Tuesday, September 27, 2005

Entrepreneur | Nazir, dari Bakso ke Rumput Laut

Nazir, dari Bakso ke Rumput Laut

Kompas, Senin, 06 September 2004
Bisnis & Investasi

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/06/ekonomi/1249849.htm

JALAN hidup setiap orang memang sulit ditebak. Bahkan, untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan peningkatan pendapatan, dia harus melewati aneka macam tantangan dan rintangan. Kisah seperti ini juga dialami Mohammad Nazir Daeng Tujuh (36), orang yang melakukan budi daya sekaligus pedagang rumput laut di Dusun Malelaya, Desa Punaga, Kecamatan Mangara Bombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Malelaya termasuk salah satu daerah pesisir yang berjarak sekitar 60 kilometer arah timur Makassar.

Semula, lelaki yang hanya tamat sekolah dasar (SD) ini menjadi penjual bakso di Jalan Petarani, Makassar. Selama dua tahun menekuni profesi tersebut tak juga mampu memberi harapan akan masa depannya yang lebih baik. Mengingat pendapatan bersih dari penjualan bakso yang diperolehnya rata-rata hanya mencapai Rp 15.000 per hari, atau Rp 450.000 per bulan. Sementara itu, biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi keperluan keluarga setiap bulannya terus meningkat, seiring dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Bahkan, seringkali Nazir harus berutang pada teman atau saudaranya hanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan mendadak dari keluarga. "Saat itu saya hampir frustasi menghadapi kenyataan bahwa biaya yang dibutuhkan lebih besar dari pendapatan," kata Nazir.

Berangkat dari keresahan itu, sekitar pertengahan tahun 1994, ayah empat anak itu pulang ke desanya di Punaga. Di sana dia melihat sejumlah warga setempat mulai membudidayakan rumput laut. Aktivitas itu memancing hasratnya untuk ikut melakukan budi daya tersebut. Suami dari Salmawati (25) ini pun akhirnya memutuskan untuk tidak ingin kembali ke Makassar berjualan bakso. Nazir pun mulai banting setir menjadi seorang nelayan budi daya rumput.

Sejak itu mulailah Nazir melakukan budi daya rumput laut. Dua kerbau miliknya seharga Rp 3 juta dijualnya dipakai sebagai modal usaha budi daya rumput laut. Mula- mula dia membudidayakan rumput laut di areal laut berukuran 70 meter x 80 meter. Hasilnya cukup menggembirakan. Sekali panen bisa menghasilkan pendapatan bersih berkisar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta.

Rumput laut tergolong tanaman umur pendek. Hanya dalam kurun waktu 40 hari sampai 45 hari sudah bisa dipanen. Setiap satu ton rumput laut basah (dengan kadar air 98 persen) setelah dijemur selama lima hari dapat menghasilkan kurang lebih 134 kilogram rumput laut kering. Nazir yakin mampu menjual rumput laut yang disyaratkan oleh pabrik atau pedagang pengepul, yakni rumput laut kering dengan kadar air antara 33-35 persen.

Saat ini harga rumput laut di tingkat petani di wilayah Takalar dan sekitarnya terus meningkat. Pada 10 tahun lalu harga rumput laut masih berkisar Rp 1.000-Rp 1.500 per kilogram. Namun, tahun 2000 lalu harganya sudah menjadi Rp 2.000-Rp 2.500 per kilogram. Bahkan, kini harga rumput tersebut berkisar Rp 3.800-Rp 4.000 per kilogram. Harga ini relatif masih rendah karena panjangnya mata rantai pemasaran. Harga pabrik berkisar antara Rp 4.700-Rp 5.000 per kilogram.


SEKALIPUN rumput laut berpeluang mendongkrak kehidupan masyarakat pesisir, namun baru sebagian kecil penduduk di Desa Punaga yang terjun pada usaha pembudidayaan komoditas tersebut. Penyebabnya hanya satu, yakni ketiadaan modal. Berbagai upaya dilakukan masyarakat sekitar, seperti mengajukan kredit kepada perbankan. Namun, hasilnya selalu ditolak, sebab tidak disertai agunan.

Melihat kondisi itu, Nazir pun iba. Dia kemudian menawarkan modal usaha kepada masyarakat setempat yang ingin membudidayakan rumput laut. Modal itu tidak dalam bentuk uang, tetapi bibit, tali rafia, pelampung, dan berbagai fasilitas lain yang dibutuhkan. Syarat yang diberikan Nazir hanya satu, yakni rumput laut yang diproduksi dan sudah dikeringkan harus dijual kepadanya seharga Rp 3.800-Rp 4.000 per kilogram sesuai dengan kualitas. Nazir lalu menjual lagi produk itu kepada eksportir di Makassar seharga Rp 4.700-Rp 5.000 per kilogram.

Dari penjualan itu, penerima kredit modal usaha dari Nazir memperoleh keuntungan bersih Rp 200-Rp 300 per kilogram, karena ongkos produksi setiap kilogram rumput laut rata-rata Rp 3.700 per kilogram.

"Sepintas, pendapatan yang diperoleh para pembudi daya rumput laut sangat kecil, tetapi nyatanya cukup besar. Bibit hanya diberikan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dan November, sebab pada bulan Mei dan Oktober kondisi air laut di sini kurang baik untuk budi daya rumput laut. Sementara itu, dalam setahun mereka bisa memanen empat sampai lima kali. Jadi, keuntungan yang didapat pembudi daya meningkat pada panen kedua dan seterusnya, sebab tak ada lagi beban biaya pengadaan bibit. Bibit yang dipakai diambil dari hasil produksi penanaman pertama," kata Nazir yang tetap berharap diberikan kemudahan kredit dari bank untuk peningkatan usaha para pembudi daya rumput laut.

Kini, Nazir menjadi "bapak angkat" bagi 60 keluarga pembudi daya rumput laut di Dusun Malelaya. Dalam setiap bulan dia selalu mengumpulkan minimal tujuh ton rumput laut kering, lalu dijual ke Makassar. "Setelah dibantu modal dari Nazir, hidup kami menjadi lebih baik. Pendapatan pun meningkat sehingga bisa membeli makanan, memperbaiki rumah, membeli perabotan rumah dan televisi, serta menyekolahkan anak," ujar Ali (35) yang mengaku penghasilan bersih yang diperolehnya bisa mencapai Rp 1 juta per bulan.

Nazir sungguh luar biasa. Pilihannya beralih profesi menggeluti usaha budi daya rumput laut ternyata mampu mendongkrak kehidupan banyak orang. (JANNES EUDES WAWA)

1 comment:

Endi said...

Memang sautu perjalanan untuk menuju kesuksesan harus dari bawah , dari kecil menuju ke yang besar........!!

__________________________________________
Easy money easy job
http://www.newinvestasi.com
Penghasilan sangat menjajikan via kerja di internet.
http://www.go-kerja.com