Tuesday, March 29, 2005

K Fuzy Agus, Buat Kompor Minyak Tanah Tanpa Sumbu

Kompas, Senin, 14 Maret 2005
Bisnis & Investasi

DI saat masyarakat sekarang mengeluhkan mahalnya harga elpiji yang saat ini Rp 53.000-Rp 55.000 per tabung, barangkali kompor minyak tanah tanpa sumbu bisa dijadikan salah satu alternatif untuk alat memasak. Kompor ini dibuat tahun 2003 oleh seorang pengusaha kecil dan menengah di Bandung, K Fuzy Agus (39). Saat ini kompor Gasmit sudah dipasarkan di daerah Bandung dan sekitarnya, Jakarta, Tangerang, Cianjur, Purwakarta, bahkan sampai Biak (Papua).

Fuzy menamakan produk buatannya Kompor Gasmit, kependekan dari kompor gas energi minyak tanah. Jika hendak memasak selama empat jam dengan kompor Gasmit, cukup membeli satu liter minyak tanah yang di eceran seharga Rp 1.300-Rp 1.500 per liter.

Menurut Fuzy, yang ditemui pabriknya di daerah Bandung, Minggu (13/3), nyala api dari kompor Gasmit berwarna biru sama seperti elpiji. Oleh karena itu, kompor Gasmit tidak menimbulkan asap hitam, tidak bau minyak tanah, dan tidak perih di mata.

Hal itu dibuktikan langsung oleh Fuzy. Pengganti sumbu dalam kompor Gasmit adalah pelat baja (burner). "Kompor ini dapat digunakan terus-menerus selama 24 jam dengan aman dan tanpa menimbulkan bahaya atau tidak meledak," ujar Fuzy setengah berpromosi.

PENAMBAHAN atau pengisian minyak tanah dapat dilakukan pada saat kompor menyala. Pada intinya, mekanisme kerja produk ini mengubah energi minyak tanah yang bersifat cair menjadi gas dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi. Untuk itu, tabung minyak tanah yang terbuat dari plastik keras harus disimpan lebih tinggi (1,5-2 meter) dari kompor Gasmit.

Dengan begitu, minyak tanah dan oksigen di dalamnya mengalir ke bawah melalui gaya gravitasi. Kemudian masuk ke dalam instalasi pipa panas (ruang) sehingga terjadi proses kabut atau proses perubahan minyak tanah yang bersifat cair menjadi gas. Proses perubahan awal minyak tanah menjadi gas itu dipanaskan dengan spiritus.

"Lalu burner bagian bawah menyala dan memanaskan instalasi pipa sehingga akhirnya burner bagian atas menghasilkan nyala api biru," ujar Fuzy Agus, pengusaha yang sudah berkecimpung dalam dunia manufaktur sejak tahun 1984.

Komponen kompor Gasmit terdiri dari rangka dan tungku yang mampu menahan beban 75 kg hingga 100 kg, pelat pelindung kompor, burner (sumbu yang terbuat dari pelat baja), spuyer penyalur minyak tanah, instalasi pipa besi tahan panas, mangkuk spiritus, keran on/off dan keran pembuangan, tabung minyak tanah, selang plastik (sekitar dua meter), botol penampungan, dan ring.

Cara kerja kompor Gasmit hampir sama dengan lampu petromaks, yang juga menggunakan burner dan spuyer serta spiritus. Bedanya, proses bekerja lampu petromaks harus dipompa dulu.

Harga kompor Gasmit di tingkat distributor Rp 175.000 per buah. Kalau kita berhitung, tentu saja menggunakan kompor Gasmit lebih efisien dibandingkan kompor gas. Setidaknya diperlukan uang sekitar Rp 600.000 untuk membeli kompor gas yang sudah dilengkapi dengan tabung dan isinya, serta selang gas dan regulator.

MENURUT Fuzy, saat ini produksi kompor ini masih 500 unit per bulan. Namun, ke depan akan ditingkatkan menjadi 750 hingga 1.000 unit per bulan. Ditanya keluhan dari konsumen, Fuzy Agus menyebutkan sejauh ini belum ada.

"Keluhan mereka karena soal kebiasaan saja. Kalau menggunakan kompor elpiji, api bisa langsung nyala begitu kompor dihidupkan. Namun, dengan menggunakan kompor Gasmit, harus menunggu 3-4 menit sampai api benar-benar menyala," ujarnya lagi.

Untuk membuat produk ini, Fuzy mengeluarkan investasi sebesar Rp 100 juta. Apabila penjualan sudah 5.000 unit, mungkin sudah bisa mencapai titik impas (break event point/BEP). Sampai sekarang total penjualan kompor Gasmit baru sekitar 3.000 unit.

Sebenarnya di era tahun 1960-an telah dilakukan pembuatan kompor yang menggunakan bahan bakar minyak tanah tanpa sumbu. Namun, pembuatan kompor itu terhenti dan banyak masalah dalam pembuatan sehingga tidak berlanjut. "Saya mulai ngulik (menekuni) kompor Gasmit sejak tahun 2000 dengan cara trial and error," ujar Fuzy Agus.

Sebelum diproduksi secara massal seperti sekarang, dia melakukan tiga tahap uji coba terhadap kompor Gasmit agar benar-benar memenuhi standar. Bagian penting yang diuji coba adalah instalasi pipa, spuyer, dan keran. "Proses pengujian tersebut memerlukan waktu sekitar 6-7 bulan," ujar Fuzy.

Saat wawancara, Fuzy juga mendapat pesanan kompor Gasmit melalui telepon dari Cianjur dan Biak. Menurut dia, sebenarnya tanpa bantuan pemerintah pun para pengusaha usaha kecil dan menengah (UKM) sudah bisa jalan sendiri. "Asal kita tidak direcoki (instansi pemerintah) saja sudah senang," ungkap Fuzy menceritakan tentang nasib UKM yang sering dijadikan obyek kepentingan dari elite birokrasi dan elite politik di negeri ini.

MENGENAI kompor Gasmit yang diciptakannya itu, Fuzy lebih suka disebut sebagai pengembang dibandingkan sebagai penemu kompor minyak tanah tanpa sumbu ini. Untuk memantapkan hasil karyanya, dia sebenarnya ingin mematenkan kompor Gasmit. "Namun, saya agak kurang bersemangat karena ngurusnya sulitnya minta ampun," ujarnya.

Sebagai salah seorang pengusaha UKM, kini Fuzy sibuk keliling daerah di Jawa Barat. Bukan untuk memasarkan kompor Gasmit, tetapi membantu Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyeleksi para pengusaha UKM yang dianggap layak untuk diberdayakan.

"Saat ini jumlah pengusaha UKM di Jawa Barat sekitar 5.000. Nanti akan diseleksi jadi 500 pengusaha," ujarnya.

Fuzy sebenarnya berharap produk teknologi tepat guna seperti kompor Gasmit ini bisa disosialisasikan dan "dijual" oleh instansi pemerintah yang terkait, meski dia sendiri yang harus membuat. Namun sampai sekarang tak ada yang tertarik.

"Mungkin produk seperti ini bukan termasuk dalam kategori proyek yang bisa mendatangkan uang dalam jumlah besar," ucapnya. (TJAHJA GUNAWAN)

No comments: