Endang Sutisna, Juragan Ubi Cilembu
Kompas, Senin, 01 November 2004
Bisnis & Investasi
HARI itu waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, tetapi Endang Sutisna (52) sudah harus keluar dari rumah panggungnya yang berdinding anyaman bambu. Dua buah carangka atau wadah dari anyaman bambu berkapasitas 50 kilogram dipikul di bahunya.
Pada masing-masing carangka, ia mengisi 25 kilogram ubi mentah. Ubi yang dijualnya dikenal dengan ubi cilembu. Dari rumahnya di Desa Cilembu, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, ia berjalan menuju Cicalengka, Kabupaten Bandung. Jalan yang harus ditempuhnya menurun dan menanjak.
Perjalanan subuh itu dilakukan untuk menjual ubi yang sebagian ia tanam di sawahnya. Sebagian lagi ia ambil dari para petani lain di desanya yang memiliki persediaan ubi untuk dijual. Di Cicalengka, ia sudah memiliki pelanggan tetap. Beberapa belas kilogram ubi bisa habis di sana dalam sehari. Pelanggan lainnya juga sudah ia miliki di beberapa daerah di Sumedang. Rute perdagangan ubinya adalah Tanjungsari-Cicalengka-Kota Sumedang-Tanjungsari.
Dalam sehari, rata-rata ia bisa menjual 50 kg. "Tapi kadang juga pulang tidak bawa uang," ujar Endang. Yang terbawa hanya lecet di telapak kaki karena menginjak tanah yang panas di siang hari, atau pusing kepala karena terlampau lama berjemur sambil memikul ubi yang jumlahnya tetap utuh dalam carangka. Perjalanan subuh diakhiri Endang setiap pukul 12.00. Setelah dzuhur, dipastikan Endang sudah berada lagi di rumah panggungnya. Namun, ini cerita kehidupan getir Endang 14 tahun lalu. Kini Endang tidak lagi berkeliling di tengah terik matahari sambil memikul 50 kilogram ubi.
Yang dilakukannya sekarang adalah mengatur keluar masuknya ubi dari rumahnya yang berlantai dua. Bukan rumah panggung yang dulu, rumah itu sudah berubah wajah.
Endang tidak lagi mengurusi dua carangka, tetapi puluhan ton ubi mentah dalam seminggu yang ia kemas dalam carangka. Carangka ditempatkan di tiga gudang miliknya yang berada di sekitar rumah, yakni sebuah gudang berkapasitas 30 ton.
Ubi-ubi tersebut siap diangkut oleh sebuah perusahaan agrobisnis di Lembang, Kabupaten Bandung, sebanyak lima ton dalam seminggu. "Katanya ubi-ubi mentah itu dijual oleh perusahaan itu ke Carrefour yang ada di Jakarta." Setiap minggu Endang memasok satu ton di sebuah kios di Bandung. Tadinya dia juga memasok untuk sebuah perusahaan di Surabaya sebanyak tiga ton per dua minggu. "Tetapi karena pembayarannya kurang lancar, jadi saya stop dulu," kata Endang di rumahnya di Desa Cilembu, Kamis (21/10).
Dalam seminggu Endang mengirim beberapa ton ubi. Jadi penghasilan seminggu cukup lumayan juga. Padahal, ketika berjualan berkeliling ia biasanya pulang hanya mengantongi uang sekitar Rp 50.000 per hari atau sekitar Rp 350.000 seminggu.
Ubi dikumpulkan Endang dari tiga bandar ubi. Sebagian kecil ubi ada juga yang dihasilkan dari lahan pertaniannya sendiri. Para pembeli biasanya akan datang ke gudangnya. "Jadi saya tidak mengurusi pengirimannya," ucap Endang.
Endang mempekerjakan tiga orang karyawan. Mereka bertugas menyortir dan mengemas ubi dalam carangka, lalu menyusunnya di gudang. Dalam sehari seorang karyawan yang bekerja di gudang diberi upah Rp 12.500 per hari ditambah dengan makan siang.
Endang lebih banyak berbisnis ubi mentah. "Ubi yang dioven paling saya jual sekitar 10 kilogram sehari. Dikerjakan anak dan istri saja," kata Endang. Padahal, Endang melesat justru karena ubi ovennya itu.
TITIK perubahan hidup Endang dimulai tahun 1995. Saat itu, kelompok mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata melakukan uji coba pengolahan ubi agar lebih lezat dan awet. Mereka memperkenalkan cara mengolah ubi dengan pengovenan. Endang pun lalu mencobanya, ternyata ubi lebih lezat. Ubi cilembu yang berkulit gading, berurat, dan panjang itu memiliki rasa manis, sedangkan getahnya akan meleleh seperti madu ketika dipanggang. "Rasa ubi cilembu itu aneh. Manisnya tak bisa ditandingi ubi lain."
Begitu lezatnya, Endang pun mulai merasa percaya diri, lalu ubi-ubi itu dibawanya ke kantor-kantor. "Saya memasarkannya ke kantor-kantor. Harga sekilonya Rp 1.500. Sehari saya menjual 50 kilogram," tutur Endang.
Sekitar tahun 1996 banyak orang datang menemuinya di rumah panggung. Mereka memesan ubi untuk didagangkan kembali ke beberapa kota. Endang pun menyetujuinnya. Awalnya ia hanya mendapat order satu atau dua kuintal ubi. Namun, lama kelamaan jumlahnya pun terus berkembang karena ubi cilembu semakin digemari.
Untuk pembelinya, Endang berusaha memberi ubi yang terbaik dengan lebih ketat menyortir ubi. Ini dilakukan karena ubi yang tidak baik atau terkena hama mudah sekali menular pada ubi lainnya. Dua pelanggan tetapnya sekarang termasuk dalam generasi pertama pembeli ubi Endang.
"Dulu perusahaan di Lembang hanya minta lima kuintal seminggu. Kios di Bandung hanya minta dua kuintal seminggu," ujar Endang mengenang. Oleh karena semakin meningkatnya jumlah permintaan, Endang tidak lagi dapat berjualan keliling kampung. Setiap hari ia duduk di atas carangka-carangka ubi untuk menyortir dan mengatur keluar masuk ubi. "Tetapi justru sekarang kaki saya sering sakit," ujar Endang yang tampak berjalan berjinjit-jinjit. Mungkin karena kurang bergerak.
Sekarang ini dari ubi, Endang tak hanya bisa mengubah penampilan rumahnya, tetapi juga berhasil menyekolahkan empat anaknya. "Yang pertama jadi tentara, yang kedua jadi polisi, yang ketiga punya kios ubi di dekat rumah saya. Yang keempat masih kuliah," ujarnya.
Endang tak pernah membayangkan hidupnya bakal seperti sekarang, pedagang ubi keliling menjadi juragan. "Mungkin ini sudah suratan nasib dalam kehidupan saya," kata Endang Sutisna. (Y09)
1 comment:
Saya anak bungsu dr4 bersaudara, saya mw ngucapin bnyk trimakasih atas sgala smua yg tlh dberikannya, smg dpt balasan dr Allah swt
Post a Comment