Titi Sutina, Pembuat Kue Jahe dari Sukabumi
Kompas, Senin, 27 Desember 2004
Bisnis & Investasi
TITI Sutina (64) mengaku bahwa berpangku tangan tidak masuk dalam kamus hidupnya. Sejak suaminya masih aktif sebagai perwira menengah di jajaran kepolisian hingga memasuki masa pensiun, perempuan yang tampak awet muda ini selalu aktif menjalankan usaha produksi kue jahe dan menjual aneka jenis makanan ringan lain.
Pada tahun 1975 perempuan yang memiliki enam anak ini mulai merintis usaha pembuatan bangket jahe setelah berganti-ganti bidang usaha. Modal pembuatan bangket jahe ini berasal dari hasil keuntungan usaha penjualan hasil bumi dan makanan ringan lainnya dan ditambah dengan sisa uang belanja harian dari suaminya.
Usaha ini berawal ketika seorang lelaki yang masih ada hubungan darah dengannya menawarkan untuk membuka usaha pembuatan kue tersebut. Kendati belum pernah mencoba membuat kue itu, Titi menyambut baik tawaran karena ingin membantu ekonomi saudaranya yang saat itu tidak punya pekerjaan tetap.
Saudaranya yang ahli membuat kue jahe menularkan resep pembuatan penganan kering itu kepada Titi. Sebelum membuka usaha pembuatan kue, mereka berulang kali mencoba membuat kue hingga memperoleh resep yang dianggap sesuai dengan lidah konsumen.
Mereka pun mulai memproduksi kue jahe yang ada di satu lokasi dengan tempat pembuatan sukron, makanan ringan khas Sukabumi, dengan mempekerjakan belasan karyawan. Bahan dasar pembuatan bangket jahe itu terdiri dari tepung sagu, gula aren, telur, dan jahe. Semua bahan dasar itu diaduk dan dituangkan ke dalam cetakan kue. Adonan itu lalu dimasukkan ke dalam oven dan dimasak hingga matang. Setelah masak, penganan ini diangin-anginkan hingga kering.
Bahan dasar gula aren membuat warna penganan kering ini menjadi coklat tua. Kue ini berbentuk lonjong dan terdapat rekahan pada bagian tengah. Begitu digigit, rasa jahe langsung terasa di lidah. "Meskipun tanpa bahan pengawet, kue ini bisa tahan sampai tiga bulan. Syaratnya, kue jahe tak boleh terlalu lama terkena angin sehingga harus selalu dibungkus plastik atau ditaruh di dalam stoples yang ditutup rapat," katanya.
Karena belum begitu dikenal masyarakat saat itu, Titi secara aktif memasarkan sendiri kue hasil produksinya itu. Selain dijual di toko miliknya di garasi rumahnya, di daerah Ciaul, Sukabumi, ia juga menitipkan kue buatannya ke sejumlah toko di Sukabumi dan Cianjur. "Saya juga menjajakan ke instansi tempat suami saya bekerja," tuturnya. Kerabatnya membantu mengantarkan kue jahe kepada para pemesan dan menitipkannya ke toko-toko yang ada di wilayah Cianjur, Bogor, dan kawasan selatan Sukabumi dengan menggunakan mobil boks. Dari situ kue jahe buatan Titi semakin dikenal masyarakat sehingga permintaan penganan tersebut mulai mengalir.
Meskipun mulai dikenal, keuntungan yang diperoleh dari penjualan kue jahe itu masih sedikit. Saat kerabat yang semula menggagas pembuatan kue jahe dan menjadi mitra bisnisnya memutuskan untuk berhenti dan memilih bekerja di sebuah proyek bangunan di Jakarta, Titi sempat kelimpungan. Namun, dia tidak patah arang dan bertekad mempertahankan usaha tersebut.
DI tengah kepadatan kegiatan berorganisasi di lingkungan Polres Sukabumi, Titi tetap giat berwirausaha. Jatuh bangun dalam berbisnis sudah menjadi hal biasa baginya. Salah satu pengalaman pahit yang dialaminya adalah musibah kebakaran yang dua kali melanda tempat pembuatan sukron sehingga akhirnya terpaksa ditutup. "Kalau dilanjutkan, saya khawatir seluruh bangunan malah habis terbakar," ujarnya.
Setelah menjalankan usaha selama hampir 30 tahun, kini Titi tidak perlu lagi bersusah payah menitipkan kue jahe ke toko-toko. Ia hanya melayani pembelian penganan itu di tokonya yang terletak di bagian depan rumahnya. "Sekarang anak-anak saya sudah besar dan bekerja di tempat lain, tidak ada yang meneruskan usaha ini. Saya juga harus merawat suami saya yang terserang penyakit stroke sejak beberapa tahun lalu," kata Titi.
Meskipun tidak gencar berpromosi, permintaan kue jahe buatan Titi yang dijual dengan harga Rp 16.000 per kilogram itu terus mengalir. Setiap hari rata-rata omzet penjualannya mencapai lima kilogram kue jahe yang dibungkus dalam aneka kemasan mulai dari kemasan plastik sampai dengan kaleng. Namun, Lebaran lalu volume penjualan tidak terlalu meningkat gara-gara ada larangan bagi para pejabat pemerintah untuk menerima parsel.
Metode penjualan seperti sekarang ini dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan menitipkan kue jahe ke toko-toko. Menurut Titi, saat dititipkan ke toko, kue jahe buatannya sering apkir lantaran banyak kue yang patah dan remuk. Setelah dijual sendiri di tokonya, jumlah kue yang apkir menurun drastis. "Pihak toko kan suka seenaknya naruh barang, tidak hati-hati, sehingga banyak kue yang remuk karena tertindih barang lainnya," ujarnya memaparkan.
Produksi kue jahe saat ini ditangani oleh seorang kerabatnya. Kendati tidak menangani secara langsung proses pembuatan penganan khas itu, Titi mengaku tetap mengontrol kualitas kue tersebut agar pelanggannya tidak lari.
Kendala utama yang dihadapi Titi adalah masalah pemasaran dan kenaikan harga bahan baku, seperti gula aren dan telur. Menurut dia, lonjakan harga bahan baku biasanya terjadi pada saat Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Saat harga bahan baku naik, ia mengaku kesulitan menaikkan harga kue karena akan diprotes pelanggannya sehingga volume penjualan terpaksa diturunkan.
NILAI-nilai kewirausahaan telah tertanam dalam diri Titi sejak usia dini. Naluri bisnis diperoleh dari kakek dan kedua orangtuanya yang dikenal sebagai pedagang hasil bumi di Sukabumi. Anak dari pasangan Mamad dan Mimin itu mengagumi kegigihan kedua orangtuanya yang mampu memasarkan sendiri hasil bumi hingga ke ke kawasan selatan Sukabumi.
Karena tidak ingin membebani kedua orangtuanya, perempuan tamatan Sekolah Menengah Pertama di Sukabumi itu menjalankan usaha kredit barang dengan berkeliling kampung sejak remaja. Tanpa merasa canggung, ia menawarkan dagangannya kepada tetangga dan kenalan. Keluwesannya dalam bergaul membuat usaha itu makin berkembang. Sebelum menggeluti bisnis pembuatan kue jahe, Titi telah berganti- ganti jenis usaha. Selain mengkreditkan barang, ia juga melanjutkan usaha perdagangan hasil bumi di sebuah pasar tradisional di pusat kota Sukabumi.
Kegigihannya dalam berwirausaha tidak meluntur saat perempuan itu beranjak tua. Di usianya yang telah senja ini, Titi masih bersemangat menjalankan usaha pembuatan kue jahe. Ia juga menjual aneka jenis makanan khas, seperti selai pisang, keripik pisang, dan kue semprong. Bahkan, perempuan lincah ini sekarang menjadi distributor sebuah produk makanan ringan. Bertambahnya usia, bagi perempuan kelahiran Sukabumi ini bukan jadi hambatan dalam menggeluti dunia bisnis. (EVY RACHMAWATI)
2 comments:
Halo, nama saya Widya Okta. dari Indonesia, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman untuk sangat berhati-hati karena banyak perusahaan pinjaman penipuan di sini di internet, namun mereka masih asli sekali di antara perusahaan pinjaman palsu.
Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya punya korban jatuhnya penipuan oleh beberapa perusahaan pinjaman online, karena saya membutuhkan pinjaman perusahaan yang jujur.
Saya hampir menyerah tidak sampai saya mencari sebuah nasihat dari seorang teman saya yang disebut saya pemberi pinjaman sangat handal Sandra Ovia Badan Kredit yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar USD 900 juta (Sembilan ratus juta INDONESIAH) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dengan tingkat bunga rendah dari 2%. Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa rekening bank saya dan menemukan bahwa nomor saya diterapkan langsung ditransfer ke rekening bank saya tanpa penundaan atau kekecewaan., Karena saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres .
Yakinlah dan yakin bahwa ini adalah asli karena saya memiliki semua bukti pengolahan pinjaman ini termasuk kartu id, Pinjaman dokumen perjanjian dan semua karya kertas. Saya percaya Ibu Sandra Ovia sepenuh hati karena dia telah benar-benar membantu kehidupan saya. Anda sangat beruntung memiliki kesempatan untuk membaca kesaksian ini hari ini. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan hubungi perusahaan melalui email: (sandraovialoanfirm@gmail.com)
Anda juga dapat menghubungi saya melalui email saya di (widyaokta750@gmail.com) jika Anda merasa sulit atau ingin prosedur untuk memperoleh pinjaman
Sekarang, semua yang saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi cicilan pinjaman bulanan yang saya kirim langsung ke rekening bulanan perusahaan seperti yang diarahkan.
Apakah Anda berpikir untuk mendapatkan bantuan keuangan, yang Anda serius membutuhkan pinjaman mendesak, apakah Anda berpikir untuk memulai bisnis Anda sendiri, Anda berada di utang, ini adalah kesempatan Anda untuk mencapai keinginan Anda karena kami memberikan pinjaman pribadi, pinjaman usaha, dan perusahaan pinjaman, dan segala macam pinjaman pada tingkat bunga 2%, kami menjamin semua klien berharga kami bahwa mereka akan mendapatkan semua pinjaman masing-masing dan menjadi tahun baru dengan senyum di wajah mereka.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kami sekarang melalui email {} gloryloanfirm@gmail.com
Informasi Peminjam:
Nama lengkap: _______________
Negara: __________________
Sex: ______________________
Umur: ______________________
Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: _______
Durasi Pinjaman: ____________
Tujuan pinjaman: _____________
Nomor ponsel: ________
Ibu Glory
Post a Comment