Tuesday, September 27, 2005

Juwandi, Pak Tua "Jagoan" Andong

Juwandi, Pak Tua "Jagoan" Andong

Kompas, Senin, 18 Oktober 2004
Bisnis & Investasi


DI antara serakan kerangka andong, roda berjeruji kayu, dan meriam tua, berseliweran seorang lelaki berambut putih. Pergerakan pelan dilakukan untuk memantau berbagai kegiatan para pekerjanya. Ucapan singkat dalam bahasa Jawa dan pandangan matanya yang masih tajam kerap kali mengoreksi pekerjaan para pekerjanya yang salah.

Lelaki tua itu, Juwandi (67), seorang perajin andong asli Sukoharjo. Dialah sesosok empu andong yang tersisa di zaman "kuda besi" merajai aspal hingga pelosok desa, di Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, maupun Kabupaten Boyolali.

Bak kontrasnya hitam-putih, demikian pula keberadaan besalen Juwandi di Desa Sraten, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Betapa tidak, serakan alat-alat tua itu hanya berjarak tiga meter dari hotmix Kartasura-Yogyakarta-urat nadi peradaban modern, di mana hampir tiap bulan mobil/motor baru melintas.

Dulu, besalen Juwandi berukuran jauh lebih besar, tetapi pelebaran demi pelebaran jalan mengikis besalen ini perlahan demi perlahan, meter demi meter. Bila dahulu jalan raya Kartasura-Yogyakarta hanya selebar dua lajur, kini telah menjadi empat lajur.

Berseberangan dengan besalen, terdapat pom bensin. Properti modern itu pun seolah mempertegas perlawanan terhadap keberadaan moda transportasi andong yang dibentuk tangan terampil Juwandi. Juwandi dan pekerja tidak peduli. Sebab, Juwandi dengan sembilan pekerjanya tetap asyik bekerja tanpa terganggu.

Sejak clash dengan Belanda di medio 1948-1949, Juwandi telah berdikari membuat andong, setelah sebelumnya berguru pada sang ayah, Asmorejo. Seumpama berjalan dengan kacamata kuda, sedari kecil hingga detik ini hanya pekerjaan membuat andong yang dilakoninya. "Syukurilah karunia yang diberikan Allah, apa pun wujudnya. Dengan demikian, saya tetap menjalani profesi perajin andong karena itulah satu-satunya keahlian."

Pekerjaan mulai dari memilih kayu jati dengan urat kayu tertentu, menempa, dan membentuk logam kerangka kereta dipelajari sejak kecil, yang hingga kini dipraktikannya langsung. Aksesori seperti ornamen kuningan dan peralatan kulit sedikit banyak disumbang berbagai sentra industri kerajinan lain sehingga dia hanya tinggal memesan dan memasangkannya.

Tumpukan kayu berikut alat penggergajian, pengampelasan, dan alat kikir kayu mendominasi besalen ini. Tidak luput, ruang khusus penempaan logam di sisi utara besalen, yang selalu mengepulkan asap dari arang jati yang membara. Kini berkat keahliannya, Juwandi banyak menyelesaikan pembuatan andong pesanan luar negeri. Penikmat moda transportasi darat klasik dari Italia, Amerika, dan Spanyol silih berganti mendatangi, berbekal gambar andong model Eropa, meminta Juwandi membuat andong, dengan harga Rp 7,5-Rp 15 juta.

Dengan didampingi penerjemah, Juwandi akan menemui calon pemesan. Biasanya mereka telah berbekal foto atau sekadar sketsa kereta kuda sesuai kekhasan daerah atau negara masing-masing. Juwandi dan para pekerja kemudian akan menerka ukuran dan bahan baku untuk pembuatan kereta tersebut.

Tiap tahun, Juwandi dapat mengerjakan 5-6 andong. Konstruksi lain, seperti bendi dan penyangga meriam (seperti pesanan Pangkalan Udara Adisumarmo), dapat dikerjakannya dengan lebih cepat sekitar 1-2 bulan tiap buah. Permintaan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran untuk memperbaiki kereta kencana kerap pula dilakoninya. Lazimnya, Juwandi dan para pekerja akan datang ke istal keraton untuk memperbaikinya.

Berkat andong-dengan harga maksimal Rp 25 juta-dia menghidupi pekerja, berupah harian berkisar Rp 20.000- Rp 40.000. Dia pun dapat hidup layak meski tidak berlebih. Dia pun selalu menekankan kepada para pekerja untuk tekun melakoni pekerjaan mereka. Saat ini, di usianya yang uzur, sang adik, Juwarno, dan sang keponakan, Sutrisno, merupakan nama yang kerap disebut untuk menggantikan dirinya. "Saya lega bila telah ada yang menggantikan saya menjadi pembuat andong," ujarnya menandaskan.

Di tengah deru kendaraan bermotor, Juwandi optimistis pekerjaan membuat andong dapat bertahan. "Tiap kali lewat menggunakan andong, anak-anak pun berlarian ingin menaikinya," ujarnya. Di Jawa pun, andong masih merupakan transportasi andalan para penduduk desa.

Homo ludens, manusia makhluk dengan sifat bermain. Ketika manusia masih gemar menaiki andong sebagai sarana hiburan, "pak tua" seperti Juwandi, kiranya takkan beristirahat walau makin hari kegemilangan profesinya membuat alat transportasi semakin meredup. (RYO)

No comments: