Wednesday, March 30, 2005

Rahayu, Memanfaatkan Peluang Bisnis Salon "Door to Door"

Kompas, Senin, 10 Januari 2005
Bisnis & Investasi



Salon tidak selalu sebuah ruangan dengan berbagai poster model rambut, dilengkapi dengan kursi, meja, serta cermin. Salon juga bisa dikemas dalam sebuah tas kecil. Hal inilah yang dilakukan Rahayu S Purnami (27).

Suatu siang, ia berjalan memasuki sebuah permukiman di kawasan Muararejeun, Bandung. Sebuah tas tercangklong di bahu kanannya. Tangannya menjinjing sebuah tas berisi alat rias. Ia baru saja mendapat panggilan untuk merawat seorang ibu yang mengaku malas pergi ke salon. Tas itu berisi alat-alat salon untuk merawat tubuh. Ada perlengkapan facial, lulur, manikur-pedikur, creambath, sampai pijat. Rahayu juga membawa kemben, handuk kecil, panci kecil untuk aroma terapi, dan sebuah kompor listrik. Yang tidak ada hanya perlengkapan memotong rambut karena ia belum memberi layanan itu.

Yayuk, panggilan Rahayu, mencoba mengemas salon menjadi lebih praktis. Ia sudah mempelajari jauh hari sebelum memulai usaha layanan salon ke rumah atau sistem door to door. Di Inggris, tutur Yayuk, usaha ini sudah berkembang sejak lama. Leo Palladino dan John Perry dalam bukunya, Hair Dressing Management, sudah menyebutkan home visiting salon atau layanan salon ke rumah sebagai salah satu jenis salon.

Sebuah salon juga tidak selalu memerlukan alat-alat yang besar. Dengan beberapa teknik tertentu, perawatan tubuh bisa dilakukan dengan alat yang lebih sederhana dan praktis. Untuk mengangkat lemak saat facial atau pembersihan kotoran di wajah, pap-ozone atau alat penghasil uap bisa diganti dengan air mendidih di panci kecil yang ditetesi aroma terapi.

Untuk mengangkat lemak dari tubuh setelah lulur atau pijat, tidak selalu dibutuhkan ruang penguapan yang biasanya terbuat dari terpal. Cukup dengan teknik pemijatan tertentu, lemak ikut terangkat. Setelah itu, tubuh dibersihkan dengan handuk hangat. Cara ini lebih nyaman, bersih, dan praktis. Hal yang sama bisa diterapkan untuk creambath.

"Saya pilih usaha layanan salon ke rumah karena melihat potensi yang cukup besar untuk mengembangkan usaha ini di Bandung," kata Yayuk. Kemacetan yang terjadi di Bandung justru menjadi berkah buatnya.

Berdasarkan pengalamannya mengelola sebuah salon selama tiga tahun, pelanggan kerap mengeluh malas ke salon karena tidak mau terjebak macet, apalagi Kota Bandung sekarang sudah seperti Jakarta yang selalu macet setiap hari. Mereka juga malas antre, terutama pada saat hari libur.

Itu sebabnya Yayuk merasa yakin usaha layanan salon ke rumah akan banyak peminat. Agustus 2004, bisnis ini mulai dijalankan Yayuk. Sebelumnya ia selama tiga tahun menjadi manajer sebuah salon di Bandung. Karena perbedaan visi, lulusan Farmasi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini keluar dari pekerjaannya. Namun, ia sudah memutuskan untuk wirausaha.

Penggemar ilmu manajemen, kepemimpinan, dan kosmetik ini membuka usahanya dengan modal Rp 1 juta. Modal tersebut ia pakai untuk membeli alat- alat salon dan kosmetik. Ia juga memasang iklan di sebuah harian setiap Sabtu dan Minggu.

AGUSTUS 2004, jalannya nasib mulai ditentukan oleh Yayuk sendiri. Hari pertama memasang iklan, telepon selulernya sudah berbunyi. Beberapa orang memintanya datang ke alamat penelepon yang meminta berbagai layanan salon. Dalam empat bulan, Yayuk sudah memiliki 32 pelanggan. Para pelanggan ini rutin memanggilnya setiap minggu, sisanya berlangganan setiap bulan. Setiap Sabtu dan Minggu biasanya ia mendapat pelanggan baru.

Yayuk memasang harga Rp 25.000 hingga ratusan ribu rupiah untuk perawatan lengkap. Selain layanan pijat, manikur-pedikur, lulur, facial, serta creambath, ia juga melayani pewarnaan dan pelurusan rambut. Dalam dua bulan, modalnya sudah kembali, bahkan pengusaha salon "ritel" ini bisa menikmati keuntungan. Biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan hanya Rp 210.000 untuk memasang iklan sebanyak delapan kali dalam sebulan.

Iklan ia ibaratkan sebagai rumah salonnya. Lewat iklan, orang bisa mengetahui di mana salon Yayuk dan bagaimana menghubunginya. "Biaya untuk memasang iklan jauh lebih murah ketimbang menyewa sebuah ruangan untuk dijadikan tempat usaha di Kota Bandung," tutur Yayuk.

Di Kota Bandung, menyewa sebuah ruangan strategis untuk sebuah salon paling murah Rp 23 juta per tahun, sementara dengan memasang iklan ia cukup mengeluarkan Rp 2,5 juta selama setahun. "Kalaupun sudah memiliki rumah salon, belum tentu ada tamu yang datang," ucap Yayuk.

Dengan sistem itu, penghematan juga bisa dilakukan. Jika pemilik rumah salon mutlak harus menyediakan biaya air dan listrik, usaha jasa salon yang dilakukan Yayuk tidak memerlukan hal tersebut karena pelayanan salon dilakukan di rumah konsumen.

Banyak konsumennya yang fanatik dengan berbagai merek kosmetik. Biasanya mereka akan bertanya kosmetik yang digunakan di salonnya. Jika tidak cocok, konsumen biasanya akan menawarkan untuk menggunakan kosmetik pribadinya.

Setelah bisnisnya berjalan beberapa minggu, Yayuk makin yakin peluang bisnis salon door to door ini menjanjikan. Optimisme itu muncul karena beberapa orang kaya di Bandung yang akhirnya menjadi pelanggannya memiliki kamar khusus untuk merawat diri. Kamar itu dilengkapi peralatan salon, begitu juga dengan furniturnya. Rupanya mereka lebih suka memanggil pegawai di salon langganannya untuk merawat tubuh dan wajah mereka di rumah.

"Saya menerima panggilan merawat tubuh dari orang- orang yang tinggal di gang-gang hingga perumahan elite," ujar Yayuk. Konsumen yang memanggil salon ke rumah umumnya sangat memerhatikan kebersihan, terutama untuk lulur dan pijat. Biasanya ruang penguapan di salon kotor dan bau karena sering dipakai dan selalu dalam keadaan lembab.

Selain itu, kenyamanan dengan privasi lebih tinggi juga bisa dirasakan di rumah. Konsumen bisa dirawat sambil menonton televisi sesuai dengan program yang diinginkan dan juga bisa sambil mengobrol dengan keluarga. Ibu yang memiliki anak kecil bisa sambil mengawasi anak-anaknya.

>small 2small 0< yang menjadi pelanggan Yayuk berasal dari berbagai macam usia, mulai dari anak umur 4 tahun hingga 73 tahun. Menghadapi konsumen yang berbeda latar belakang usia, pendidikan, dan ekonomi membuat Yayuk harus terus menambah pengetahuan.

"Saya harus bisa berbicara sesuai minat orang lain," ujar Yayuk yang merasa beruntung karena bisa mempelajari perilaku dan karakter berbagai orang lewat pekerjaannya.

Yayuk tidak menampik bisnis ini sering dikonotasikan kurang baik sebab layanan salon juga identik dengan prostitusi terselubung. Ia sendiri sering menjadi korban. "Malam-malam sering ada lelaki menelepon saya untuk minta layanan pijat, saya tolak," katanya, yang hanya melayani konsumen perempuan. Dia hanya mau mengajari pelanggannya cara melakukan perawatan salon untuk suami atau anak lelakinya.

"Ibu rumah tangga yang punya keterampilan penyalonan juga bisa membuka usaha seperti ini sebab modalnya kecil dan leluasa membagi waktu," ungkap Yayuk yang sering prihatin melihat kaum perempuan yang bekerja di salon mulai dari pagi hingga menjelang malam dengan upah yang tidak mencukupi.

Sebuah ide usaha yang praktis dan menarik. (Y09)

3 comments:

Putri Raihan said...

maaf sebelumnya, gimana cara nya ya saya bisa menghubungi ibu Rahayu S. Purnami ini. karna saya mau sharing dengan beliau. terimakasih

Unknown said...

Aku jg mau kyak buk yayuk.boleh jg dicoba nmanya jg usaha

aplikasi android said...

terimakasih atas info menariknya gan, sangat bermanfaat..
Aplikasi Kasir Android Grratis