Tuesday, September 27, 2005

Nurdin Mengembalikan Kejayaan Udang Sulsel

Nurdin Mengembalikan Kejayaan Udang Sulsel

Kompas, Senin, 29 November 2004
Bisnis & Investasi



CERITA sedih merosotnya produksi udang petambak di Sulawesi Selatan kini mulai ditutupi harapan baru. Beberapa areal tambak sudah kembali memberikan hasil yang relatif tinggi, hampir 75 persen, dari bibit yang ditebar.

Keberhasilan itu tak lepas dari usaha Presiden Direktur PT Hakata Marine Indonesia Nurdin Abdullah. Dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin ini menggandeng investor dari Jepang mendirikan perusahaan penghasil benur dan pakan udang berkualitas di Sulsel.

Pria kelahiran Pare-pare 7 November 1963 ini tertarik untuk mengembangkan usaha yang berkaitan dengan udang, didorong rasa prihatin dengan merosotnya produksi udang Sulsel. Terlebih lagi ketika petambak terpaksa mengganti bibit udang dari udang windu akibat penyakit white spot dengan jenis vaname konon lebih kuat tetapi harganya jauh lebih murah.

"Sulsel ini terkenal penghasil udang windu di dunia, dan petambak pun mendapat rezeki relatif banyak karena harganya jauh lebih mahal. Sekarang ini mereka terpaksa menebar bibit vaname yang belum tentu juga berhasil, tetapi harganya jauh lebih murah," ujar Nurdin.

Oleh karena itu, Nurdin yang dikenal sukses menggandeng investor Jepang ke Sulsel mencari mitra di Jepang untuk memecahkan solusi petambak di Sulsel. Tahun 2000, ia mendapatkan mitra dari Jepang, Kyushu Medical Co Ltd, untuk mendirikan perusahaan benur dan pakan udang.

Nurdin mengatakan, beberapa tahun terakhir, kuantitas dan kualitas produk udang Sulsel merosot akibat terserang penyakit insang merah dan bintik putih (white spot). Produksi udang Sulsel sepanjang tahun 2003 hanya 4.000 ton, padahal sebelumnya pernah melampaui 10.000 ton.

Dia mengatakan, sejak harga dan kualitas udang anjlok, Thailand merajai ekspor udang ke Jepang. Bahkan, negara gajah putih itu mampu memproduksi 350.000 ton per tahun.

Petambak udang di Sulsel pernah mengeruk keuntungan saat nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS jatuh pada tahun 1997. Harga udang untuk ekspor melangit dari Rp 20.000 per kilogram menjadi Rp 120.000 per kilogram akibat depresiasi rupiah.

Luas tambak di Sulsel mencapai 120.000 hektar atau 30 persen dari total tambak di seluruh Indonesia yang 380.000 hektar. Adapun ekspor udang Sulsel pada tahun 2000 mencapai 9.141 ton atau hampir 20 persen dari total ekspor nasional yang sekitar 50.000 ton.

Sementara itu, menurut Nurdin, Indonesia sejauh ini hanya mampu mengekspor hingga 90.000 ton per tahun. Itu pun sudah termasuk udang putih yang selama ini diributkan oleh pihak Amerika Serikat karena dicurigai berasal dari negara yang ditolak AS diekspor kembali dari Indonesia.

Kini saatnya, menurut Nurdin, Sulsel kembali meningkatkan produk udang Indonesia. Selain mendukung dengan bibit yang bermutu, perusahaannya juga mengeluarkan produk yang dinamakan shrimp guard. Produk ini merupakan antibodi bagi udang dari penyakit, yang dihasilkan melalui kerja sama dengan Kyushu Medical Jepang.

Menurut Nurdin, produk antibodi itu bisa menggairahkan kembali semangat petambak Sulsel yang sudah patah arang dengan virus white spot yang mematikan udang. Pasalnya, virus tersebut membuat petambak di Sulsel hanya menuai rugi karena bibit yang ditebar tidak tumbuh menjadi udang.

"Secara jujur kami dan mitra dari Kyushu Medical dari Jepang melahirkan produk ini semata-mata untuk mengembalikan kejayaan udang windu Sulsel. Alasannya, udang windu pernah menjadi pemasok devisa kedua setelah minyak," ujar Nurdin.

Dia sangat menyayangkan jika keunggulan ini akan di tinggalkan lantas diganti dengan vaname (udang putih). Sebab, di samping harganya lebih murah, juga harus dikelola secara intensif. Padahal, hampir 80 persen tambak di Sulsel dikelola secara tradisional.

Kalau alasan penyakit, sebenarnya udang putih juga sangat rentan terhadap penyakit. Jadi, sebaiknya, Sulsel bertahan dengan produk udang windu.

MENYINGGUNG soal pakan udang yang digunakan petambak Sulsel, umumnya pakan udang tersebut tak jelas kandungannya sehingga cenderung merugikan petani. Oleh karena itu, Hakata Marine Indonesia juga mencari solusi dengan menghasilkan pakan bermutu dengan harga terjangkau.

Bahkan, jika selama ini petani tambak udang harus menunggu empat bulan baru bisa panen, kini Hakata mengadopsi teknologi Jepang yang mampu mengubah siklus tersebut. Melalui hasil penelitian yang dilakukan bekerja sama dengan Kyushu Medical Co Ltd, panen udang bisa di lakukan dalam 80 hari untuk ukuran udang 35 sentimeter.

Hal itu sudah dibuktikan melalui uji coba di berbagai tambak, baik intensif, semiintensif, maupun tradisional plus di berbagai daerah di Sulsel. Antara lain, di Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Pinrang, Takalar, dan Bone.

Pakan udang produksi Hakata ditambahkan formula shrimp guard. Hasil temuan melalui teknologi tinggi dari Jepang ternyata memberikan efek pencegahan untuk menghancurkan WSSV (white spot syndrome virus).

Menurut Nurdin, shrimp guard akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh udang sehingga mempunyai kekuatan untuk menolak virus white spot. Shrimp guard tersebut ramah lingkungan karena merupakan probiotik dari bakteri yang berasal dari mikro-organisme laut yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

Penggunaan yang optimal justru memberikan efek ganda terhadap peningkatan pertumbuhan udang yang cepat dan sehat. Selain itu, karena probiotik, tambak akan awet untuk terus-menerus menghasilkan udang.

NURDIN, suami dari Liestiaty Fachruddin, dan ayah dari Putri Fatima Nurdin (18), M Syamsul Reza Nurdin (13) dan M Fathul Fauzi Nurdin (11), bukan hanya berhasil menggondol gelar S2 dan S3 dari Kyushu University Jepang pada tahun 1991 dan 1994. Pria ini juga membawa investor dari kota tersebut pulang ke kampung halaman.

Kesibukannya sebagai dosen Pertanian Unhas akhirnya terbagi karena harus memimpin beberapa perusahaan yang didirikan bersama mitra Jepang. Namun, perusahaan tersebut memang tak jauh dari bidang pendidikan yang digeluti dan dekat dengan rakyat Sulsel, yakni perikanan.

Bahkan, beberapa tahun lalu Nurdin mendirikan perusahaan biro perjalanan Hakata Travel & Tour. Perusahaan ini juga tak lepas dari niat untuk mempromosikan pariwisata Sulsel kepada orang-orang di Jepang.

Namun, khusus untuk bidang perikanan, pria asal Pare-Pare ini sangat serius untuk memajukan kembali tambak di Sulsel. Menurut dia, ribuan orang bergantung hidup pada tambak, bahkan mahasiswa di Unhas banyak sekolah dengan uang dari hasil tambak.

Semoga cita-cita Nurdin untuk menghidupkan kembali udang windu di Sulsel segera terwujud. Sebab, ihwal itu akan meningkatkan kesejahteraan petambak, menambah devisa negara, dan agar Indonesia tak dicurigai pihak AS karena banyak mengimpor udang putih. (BUYUNG WIJAYA KUSUMA)

No comments: