Tuesday, September 27, 2005

Lili Yuliani, Niatnya Memang untuk Ekspor

Lili Yuliani, Niatnya Memang untuk Ekspor

Kompas, Senin, 22 November 2004
Bisnis & Investasi


EKSPOR. Hanya itu yang sejak awal diniatkan oleh Lili Yuliani (43) ketika memantapkan diri memasuki dunia wirausaha. "Latar belakang pemikirannya sederhana saja. Kalau pasar dalam negeri untuk barang-barang yang ingin saya produksi, biasanya cepat jenuh. Selain itu, pasar dalam negeri sarat dengan penjiplakan. Barang baru kita lempar ke pasar beberapa hari saja sudah ada yang dijiplak. Itu bikin sakit hati, apalagi kalau kualitas barangnya buruk," ujar Lili.

Padahal, persoalan kualitas menjadi unsur utama untuk produk kerajinan, selain desain dan harga. Tiga unsur itu yang menjadi pegangan Lili dalam memproduksi kerajinan keramik dan rotannya. Prinsip itu yang membuat Lili tidak buru- buru masuk pasar.

Dua tahun sebelum memberanikan diri masuk ke pasar, Lili berkutat dalam pengembangan produk. Mulai dari mengembangkan desain yang spesifik, meningkatkan kualitas, serta mencari alternatif-alternatif terbaik agar produk yang dihasilkan punya daya saing tinggi berhadapan dengan produk sejenis dari negara lain. "Mulai tahun 1987 saya mendevelop produk khusus. Waktu itu saya belum punya apa-apa, saya cari perajin yang sudah jadi, bersama mereka saya mendevelop produk," tutur Lili yang memilih kerajinan keramik sebagai bidang usahanya karena sudah dikenalnya semasa kanak-kanaknya di Jawa Barat.

Tahun 1989 Lili mulai melangkah memasuki pasar dengan mengikuti berbagai pameran antara lain Pameran Produk Ekspor. "Waktu itu ada buyer (pembeli) dari Jepang yang langsung memesan satu kontainer. Dia menjadi buyer setia saya sampai hari ini," kata Lili, yang produknya sangat beragam, mulai dari barang suvenir, pot-pot keramik, furniture kecil, aksesori, sampai keranjang rotan.

Pengetahuannya tentang seluk-beluk ekspor pun dipelajari sambil "berjalan". Bahkan untuk packaging (pengemasan), pembelinya yang mengajarkannya. Apa pun yang diminta buyer sebisanya dipenuhi. Menjalin ikatan yang kuat dengan pembeli menjadi syarat mutlak di tengah ketatnya persaingan karena produk kerajinan adalah produk yang sangat dinamis.

"Kami harus memuaskan mereka. Biar untungnya sedikit, buat saya yang penting repeat order, jangan sampai buyer kapok. Mereka punya posisi kuat karena banyak pesaing kita dari negara lain yang andal, yang berani menawarkan dengan harga sangat rendah," ujar Lili, yang mendapat dukungan besar dari suaminya, Erwin Elias.

Kepercayaan pembeli itulah yang menjadi kunci sukses Lili. Kesungguhannya memenuhi komitmen terhadap pembeli telah membuat pembeli setianya, yang memiliki tujuh department store di Jepang, memberinya tantangan untuk mengembangkan usahanya tidak hanya kerajinan keramik, tetapi juga masuk ke pasar kerajinan rotan dan kayu. "Tidak jarang mereka yang memberi desainnya, saya tinggal mengerjakan dengan kualitas yang terbaik karena mereka yang tahu persis bagaimana selera pasar di negaranya. Di Jepang saja, selera pasar di Tokyo, Fukuoka, dan Osaka beda," kata ibu satu putra, Mohammad Reza Pradana, ini.

Selera pasar inilah yang harus selalu diantisipasi. Membaca selera pasar dan tren adalah salah satu kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil untuk menembus pasar ekspor. "Karena tidak mungkin bagi pengusaha kecil untuk melakukan riset pasar, terlalu mahal. Di sisi ini sebenarnya pemerintah bisa membantu dengan mengaktifkan atase perdagangan atau perwakilan kita di luar negeri. Mereka yang menjadi market inteligent," tutur Lili, yang mengembangkan usahanya melalui PT Cipta Nusa Perdana.

MODAL bukanlah segalanya. Ini dibuktikan Lili, dari modal Rp 15 juta, kini dibantu 30 perajin dan puluhan tenaga harian lepas, produknya telah menjangkau Jepang, Perancis, Norwegia, Australia, dan Selandia Baru. Bahkan, sebelum jaringan ritel Carrefour masuk ke Indonesia, Lili menjadi pemasok kerajinan keramik untuk Carrefour Argentina, yang menjadi pintu masuk untuk jaringan Carrefour di Amerika.

"Usaha saya belum besar, ekspor saya masih sekitar enam sampai tujuh kontainer per tahun, dan marjin keuntungannya sangat kecil hanya 10 sampai 15 persen," kata Lili.

Tingginya biaya produksi, terutama untuk pengemasan dan biaya ekspedisi muatan kapal laut (EMKL), menjadi penyebab minimnya marjin keuntungan. Apalagi, saat ini bahan baku rotan dan kayu sangat sulit didapat. Harga rotan tahun 1998 sekitar Rp 3.000 per kilogram, saat ini mencapai Rp 17.000 kilogram. "Itu pun susah didapat. Padahal, saat di Taiwan saya ditunjukkan rotan yang sangat bagus dan katanya dari Indonesia. Adanya praktik ilegal inilah yang membuat bahan baku itu menghilang."

Persoalan tak hanya berhenti sampai di situ. Ekonomi biaya tinggi menjadi momok yang menakutkan. Otonomi daerah telah membuat beban baru buat pengusaha. "Aturan pemda macam-macam sekarang ini. Pemda seolah melihat pengusaha itu sumber keuntungan sehingga banyak sekali beban yang diberikan kepada pengusaha. Mereka tidak tahu kita ini jungkir balik untuk bisa bertahan dan tetap hidup. Sekarang kita juga sedang bingung dengan pemisahan antara Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan," ujar Lili.

Namun, Lili mengakui masa- masa paling sulit adalah tahun 1997-1999, ketika kepercayaan pembeli berada pada titik nadir. Tahun 1998, misalnya, untuk pengusaha yang akan ekspor kesulitan mendapatkan kontainer karena tidak ada barang yang dikirim ke Indonesia. Banyak kontainer bertumpuk di Singapura. Apabila pengusaha membutuhkan, harus menyewanya dari Singapura dengan menanggung biaya dari Singapura ke Indonesia.

"Kalaupun ada kontainer, L/C (letter of credit) kita tidak berlaku, perbankan tak dipercaya. "Saat itu saya ceritakan kondisinya pada buyer, dan mereka memahaminya," katanya.

Sekarang, kepercayaan itu telah pulih, tetapi kita masih dihantui high cost economic, sementara kompetitor kita didukung pemerintahnya dan telah melaju cukup pesat. "Kita harapkan pemerintah itu pro bisnis. Kita mau KKN, tetapi ingin pemerintah tahu bagaimana membuat kebijakan yang memang dibutuhkan," ujar Lili Yuliani, yang jebolan Universitas Terbuka dan American World University di bidang ekonomi.

USAHA kecil tidak akan dapat menghadapi persaingan global yang semakin deras menerpa bila berjalan sendiri-sendiri. Menyadari hal itu, Lili berhimpun dalam asosiasi usaha kecil yang berorientasi ekspor, yakni Himpunan Usaha Kecil Ekspor Indonesia ( HUKEI). Lili kini bahkan menjadi Presiden HUKEI, yang beranggotakan sekitar 130 pengusaha, yang tersebar di Sulawesi Selatan, NTB, Jawa Barat, dan Jakarta.

"Kami saling bagi-bagi rezeki, saling bantu. Kami bisa melakukan promosi bersama sehingga biayanya bisa ditanggung bersama. Kami sering sharing container, bisa sama-sama memecahkan masalah karena masalah eksportir kecil biasanya sama," ujarnya.

Tidak hanya itu, menurut Lili, sering dia mendapatkan pesanan untuk pasar menengah bawah. Padahal, dia telah menetapkan hanya bergerak di produk untuk kelas menengah atas. "Sering kali buyer saya perlu untuk pasar menengah bawah dan hanya mau bila barang itu dari saya. Sementara saya tidak mau menurunkan standar kualitas karena kalau itu dilakukan akan sulit bagi saya mengangkat kembali standar kualitas perajin saya.

Jalan keluarnya, pesanan itu saya subkontrakkan pada pengusaha yang memang bermain di pasar itu. Berbagi order itu salah satu yang memperkuat kami, pengusaha kecil. Tidak hanya itu, pada dasarnya antara pengusaha kecil ada saling ketergantungan. Saya tidak mungkin memesan kardus kemasan pada usaha besar karena pasti tidak mau menanganinya, tetapi kalau di perusahaan kemasan skala kecil pasti mau," katanya.

Kini, setelah 15 tahun menapak di pasar internasional, Lili masih bertekad untuk terus melangkah memasuki pasar- pasar di belahan dunia lain yang selama ini belum dijangkaunya, seperti pasar Eropa Timur dan Timur Tengah. "Timur Tengah sebenarnya pasar yang potensial, tetapi mereka sering kali tidak memakai skala perdagangan internasional, ada standar tersendiri yang mereka terapkan, seperti L/C mereka itu kadang sepihak, bahkan tidak ada korespondensi dengan bank kita. Kami butuh jembatan untuk mengatasi ini, dan itu saya pikir bisa dibicarakan antarpemerintah," tuturnya. (ELLY ROOSITA)

No comments: