Tuesday, March 29, 2005

Bagus Sudibya: Tidak Cukup Hanya Menggerutu

Kompas, Senin, 14 Februari 2005
Bisnis & Investasi


BALI kini punya sederetan nama warganya yang masuk kategori pengusaha sukses. Sebagai daerah tujuan wisata dunia, maka para pengusaha sukses ini adalah mereka yang bergerak di sektor pariwisata. Seorang di antaranya adalah Bagus Sudibya.

Putra kelahiran Karangasem, Bali, 22 Agustus 1952, itu saat ini menguasai setidaknya 11 perusahaan. Ditambah harta lainnya, aset milik Bagus Sudibya diperkirakan senilai 20 juta dollar AS atau Rp 180 miliar. Kelompok usaha di bawah Bagus Discovery, semuanya di lingkungan pariwisata, berupa hotel, vila dan spa, biro perjalanan, usaha agrowisata, dan kapal pesiar. Salah satu hotel miliknya berlokasi di Baliem, Jayawijaya, Papua, bernama The Baliem Valley Resort.

"Saya merasa memperoleh kehormatan disebut masuk kelompok pengusaha sukses di Bali. Padahal, saya sadari apa yang saya geluti belum ada apa-apanya dibanding sejumlah pengusaha sukses lainnya," tutur Bagus Sudibya, yang sejak awal Desember lalu terpilih sebagai Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Bali.

Bagus Jati Health & Wellbeing Retreat di Tegalalang, Kabupaten Gianyar, adalah salah satu usaha milik Bagus Sudibya. Bagus Jati yang berlokasi pada ketinggian 685 meter dari permukaan laut dan sekitar 45 kilometer utara Denpasar itu dirancang khusus untuk bermeditasi, yoga, atau beristirahat.

Khusus di Bali, sejumlah hotel atau vila dan usaha lain milik ayah empat anak itu tidak hanya terkonsentrasi di Denpasar. Usahanya tersebar di Bali bagian selatan, timur, dan utara. Misalnya, Puri Bagus Villa Resort Candidasa berlokasi di Kabupaten Karangasem, bagian timur Bali.

Tentang hotel tua ini, suami dari Djaya Wardani itu mengakui vila tersebut adalah warisan orangtuanya. "Vila itu sebenarnya mau saya serahkan saja untuk adik-adik," ujar alumnus Harnack Schule di Berlin, Jerman (1975-1976), The Oxford Academy of English di Inggris (1976-1977), dan Institute of Tourism and Hotel Management di Salzburg, Austria (1977-1980) itu.

Hotel lain miliknya adalah Puri Bagus Villa Resort Lovina di Buleleng (pesisir utara) dan Puri Bagus Villa Resort Manggis. Bagus Sudibya juga pemilik perusahaan biro perjalanan bernama Nusa Dua Bali Tours & Travel, yang beroperasi sejak tahun 1985. Lainnya, perusahaan agrowisata bernama Ponjok Batu Agro & Restaurant di Buleleng dan Bagus Agro Pelaga di Desa Pelaga (Badung). Masih ada lagi dua perusahaan bernama Baruna Marine Sport dan Seruni Tourist Transport.

BALI selama lebih dari dua dasawarsa terakhir ini hampir total bergantung pada pariwisata. Namun, sukses yang diraih ternyata tidak hanya untuk Bali sendiri. Menurut catatan, pariwisata Indonesia menyumbang sekitar 5 miliar dollar AS per tahun. Dari jumlah tersebut, Bali menyumbang 2 hingga 3 miliar dollar AS.

Diakui, pariwisata Bali sempat keok akibat tragedi bom 12 Oktober 2002. Namun, secara perlahan, pariwisata Bali mulai pulih. Meski demikian, tetap saja ada sekelompok orang Bali yang terus menggerutu. Alasannya, hanya sebagian kecil dari kue pariwisata yang dinikmati orang Bali. "Ada benarnya, atas hitungan sekitar 85 persen dari keuntungan pariwisata Bali justru menjadi keuntungan orang luar Bali," ujar Bagus.

Atas reaksi orang Bali itu, Bagus justru melukiskannya sebagai reaksi emosional. Menurut dia, orang Bali tidak cukup hanya menggerutu. Yang harus dilakukan adalah mencari solusi terbaik.

Bagus Sudibya menawarkan salah satu solusinya adalah dukungan politik pemerintah bersama DPRD merumuskan sebuah peraturan daerah (perda) khusus tentang pola pengelolaan berbagai bentuk perusahaan di Bali. Isinya antara lain dalam tenggang waktu tertentu-katakan setelah sepuluh tahun operasional-perusahaan tersebut harus go public. Sahamnya dijual kepada masyarakat sehingga masyarakat setempat pun merasa memiliki.

Soal kebijakan visa on arrival (VoA/pemberlakuan visa saat kedatangan) yang diterapkan 1 Februari lalu, Bagus mengesankan adanya diskriminasi atas negara-negara tertentu yang tidak mendapatkan fasilitas VoA, seperti Belanda, Austria, dan Spanyol. Padahal, negara-negara itu potensial mengirimkan wisatawan ke Bali.

VoA juga dinilai mengurangi semangat promosi bersama di ASEAN. Alasannya, sebagian besar negara ASEAN tidak mengenakan visa. Sebagai misal, ada wisatawan yang ingin mengunjungi beberapa negara di ASEAN dalam satu kali perjalanan merasa sulit masuk ke Indonesia karena harus mengurus visa.

Sementara itu, Bagus juga melihat VoA menurunkan pendapatan devisa. Katanya, dulu sebelum VoA, banyak wisatawan dari negara-negara yang mendapatkan fasilitas bebas visa kunjungan singkat (BVKS) dengan waktu tinggal di Indonesia selama 60 hari. Dengan tenggang waktu tersebut, wisatawan bisa melakukan perjalanan overland, dari satu pulau ke pulau lain. Biasanya wisatawan dari Eropa.

Saat ini sulit melakukan hal itu akibat keterbatasan waktu kunjungan, hanya 30 hari. Ini mengakibatkan lama tinggal wisatawan kian pendek pula.

Sementara itu, wisatawan yang berkunjung saat ini kebanyakan berasal dari Asia, seperti Hongkong, Taiwan, dan Korea Selatan, yang lama tinggalnya hanya 3-4 hari. Dengan demikian, jumlah pengeluarannya pun terbatas. Rata-rata pengeluaran tiap wisatawan Asia hanya 60 dollar AS per hari. Hanya separuh dari pengeluaran tiap wisatawan Eropa yang 120 dollar AS per hari.

"Kebijakan VoA perlu ditinjau kembali, bahkan dihapus saja," saran Bagus.

BAGAIMANA pariwisata Bali ke depan? Bagus Sudibya menegaskan, nasib pariwisata pulau ini ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan pengelolaan penerbangan dalam negeri. Berbagai pihak terkait, terutama di Bali, haruslah secara serius berpikir tentang maskapai penerbangan yang khusus mendukung pariwisata.

Menurut catatannya, sejumlah negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, pariwisatanya maju karena maskapai penerbangan mereka memang fokus mendukung pariwisata.

Maka, saatnya Bali memikirkan maskapai penerbangan sendiri yang khusus mendukung pariwisatanya. Oleh karena itu, Bagus Sudibya mendukung langkah terobosan yang dilakukan rekannya, Kadek Wiranata, pemilik perusahaan penerbangan Air Paradise di Bali. Didukung empat unit pesawat, maskapai ini melakukan penerbangan ke Australia tiga kali sehari. Menyusul tiga kali seminggu ke Osaka, Jepang, dan sejak Mei ke Bangkok tiga kali seminggu.

Langkah terobosan Kadek Wiranata pantas didukung. Alasannya, pariwisata Bali ke depan sangat ditentukan oleh keberadaan maskapai penerbangan yang khusus mendukung pariwisata. (ANS)

No comments: