Ignatius Sumardi, dari Tungku Kompor hingga Onderdil Motor dan Mobil
Kompas, Senin, 27 September 2004
Bisnis & Investasi
SPESIALISASI! Mimpi ini yang hendak diraih Ignatius Sumardi (48), pelaku usaha kecil menengah (UKM) di sektor komponen otomotif. Memang berbagai jenis dan model onderdil kendaraan bermotor sudah diproduksi sejak tahun 1992, yang diawali dengan pendirian bengkel kecil di rumahnya.
Namun, tanpa ada spesialisasi, terutama dalam hal produk komponen otomotif, secara perlahan tetapi pasti, produk yang dihasilkan akan tersaingi bukan hanya oleh barang serupa dari impor, tetapi juga buatan dalam negeri.
Untuk meraih hasrat memiliki spesialisasi dalam hal produk komponen otomotif, Sumardi pun tidak pernah berhenti belajar. Menggali ilmu tidak hanya dilakukan lulusan Akademi Teknik Mesin Industri di Solo ini dengan membaca berbagai buku ditambah pengalamannya mengikuti pelatihan dan pendidikan ketika bekerja di perusahaan otomotif di negeri ini.
Segala cara juga diupayakan untuk memperjuangkan terwujudnya mimpi memiliki spesialisasi sehingga ada trademark sendiri sebagai keunggulan untuk bersaing di pasar dalam dan luar negeri. Sumardi yang kini memiliki perusahaan bernama PT Galih Ayom Paramesti (GAP), yang berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat Pekopen, Lambang Jaya, Tambun, Bekasi, sudah mempekerjakan 60 orang.
Perusahaan yang dirintis dari bengkel kecil dan penyedia berbagai jasa yang berkaitan dengan mesin otomotif itu kini bisa memproduksi puluhan bahkan ratusan ribu onderdil kendaraan bermotor dengan berbagai jenis setiap bulan.
DENGAN omzet ratusan juta rupiah per bulan, Sumardi kini membutuhkan logam minimal 50 ton per bulan. Sebagai pengusaha, badai krisis moneter yang melanda negeri ini tahun 1998 juga menghantam perusahaan yang ketika itu mulai berkembang dengan tenaga kerja 20 orang.
"Begitu krismon (krisis moneter), order pun sepi hingga tahun 2000 sehingga saya sempat banting setir jualan beras, jadi broker apa saja untuk bisa bertahan. Bahkan pekerjaan mengelas pagar rumah pun digarap untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh," kata suami Bernadetta W (46) ini.
Pabrik tempat memproduksi berbagai macam onderdil otomotif dijadikan gudang beras. "Saya sempat ketakutan ketika pasokan beras dari Pulau Jawa meningkat sehingga ada penumpukan di gudang. Saya khawatir dituduh menimbun beras karena ketika itu negeri in sedang krisis," ujar Sumardi yang mengaku usahanya bisa bangkit ketika krisis berkat order dari perusahaan kompor Rinai, untuk menggarap tungku kompor dari logam.
Setelah badai krisis ekonomi berlalu, secara perlahan, usaha Sumardi pun mulai menggeliat. Sumardi yang memasarkan produknya melalui tiga cara, yakni original equipment manufacturing (OEM), yaitu produk dipasok ke produsen untuk dirangkai menjadi mobil dan sepeda motor buatan produsen tersebut. Ketika itu, dia sempat mengerjakan rotor disc untuk Toyota. Selain itu, ia juga membuat genuine part atau onderdil asli sesuai dengan pesanan produsen mobil dan sepeda motor, dan dijual sebagai suku cadang asli dari merek produsen.
Khusus pemasaran ini, Sumardi bisa memasok ke Astra karena dia merupakan binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang juga menyuntikkan modal kerja melalui Astra Modal Ventura (AMV).
Selain menggarap order dari OEM dan suku cadang asli, ayah dari Dito (16) dan Kalis (14) itu menembus pasar after market, yakni dengan menjual produk onderdil langsung ke pasar bebas. Komponen yang dipasok ke pasar langsung ini tidak menggunakan merek tertentu.
Memang dengan sistem pemasaran langsung ke pasar, segala sesuatu termasuk order dari pemilik toko serba tidak jelas. Misalnya, mendadak permintaan dari pasar datang dalam jumlah besar dan model komponen yang beragam, padahal ketika itu tidak ada persediaan yang cukup. Sementara tidak jarang ketika stok melimpah, permintaan justru sepi.
"Keuntungan memasarkan produk melalui after market, ada uang ada barang. Paling lambat, satu minggu tagihan cair. Artinya, tidak perlu menunggu berbulan-bulan pembayaran cair, bukan seperti kalau memasok ke OEM atau suku cadang asli yang butuh waktu lama," katanya.
Sampai sekarang Sumardi tetap menjalankan tiga pola pemasaran dengan perbandingan 70 : 30, yakni untuk memasok pasar secara langsung dia hanya mengisi 30 persen, sedangkan 70 persen dipasarkan ke OEM dan produsen otomotif.
SEBENARNYA, kata Sumardi, dengan kondisi usaha pembuatan komponen otomotif yang terus berkembang, sudah banyak rekan dan perusahaan lain yang ingin bergabung ke PT GAP untuk mengembangkan usaha tersebut secara bersama- sama. Beberapa tahun lalu ia bersama koleganya membeli mesin pembuatan knalpot, namun karena masih ada beberapa kendala, mesin itu masih menganggur.
"Salah perhitungan sejak awal sehingga mesin itu belum bisa dioperasikan meski sudah dibeli. Ada pemikiran ke depan mungkin saya menspesialisasikan produk knalpot, tetapi masih ada kendala," kata pelaku UKM ini, yang sampai sekarang masih dihantui berbagai pungutan resmi dari pemerintah daerah setempat dengan bermacam-macam alasan.
Sumardi tampaknya sangat hati-hati menjalin kerja sama dengan pihak lain untuk mengembangkan usahanya meski ada kebutuhan modal kerja, terutama untuk membeli mesin. Alasannya, dia khawatir usaha yang dirintis dengan susah payah itu justru terombang-ambing setelah menjalin kerja sama dengan pihak lain.
"Saya berencana mengajukan tambahan modal ke YDBA melalui AMV untuk meningkatkan kapasitas produksi. Bukan bermitra dengan orang per orangan untuk mengamankan perusahaan yang saya rintis dengan menggunakan modal sendiri," ujar Sumardi yang telah mulai menerapkan lingkungan hijau di kompleks pabrik meski secara kecil-kecilan.
Sambil terus meningkatkan kualitas produk, Sumardi pun tak henti berinovasi agar memiliki spesialisasi dalam membuat komponen otomotif yang berkualitas sehingga hasil karyanya tidak tergilas di era perdagangan global.
Demi mewujudkan mimpinya, Sumardi pun tengah mengincar lahan bekas pabrik milik tetangganya seluas 1.300 meter persegi. Sebab, jika hanya mengandalkan lahan pabrik yang dimiliki seluas 1.000 meter persegi, sulit mengembangkan bisnis yang sangat prospek tersebut.
Mengembangkan usaha di bidang komponen otomotif berarti menambah fasilitas mesin, jadi perlu lahan luas. Hanya saja, karena keterbatasan dana, Sumardi memilih mengontrak lahan karena prinsip utama dia adalah bagaimana produk onderdil yang dibuatnya tidak kalah bersaing di pasar lokal. (AGNES SWETTA PANDIA)
1 comment:
keren juga nih usahanya, gimana ya klau usaha jaket motor?
Post a Comment