Tuesday, March 29, 2005

Edhi Setiawan dan Usaha Ukir Khas Madura

Kompas, Senin, 28 Maret 2005
Bisnis & Investasi



MEBEL. Komoditas ini tengah menjadi sorotan akibat banyaknya persoalan yang dihadapi, semisal kelangkaan dan tingginya harga bahan baku. Di Madura, sentra industri mebel Karduluk tak luput dari masalah itu.

Kebangkitan mebel ukir khas Madura tak lepas dari peran Edhi Setiawan (59). Budayawan peraih Upakarti, penghargaan Presiden Republik Indonesia untuk Jasa Pengabdian dalam Usaha Pengembangan Industri Kecil dan Kerajinan, tahun 1993 ini yang tetap meyakini bahwa selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kerajinan seni ukir khas Madura juga dapat dijadikan sebagai pilihan bidang usaha.

Selain membuka rumah makan, Edhi juga melayani pesanan mebel khas Madura. Selain pasar lokal, pembeli mebel juga datang dari luar daerah, semisal Jakarta dan Bandung. Dalam satu bulan, rata-rata dia melayani pesanan satu hingga tiga set mebel.

Dia merancang sendiri desain mebelnya. Lalu untuk pengerjaan, mulai dari bahan baku hingga produk setengah jadi, diserahkan kepada para pengukir. Proses di tahap akhir produk, Edhi mempekerjakan lima pengecat di kediamannya di Jalan Jenderal Sudirman 34, Sumenep, Madura.

Dia tidak dapat menyebutkan secara pasti berapa omzetnya per bulan. Alasan Edhi, pendapatan itu sangat tergantung pada banyak sedikitnya pesanan. "Omzetnya bisa cuma jutaan rupiah, bisa pula di atas Rp 10 jutaan. Tidak tentulah, tergantung pesanan," katanya.

Sebagai gambaran, harga meja kursi berukir motif Madura bikinan baru harganya berkisar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per set, tempat tidur sekitar Rp 7 juta per unit, dan peti bervariasi mulai Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per buah.

Harga mebel kuno minimal empat kali lipat ketimbang buatan baru. Bahkan untuk barang antik berkelas, harga jualnya bisa puluhan kali lipat, tergantung kualitas, kerumitan ukiran, dan eksklusivitasnya.

LELAKI kelahiran Sumenep tanggal 13 Januari 1946 ini mulai mencintai mebel antik Madura sekitar tahun 1970. "Pengalaman saya di bidang barang antik mengukuhkan pendapat saya bahwa dulu Madura dipenuhi pengukir tangguh dalam menghasilkan karya bernilai tinggi," tutur suami dari Trisna Dewi ini.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang tahun 1974 ini pada tahun 1980-an mulai membina sekitar 15 perajin, yang terutama terkonsentrasi di Karduluk. Saat ini Karduluk dikenal sebagai sentra mebel ukir khas Madura. Karena keeksotikan mebelnya, ada yang menyebut Karduluk sebagai Jepara-nya Madura.

Edhi tidak hanya memberi dukungan modal kepada perajin binaannya, tetapi juga menampung dan memasarkan produk mebel para perajin. Pada masa-masa awal, barang berkualitas kurang baik pun tetap dia tampung. Sebagian dia jual rugi, bahkan ada juga yang diberikan cuma-cuma kepada orang lain.

"Ini kiat bagi mereka yang ingin membina perajin. Jangan hanya memberi dukungan modal dan teknik produksi, tetapi beri juga mereka kepastian pasar," kata Edhi. Jaminan bahwa karyanya laku akan membuat perajin bersemangat dalam memproduksi barang.

Keberadaan rumah makan dan Art Shop 17 Agustus miliknya yang ramai dikunjungi pengunjung menjadi wahana promosi efektif bagi pemasaran produk mebel dari para perajin binaannya. Edhi juga menggunakan ajang pameran untuk mengenalkan dan memasarkan produk ukir khas Madura.

"Beberapa kali saya ikut pameran di Jakarta dan Surabaya, seperti di Taman Mini Indonesia Indah dan hotel-hotel," katanya.

Produk mebel ukirnya pun sering dipinjam oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumenep untuk diikutkan dalam pameran produk di berbagai daerah.

Selaku budayawan yang aktif dalam beragam kegiatan seni budaya, banyak koleganya kemudian mengenal produk ukir Madura tersebut dan mengenalkan kepada orang lain. Melalui promosi gethok tular (dari mulut ke mulut) semacam itulah Edhi mengenalkan produknya ke pasar.

Pengenalan motif klasik kepada para perajin binaan setempat melalui foto-foto dokumentasi ataupun barang antik yang dikoleksi Edhi ikut mengubah kondisi permebelan di Madura. Ukiran Madura dibedakan dengan daerah lain dalam hal kekayaan ragam ukir. Warna ukiran Madura lebih mencolok dan goresan pahatannya lebih ekspresif dibandingkan dengan ukiran Jawa. Di era tahun 50-an hingga tahun 80-an, tidak banyak ukiran khas Madura yang dipahatkan pada mebel buatan Karduluk. Selepas tahun 1985, mulai bermunculan penggunaan motif ukir klasik di mebel buatan para perajin setempat.

TERKAIT melambungnya harga bahan baku yang dialami perajin beberapa sentra produksi mebel di Jawa, Edhi menuturkan, kondisi yang sama juga terjadi di Madura. Sebagai gambaran, kayu jati yang digunakan para perajin mebel di Madura berasal dari Bojonegoro, Pulau Kangean, dan dari kayu jati rakyat yang ditanam di Sumenep.

Berdasarkan hasil konfirmasi kepada perajin di Karduluk, harga kayu jati berkualitas bagus pada pertengahan Desember 2004-Februari 2005 masih berkisar Rp 4,5 juta-Rp 5 juta per gelondong. Namun, pascakenaikan harga BBM, harga kayu jati menembus Rp 6 juta per gelondong.

Untuk membantu perajin binaannya, Edhi menaikkan harga beli produk perajin sekitar 10 persen. Akibatnya, margin keuntungan yang diperolehnya menipis karena sulit baginya untuk menaikkan harga jual ke konsumen.

"Untuk menaikkan harga jual mebel kepada konsumen masih pikir-pikir sebab harus melihat kondisi pasar," kata Edhi menjelaskan.

"Dari sisi usaha, jika diukur nominalnya, upaya saya mungkin tidak begitu berarti. Namun, minimal apa yang saya lakukan sejak tahun 1985 menjadikan ukiran Madura tumbuh lagi sehingga orang lain dapat mengembangkannya," katanya merendah.

Satu hal yang jelas, kepedulian Edhi Setiawan dalam melestarikan kerajinan ukir khas Madura mengantarnya sebagai penerima Upakarti. (C ANTO SAPTOWALYONO)

No comments: