini belum dijangkaunya, seperti pasar Eropa Timur dan Timur Tengah. "Timur Tengah sebenarnya pasar yang potensial, tetapi mereka sering kali tidak memakai skala perdagangan internasional, ada standar tersendiri yang mereka terapkan, seperti L/C mereka itu kadang sepihak, bahkan tidak ada korespondensi dengan bank kita. Kami butuh jembatan untuk mengatasi ini, dan itu saya pikir bisa dibicarakan antarpemerintah," tuturnya. (ELLY ROOSITA)

Nurdin Mengembalikan Kejayaan Udang Sulsel

Nurdin Mengembalikan Kejayaan Udang Sulsel

Kompas, Senin, 29 November 2004
Bisnis & Investasi



CERITA sedih merosotnya produksi udang petambak di Sulawesi Selatan kini mulai ditutupi harapan baru. Beberapa areal tambak sudah kembali memberikan hasil yang relatif tinggi, hampir 75 persen, dari bibit yang ditebar.

Keberhasilan itu tak lepas dari usaha Presiden Direktur PT Hakata Marine Indonesia Nurdin Abdullah. Dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin ini menggandeng investor dari Jepang mendirikan perusahaan penghasil benur dan pakan udang berkualitas di Sulsel.

Pria kelahiran Pare-pare 7 November 1963 ini tertarik untuk mengembangkan usaha yang berkaitan dengan udang, didorong rasa prihatin dengan merosotnya produksi udang Sulsel. Terlebih lagi ketika petambak terpaksa mengganti bibit udang dari udang windu akibat penyakit white spot dengan jenis vaname konon lebih kuat tetapi harganya jauh lebih murah.

"Sulsel ini terkenal penghasil udang windu di dunia, dan petambak pun mendapat rezeki relatif banyak karena harganya jauh lebih mahal. Sekarang ini mereka terpaksa menebar bibit vaname yang belum tentu juga berhasil, tetapi harganya jauh lebih murah," ujar Nurdin.

Oleh karena itu, Nurdin yang dikenal sukses menggandeng investor Jepang ke Sulsel mencari mitra di Jepang untuk memecahkan solusi petambak di Sulsel. Tahun 2000, ia mendapatkan mitra dari Jepang, Kyushu Medical Co Ltd, untuk mendirikan perusahaan benur dan pakan udang.

Nurdin mengatakan, beberapa tahun terakhir, kuantitas dan kualitas produk udang Sulsel merosot akibat terserang penyakit insang merah dan bintik putih (white spot). Produksi udang Sulsel sepanjang tahun 2003 hanya 4.000 ton, padahal sebelumnya pernah melampaui 10.000 ton.

Dia mengatakan, sejak harga dan kualitas udang anjlok, Thailand merajai ekspor udang ke Jepang. Bahkan, negara gajah putih itu mampu memproduksi 350.000 ton per tahun.

Petambak udang di Sulsel pernah mengeruk keuntungan saat nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS jatuh pada tahun 1997. Harga udang untuk ekspor melangit dari Rp 20.000 per kilogram menjadi Rp 120.000 per kilogram akibat depresiasi rupiah.

Luas tambak di Sulsel mencapai 120.000 hektar atau 30 persen dari total tambak di seluruh Indonesia yang 380.000 hektar. Adapun ekspor udang Sulsel pada tahun 2000 mencapai 9.141 ton atau hampir 20 persen dari total ekspor nasional yang sekitar 50.000 ton.

Sementara itu, menurut Nurdin, Indonesia sejauh ini hanya mampu mengekspor hingga 90.000 ton per tahun. Itu pun sudah termasuk udang putih yang selama ini diributkan oleh pihak Amerika Serikat karena dicurigai berasal dari negara yang ditolak AS diekspor kembali dari Indonesia.

Kini saatnya, menurut Nurdin, Sulsel kembali meningkatkan produk udang Indonesia. Selain mendukung dengan bibit yang bermutu, perusahaannya juga mengeluarkan produk yang dinamakan shrimp guard. Produk ini merupakan antibodi bagi udang dari penyakit, yang dihasilkan melalui kerja sama dengan Kyushu Medical Jepang.

Menurut Nurdin, produk antibodi itu bisa menggairahkan kembali semangat petambak Sulsel yang sudah patah arang dengan virus white spot yang mematikan udang. Pasalnya, virus tersebut membuat petambak di Sulsel hanya menuai rugi karena bibit yang ditebar tidak tumbuh menjadi udang.

"Secara jujur kami dan mitra dari Kyushu Medical dari Jepang melahirkan produk ini semata-mata untuk mengembalikan kejayaan udang windu Sulsel. Alasannya, udang windu pernah menjadi pemasok devisa kedua setelah minyak," ujar Nurdin.

Dia sangat menyayangkan jika keunggulan ini akan di tinggalkan lantas diganti dengan vaname (udang putih). Sebab, di samping harganya lebih murah, juga harus dikelola secara intensif. Padahal, hampir 80 persen tambak di Sulsel dikelola secara tradisional.

Kalau alasan penyakit, sebenarnya udang putih juga sangat rentan terhadap penyakit. Jadi, sebaiknya, Sulsel bertahan dengan produk udang windu.

MENYINGGUNG soal pakan udang yang digunakan petambak Sulsel, umumnya pakan udang tersebut tak jelas kandungannya sehingga cenderung merugikan petani. Oleh karena itu, Hakata Marine Indonesia juga mencari solusi dengan menghasilkan pakan bermutu dengan harga terjangkau.

Bahkan, jika selama ini petani tambak udang harus menunggu empat bulan baru bisa panen, kini Hakata mengadopsi teknologi Jepang yang mampu mengubah siklus tersebut. Melalui hasil penelitian yang dilakukan bekerja sama dengan Kyushu Medical Co Ltd, panen udang bisa di lakukan dalam 80 hari untuk ukuran udang 35 sentimeter.

Hal itu sudah dibuktikan melalui uji coba di berbagai tambak, baik intensif, semiintensif, maupun tradisional plus di berbagai daerah di Sulsel. Antara lain, di Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Pinrang, Takalar, dan Bone.

Pakan udang produksi Hakata ditambahkan formula shrimp guard. Hasil temuan melalui teknologi tinggi dari Jepang ternyata memberikan efek pencegahan untuk menghancurkan WSSV (white spot syndrome virus).

Menurut Nurdin, shrimp guard akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh udang sehingga mempunyai kekuatan untuk menolak virus white spot. Shrimp guard tersebut ramah lingkungan karena merupakan probiotik dari bakteri yang berasal dari mikro-organisme laut yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

Penggunaan yang optimal justru memberikan efek ganda terhadap peningkatan pertumbuhan udang yang cepat dan sehat. Selain itu, karena probiotik, tambak akan awet untuk terus-menerus menghasilkan udang.

NURDIN, suami dari Liestiaty Fachruddin, dan ayah dari Putri Fatima Nurdin (18), M Syamsul Reza Nurdin (13) dan M Fathul Fauzi Nurdin (11), bukan hanya berhasil menggondol gelar S2 dan S3 dari Kyushu University Jepang pada tahun 1991 dan 1994. Pria ini juga membawa investor dari kota tersebut pulang ke kampung halaman.

Kesibukannya sebagai dosen Pertanian Unhas akhirnya terbagi karena harus memimpin beberapa perusahaan yang didirikan bersama mitra Jepang. Namun, perusahaan tersebut memang tak jauh dari bidang pendidikan yang digeluti dan dekat dengan rakyat Sulsel, yakni perikanan.

Bahkan, beberapa tahun lalu Nurdin mendirikan perusahaan biro perjalanan Hakata Travel & Tour. Perusahaan ini juga tak lepas dari niat untuk mempromosikan pariwisata Sulsel kepada orang-orang di Jepang.

Namun, khusus untuk bidang perikanan, pria asal Pare-Pare ini sangat serius untuk memajukan kembali tambak di Sulsel. Menurut dia, ribuan orang bergantung hidup pada tambak, bahkan mahasiswa di Unhas banyak sekolah dengan uang dari hasil tambak.

Semoga cita-cita Nurdin untuk menghidupkan kembali udang windu di Sulsel segera terwujud. Sebab, ihwal itu akan meningkatkan kesejahteraan petambak, menambah devisa negara, dan agar Indonesia tak dicurigai pihak AS karena banyak mengimpor udang putih. (BUYUNG WIJAYA KUSUMA)

Ipah Datipah dan Pemanfaatan Limbah Susu

Ipah Datipah dan Pemanfaatan Limbah Susu

Kompas, Senin, 13 Desember 2004
Bisnis & Investasi


IPAH Datipah (59) tidak pernah mengira bahwa usaha permen karamel yang dirintisnya melalui pemanfaatan limbah susu akan mengantarkannya meraih gelar Upakarti. Bisnis ini pula yang menggiringnya untuk memiliki pabrik yang menyerap puluhan tenaga kerja.

Akhir tahun 1969 wanita kelahiran 27 Agustus 1945 ini memulai usaha pembuatan permen karamel dengan menyisihkan uang belanja harian dari suaminya, Ismail. Ia membeli limbah susu dari beberapa peternak di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

"Waktu itu susu sapi murni belum banyak dikonsumsi orang sehingga banyak terbuang. Lalu saya iseng-iseng memanfaatkan susu yang tersisa untuk membuat permen karamel. Ternyata, permen buatan saya dibeli orang," tutur Ipah tentang awal usahanya.

Seiring dengan mengalirnya pesanan permen karamel, wanita tamatan SD Pangalengan ini memperluas penjualan permennya ke warung-warung hingga ke pasar. Susu murni tidak lagi dibelinya secara tersebar dari peternak-peternak sapi, melainkan dari Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Bahan dasar pembuatan permen karamel berupa susu cair dan gula pasir. Dalam seminggu, Ipah menghabiskan sekitar 30 liter susu sapi, dengan harga susu sekitar Rp 20 per liter.

Proses pengadukan larutan susu dan gula menghabiskan waktu sekitar lima jam, sebelum didinginkan dan dicetak. Alat yang digunakannya cukup sederhana, yaitu wajan dan kompor minyak tanah. Dari 30 liter susu per hari, dihasilkan kurang lebih sembilan kilogram permen karamel dengan harga Rp 2.000 per kilogram.

Usaha ini memang tak hanya dirintis Ipah. Beberapa warga lainnya di Kecamatan Pangalengan juga mengembangkan bisnis serupa dengan memanfaatkan kelebihan susu di Kecamatan Pangalengan, daerah yang dikenal sebagai penghasil susu murni di Jawa Barat.

Dari usaha kecil-kecilan pembuatan permen karamel, Ipah mampu melipatgandakan jatah uang belanja rumah tangganya. Namun, kendala justru dirasakan Ipah ketika sang suami yang bekerja sebagai peternak sapi merasa keberatan dengan kesibukan bisnisnya.

"Semula, suami saya tidak mendukung bisnis ini karena khawatir anak-anak tidak terurus," kata ibu dari 11 anak ini. Namun, karena pesanan yang terus mengalir, Ipah memutuskan untuk melanjutkan bisnis permen karamel ini. Ia mulai merekrut seorang karyawan untuk menjalankan industri kecil tersebut. Didatanginya kios- kios untuk menjajakan permen karamel buatannya yang diberi label TK.

KERJA keras Ipah membuahkan hasil. Pada tahun 1985 dengan bantuan modal dari salah satu bank pemerintah, Ipah membeli tanah seluas 25 meter persegi di samping rumahnya untuk mendirikan pabrik permen karamel. Ia juga menambah belasan karyawan untuk mengembangkan industrinya. Kegigihan ini pula yang akhirnya membuat Ipah mendapat dukungan penuh sang suami.

Namun, usahanya tidak berhenti di situ. Wanita kelahiran Pangalengan ini memperluas produknya dengan membuat dodol susu dan kerupuk susu. Jika dodol susu dan permen karamel dibuat dari susu murni berkualitas, pembuatan kerupuk susu justru memanfaatkan susu yang tak memenuhi standar kualitas atau diistilahkan dengan susu pecah.

Pembuatan kerupuk susu mengandalkan bahan baku susu pecah dari KPBS. Gumpalan susu dari susu pecah dicampur dan diaduk dengan tepung tapioka, lalu dikukus. Kemudian dipotong-potong dan dijemur selama tiga hari sehingga menghasilkan kerupuk dengan rasa asin-gurih.

Namun, pembuatan kerupuk susu hanya dilakukan pada saat stok susu pecah tersedia. "Susu pecah sering kali dibuang oleh KPBS. Daripada dibuang, saya manfaatkan susu yang tak terpakai untuk membuat kerupuk susu," ujarnya menjelaskan.

Pengembangan jenis produk tersebut mendorongnya untuk mempekerjakan sekitar 25 karyawan yang merupakan remaja- remaja setempat yang putus sekolah. Seiring dengan meluasnya pemanfaatan limbah susu oleh warga di Kecamatan Pangalengan, limbah susu murni yang melimpah di Kecamatan Pangalengan secara bertahap juga dapat dikurangi.

KETEKUNAN dan tahan gengsi menjadi kunci sukses Ipah dalam mengembangkan usahanya. Pada bulan Desember tahun 1992 Ipah memperoleh penghargaan Upakarti Jasa Pengabdian dari pemerintah. Upakarti tersebut diterimanya karena ia dianggap berjasa memanfaatkan limbah susu di Kecamatan Pangalengan pada tahun 1970-an. Selain itu, industri kecil yang dirintisnya berkembang serta mampu menyerap 25 tenaga kerja.

Ketika mendapatkan Upakarti, Ipah memanfaatkan sekitar 300 liter susu per hari untuk menghasilkan sekitar 90 kilogram karamel dan dodol susu per hari. Industri kecil yang berbuah besar.

Kini Ipah membutuhkan sedikitnya 1.000 liter susu per hari dengan harga Rp 2.000 per liter. Dalam sebulan, ia mampu memproduksi sekitar 10 ton permen karamel dan dodol susu setiap bulan.

Para pelanggan merupakan pengusaha toko kecil dan menengah yang berasal dari Kabupaten dan Kota Bandung serta Kota Jakarta. Adapun, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 50 orang, dengan penghasilan rata-rata berkisar antara Rp 250.000-Rp 1,5 juta per bulan. Untuk mendukung kegiatan industrinya, Ipah juga memiliki dua unit kendaraan pengangkut barang.

Pabrik yang didirikannya kini juga telah diperlebar menjadi seluas 200 meter persegi. Alat- alat yang digunakan tidak terbatas pada kompor minyak tanah, tetapi juga kompor gas.

Ipah mengakui, pameran merupakan salah satu sarana utama untuk mengenalkan produknya ke pasaran. "Pemerintah sering kali membantu saya untuk mengikuti pameran. Lewat pameran, produk saya dikenal dan laku," katanya.

Manfaat lain yang juga dirasakan dari pameran ke kota- kota lain, yaitu anak-anak dan cucunya bisa diajak turut serta. "Anak-anak saya bisa tahu penginapan, hotel, kantor-kantor, kan enak," ujar nenek dari 11 cucu ini, seraya tersenyum. "Jangan punya perasaan gengsi. Jangan malu untuk berjualan kalau ingin barang laku di pasaran," kata Ipah mengenai kiat usahanya.(BM LUKITA GRAHADYARINI)

Titi Sutina, Pembuat Kue Jahe dari Sukabumi

Titi Sutina, Pembuat Kue Jahe dari Sukabumi

Kompas, Senin, 27 Desember 2004
Bisnis & Investasi

TITI Sutina (64) mengaku bahwa berpangku tangan tidak masuk dalam kamus hidupnya. Sejak suaminya masih aktif sebagai perwira menengah di jajaran kepolisian hingga memasuki masa pensiun, perempuan yang tampak awet muda ini selalu aktif menjalankan usaha produksi kue jahe dan menjual aneka jenis makanan ringan lain.

Pada tahun 1975 perempuan yang memiliki enam anak ini mulai merintis usaha pembuatan bangket jahe setelah berganti-ganti bidang usaha. Modal pembuatan bangket jahe ini berasal dari hasil keuntungan usaha penjualan hasil bumi dan makanan ringan lainnya dan ditambah dengan sisa uang belanja harian dari suaminya.

Usaha ini berawal ketika seorang lelaki yang masih ada hubungan darah dengannya menawarkan untuk membuka usaha pembuatan kue tersebut. Kendati belum pernah mencoba membuat kue itu, Titi menyambut baik tawaran karena ingin membantu ekonomi saudaranya yang saat itu tidak punya pekerjaan tetap.

Saudaranya yang ahli membuat kue jahe menularkan resep pembuatan penganan kering itu kepada Titi. Sebelum membuka usaha pembuatan kue, mereka berulang kali mencoba membuat kue hingga memperoleh resep yang dianggap sesuai dengan lidah konsumen.

Mereka pun mulai memproduksi kue jahe yang ada di satu lokasi dengan tempat pembuatan sukron, makanan ringan khas Sukabumi, dengan mempekerjakan belasan karyawan. Bahan dasar pembuatan bangket jahe itu terdiri dari tepung sagu, gula aren, telur, dan jahe. Semua bahan dasar itu diaduk dan dituangkan ke dalam cetakan kue. Adonan itu lalu dimasukkan ke dalam oven dan dimasak hingga matang. Setelah masak, penganan ini diangin-anginkan hingga kering.

Bahan dasar gula aren membuat warna penganan kering ini menjadi coklat tua. Kue ini berbentuk lonjong dan terdapat rekahan pada bagian tengah. Begitu digigit, rasa jahe langsung terasa di lidah. "Meskipun tanpa bahan pengawet, kue ini bisa tahan sampai tiga bulan. Syaratnya, kue jahe tak boleh terlalu lama terkena angin sehingga harus selalu dibungkus plastik atau ditaruh di dalam stoples yang ditutup rapat," katanya.

Karena belum begitu dikenal masyarakat saat itu, Titi secara aktif memasarkan sendiri kue hasil produksinya itu. Selain dijual di toko miliknya di garasi rumahnya, di daerah Ciaul, Sukabumi, ia juga menitipkan kue buatannya ke sejumlah toko di Sukabumi dan Cianjur. "Saya juga menjajakan ke instansi tempat suami saya bekerja," tuturnya. Kerabatnya membantu mengantarkan kue jahe kepada para pemesan dan menitipkannya ke toko-toko yang ada di wilayah Cianjur, Bogor, dan kawasan selatan Sukabumi dengan menggunakan mobil boks. Dari situ kue jahe buatan Titi semakin dikenal masyarakat sehingga permintaan penganan tersebut mulai mengalir.

Meskipun mulai dikenal, keuntungan yang diperoleh dari penjualan kue jahe itu masih sedikit. Saat kerabat yang semula menggagas pembuatan kue jahe dan menjadi mitra bisnisnya memutuskan untuk berhenti dan memilih bekerja di sebuah proyek bangunan di Jakarta, Titi sempat kelimpungan. Namun, dia tidak patah arang dan bertekad mempertahankan usaha tersebut.

DI tengah kepadatan kegiatan berorganisasi di lingkungan Polres Sukabumi, Titi tetap giat berwirausaha. Jatuh bangun dalam berbisnis sudah menjadi hal biasa baginya. Salah satu pengalaman pahit yang dialaminya adalah musibah kebakaran yang dua kali melanda tempat pembuatan sukron sehingga akhirnya terpaksa ditutup. "Kalau dilanjutkan, saya khawatir seluruh bangunan malah habis terbakar," ujarnya.

