Kompas, Senin, 31 Januari 2005
Bisnis & Investasi
TEKAD Gun Gun Runiadi, mantan mahasiswa bidang Ilmu Metalurgi, Akademi Ilmu Logam-Bandung, untuk menggeluti bisnis sepatu berawal dari kepindahan keluarganya dari Buah Batu ke wilayah Cibaduyut, sekitar tahun 1970-an. Di Cibaduyut, waktu itu sudah banyak orang yang membuka usaha pembuatan sepatu.
Dalam berusaha, laki-laki kelahiran Bandung, 46 tahun lalu, ini selalu berpegang pada petuah ayahnya yang selalu mengatakan agar dirinya jangan menggantungkan pekerjaan dari orang lain.
"Kalau bisa, buka lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain," kata laki-laki yang semula bercita-cita memiliki bengkel logam sendiri ini.
Sebelum menjadi perajin sepatu, Gun Gun sempat mencoba untuk berdagang. Namun, peruntungannya ternyata sama sekali bukan pada usaha dagang, dan ia pun memutuskan untuk berhenti. Gagal di sana, dia akhirnya memutuskan untuk berusaha di bidang sepatu.
Hanya bermodalkan uang Rp 250.000, jumlah yang terbilang cukup lumayan pada saat itu, Gun Gun memberanikan diri untuk memulai membuka usaha pembuatan sepatu.
Beruntung mertuanya meminjamkan salah satu ruangan di rumahnya di wilayah Jalan Cibaduyut Lama untuk dijadikan bengkel sepatu. Ruangan bekas kamar mandi itu kemudian direnovasi pada beberapa bagiannya untuk dijadikan sebagai bengkel sepatu.
Pertama kali membuka bengkel sepatu, Gun Gun mempekerjakan empat tukang. Tenaga tukang itu diperlukan untuk membantunya membuat bagian atas sepatu dan satu lagi untuk mengerjakan finishing.
DENGAN jumlah pekerja yang hanya empat orang, dalam sehari usahanya itu hanya bisa membuat lima hingga enam pasang sepatu. Seluruh produk alas kaki yang dihasilkan, seperti sepatu dan sandal, pada mulanya mengikuti perkembangan mode saat itu.
"Seluruhnya saya jual dengan cara door to door atau dari rumah ke rumah," tuturnya. Gun Gun mengaku tidak begitu menyenangi cara menjual dengan cara menitipkannya di toko-toko. Dia lebih suka menjualnya sendiri, baik ke pembeli perorangan, perusahaan, maupun instansi pemerintah.
Tiga tahun pertama dilaluinya dengan situasi pasar yang tak menentu. Selain masih belajar tentang produksi, manajemen perusahaan juga menjadi salah satu fokus utama yang berusaha diperbaikinya. Baginya, jika mau maju layaknya sebuah perusahaan besar, bengkelnya harus memiliki prosedur operasi standar yang baku. Bermula dari hal tersebut, dirinya mempelajari masalah manajemen, baik mutu maupun organisasi, melalui bahan-bahan bacaan yang didapatnya. Bahkan Gun Gun tidak segan-segan untuk bertanya kepada orang lain yang usahanya telah lebih maju dari dirinya.
Meski lambat, upayanya mulai membuahkan hasil. Pesanan sepatu terus meningkat. Naiknya permintaan ini tak mampu dipenuhinya semua. Hal itu disebabkan kurangnya jumlah perajin, keterbatasan alat dan tempat. Untuk mengatasi itu semua, Gun Gun memindahkan tempat usahanya ke tempat yang lebih luas. Di tempat barunya, Gun Gun menambah jumlah pekerjanya menjadi 15 hingga 20 orang, dan kapasitasnya pun meningkat menjadi sekitar 250 pasang per minggu.
Tahun 1992, setelah enam tahun menggeluti usaha pembuatan sepatu, Gun Gun baru merasa yakin akan prospek usaha tersebut. Kapasitas produksi sepatu yang meningkat mengharuskan Gun Gun mencari pasar baru bagi produksinya. Kali ini Gun Gun mencoba memasarkan sepatu produksinya di toko- toko grosiran sepatu, seperti Matahari. Langkah ini ditempuh untuk memulai memperkenalkan produknya ke masyarakat. Pada awalnya, Gun Gun baru memasukkan ke beberapa toko grosiran sepatu yang ada di Bandung. Namun, setelah beberapa lama, hal itu mulai menunjukkan hasil. Kemudian, dirinya berusaha untuk melebarkan sayapnya dengan mengirimkan sepatu hasil produksinya ke kota lain di Jawa Barat, seperti Bogor dan Cirebon.
Tahun 1996, Gun Gun sempat berpikir untuk mengekspor sepatu ke mancanegara. Namun, akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia, keinginannya untuk mengekspor sepatu tertunda. Akhirnya, keinginan tersebut dialihkan pada upaya membuat sepatu dengan merek sendiri.
Keinginan untuk memperkenalkan sepatu dengan mereknya sendiri dan kualitas yang tidak kalah dengan sepatu hasil produksi luar negeri semakin kuat. Beruntung, pada tahun 1986, pemerintah memberikan paket bantuan untuk industri skala kecil dalam bentuk modul pelatihan peningkatan mutu.
Menurut Gun Gun, yang diajarkan dalam modul itu adalah memberikan pendidikan mental, alur, dan langkah-langkah produksi sepatu, termasuk di dalamnya adalah peningkatan kualitas hasil produksi. Alur kerja yang ada dalam modul tersebut hampir sama dengan manajemen ISO saat ini. Namun, dalam modul tersebut hanya ada 11 langkah. "Lebih singkat dibandingkan dengan mendapatkan sertifikat ISO," katanya.
TAHUN 1998, Gun Gun mulai berupaya mewujudkan mimpinya untuk bisa membuat dan memasarkan sepatu dengan mereknya sendiri. Namun, ia mengaku sempat ragu untuk memulai usahanya tersebut. "Setiap kebijakan yang diambil pasti ada risikonya," katanya.
Yang diperhitungkan oleh Gun Gun adalah risiko kehilangan potensi keuangan dari 1.000 pasang sepatu yang dibuatnya dengan sistem maklun atau menerima order mereka sepatu lain. Untuk itu, Gun Gun harus meyakinkan istrinya bahwa harus ada risiko yang diambil dari rencana ini. Akhirnya, istrinya pun yakin terhadap langkah yang akan dilakukannya.
Secara perlahan produksi sepatu untuk industri lain mulai dikurangi. Jika sebelum dimulai persentase antara produksi sistem maklun dengan menggunakan merek sendiri 80:20, secara perlahan angka itu bergeser dan menjadi berbalik. Gun Gun sendiri menargetkan untuk mempertinggi persentase produksi sendiri menjadi 90 persen dari kapasitas terpasang dan 10 persen untuk sistem maklun pada tahun 2000.
"Merek yang pertama kali diperkenalkan adalah Batant," kata Gun Gun. Batant sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun 1987, saat dirinya baru memulai berusaha di bidang sepatu.
Gun Gun mengkhususkan diri untuk memproduksi jenis sepatu fungsi, seperti untuk tracking, adventure, rugged-work, dan safety, serta segala jenis kegiatan yang dilakukan di luar ruangan (outdoor activities). Sebab, menurut Gun Gun, model sepatu fungsi tidak hanya untuk setahun atau dua tahun saja, namun bertahun-tahun. Berbeda dengan sepatu untuk fashion atau style yang hanya bertahan pada musim tertentu saja.
Tahun 2001, dirinya juga meluncurkan merek baru sepatu produksinya, Inland. Ide pemunculan ini berawal dari keinginan anak laki-lakinya untuk bergabung dalam perkumpulan pencinta alam. Dari hal tersebut, Gun Gun berpikir, mengapa dirinya tidak membuat sepatu atau perlengkapan lainnya untuk pencinta alam.
Tahun 2001, Gun Gun mematenkan tiga merek sepatunya, Batant, Inland, dan Faliq Patent, ke Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Sepatu tersebut dijual ke pasaran dengan kisaran harga Rp 120.000 hingga Rp 245.000 per pasang. Saat ini pun Gun Gun sedang melakukan riset dan pengembangan untuk membuat sol serta upper sepatu. (j11)
3 comments:
wAHHHHHHHH THX BGT INFONYA NIH^^
kebetulan ak lagi mau bikin usaha home industry untuk sepatu THX BERAT yah^^
Kami sebagai penyedia bahan2 untuk keperluan pembuatan Mould/Matras sepatu menawarkan kerjasama dengan perusahan bapak.
Info detail bs dilihat di :
www.gypsummould.com
Kami sebagai penyedia bahan2 untuk keperluan pembuatan Mould/Matras sepatu menawarkan kerjasama dengan perusahan bapak.
Info detail bs dilihat di :
www.gypsummould.com
Post a Comment