Setelah menjalankan usaha selama hampir 30 tahun, kini Titi tidak perlu lagi bersusah payah menitipkan kue jahe ke toko-toko. Ia hanya melayani pembelian penganan itu di tokonya yang terletak di bagian depan rumahnya. "Sekarang anak-anak saya sudah besar dan bekerja di tempat lain, tidak ada yang meneruskan usaha ini. Saya juga harus merawat suami saya yang terserang penyakit stroke sejak beberapa tahun lalu," kata Titi.

Meskipun tidak gencar berpromosi, permintaan kue jahe buatan Titi yang dijual dengan harga Rp 16.000 per kilogram itu terus mengalir. Setiap hari rata-rata omzet penjualannya mencapai lima kilogram kue jahe yang dibungkus dalam aneka kemasan mulai dari kemasan plastik sampai dengan kaleng. Namun, Lebaran lalu volume penjualan tidak terlalu meningkat gara-gara ada larangan bagi para pejabat pemerintah untuk menerima parsel.

Metode penjualan seperti sekarang ini dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan menitipkan kue jahe ke toko-toko. Menurut Titi, saat dititipkan ke toko, kue jahe buatannya sering apkir lantaran banyak kue yang patah dan remuk. Setelah dijual sendiri di tokonya, jumlah kue yang apkir menurun drastis. "Pihak toko kan suka seenaknya naruh barang, tidak hati-hati, sehingga banyak kue yang remuk karena tertindih barang lainnya," ujarnya memaparkan.

Produksi kue jahe saat ini ditangani oleh seorang kerabatnya. Kendati tidak menangani secara langsung proses pembuatan penganan khas itu, Titi mengaku tetap mengontrol kualitas kue tersebut agar pelanggannya tidak lari.

Kendala utama yang dihadapi Titi adalah masalah pemasaran dan kenaikan harga bahan baku, seperti gula aren dan telur. Menurut dia, lonjakan harga bahan baku biasanya terjadi pada saat Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Saat harga bahan baku naik, ia mengaku kesulitan menaikkan harga kue karena akan diprotes pelanggannya sehingga volume penjualan terpaksa diturunkan.

NILAI-nilai kewirausahaan telah tertanam dalam diri Titi sejak usia dini. Naluri bisnis diperoleh dari kakek dan kedua orangtuanya yang dikenal sebagai pedagang hasil bumi di Sukabumi. Anak dari pasangan Mamad dan Mimin itu mengagumi kegigihan kedua orangtuanya yang mampu memasarkan sendiri hasil bumi hingga ke ke kawasan selatan Sukabumi.

Karena tidak ingin membebani kedua orangtuanya, perempuan tamatan Sekolah Menengah Pertama di Sukabumi itu menjalankan usaha kredit barang dengan berkeliling kampung sejak remaja. Tanpa merasa canggung, ia menawarkan dagangannya kepada tetangga dan kenalan. Keluwesannya dalam bergaul membuat usaha itu makin berkembang. Sebelum menggeluti bisnis pembuatan kue jahe, Titi telah berganti- ganti jenis usaha. Selain mengkreditkan barang, ia juga melanjutkan usaha perdagangan hasil bumi di sebuah pasar tradisional di pusat kota Sukabumi.

Kegigihannya dalam berwirausaha tidak meluntur saat perempuan itu beranjak tua. Di usianya yang telah senja ini, Titi masih bersemangat menjalankan usaha pembuatan kue jahe. Ia juga menjual aneka jenis makanan khas, seperti selai pisang, keripik pisang, dan kue semprong. Bahkan, perempuan lincah ini sekarang menjadi distributor sebuah produk makanan ringan. Bertambahnya usia, bagi perempuan kelahiran Sukabumi ini bukan jadi hambatan dalam menggeluti dunia bisnis. (EVY RACHMAWATI)